Kisah Nurjanah di Polman, Ditandu Demi Berjuang Hidup Sampai ke RS

Gambar Kisah Nurjanah di Polman, Ditandu Demi Berjuang Hidup Sampai ke RS

Mapos, Polman – Nurjanah, warga Dusun Tanete, Desa Lenggo Kecamatan Bulo, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, terus berjuang demi penyakit yang dideritanya. Ia menderita penyakit tumor rahim.

Akses jalan, bahkan pelayanan kesehatan di desa itu bisa dikatakan belum tersentuh. Desa yang berbatasan dengan Kabupaten Mamasa itu jauh dari perhatian pemerintah setempat.

Kisah ini berawal, Selasa 13 Agustus 2019, pukul 08.00 Wita, bermodalkan batangan bambu, Nurjanah ditandu menuju ke RS Polewali. Jarak tempuh dari desa itu ke RS berkisar 25 kilometer  dengan berjalan kaki.

Nurjanah tentu saja tidak pernah menduga sebelumnya. Derita sakitnyalah kemudian akan menjadi jalan baginya untuk menakar begitu tebalnya nilai kebersamaan dan naluri kepekaan sosial keluarga dan masyarakat disekitar tempatnya tinggal.

Nurjanah mencari titik celah kesembuhan, harapan untuk sembuh serta berjuang melawan penyakitnya membuat Nurjanah semakin kokoh untuk dapat sembuh.

Rasa kebersamaan warga Lenggo kemudian menandu Nurjanah menuju RS di Polewali. Secara bergantian masyarakat yang dilewati dengan setia menunggu di sejumlah titik penantian untuk saling bergantian memandu Nurjanah yang terdiam dalam lesu bersama derita sakit di atas tandu bambu.

Awalnya, Nurjannah diantar  menggunakan kendaraan bermotor sampai di perbatasan Jalan Poros Lenggo. Namun selanjutnya, dia harus ditandu oleh keluarga dan sejumlah warga.

Sebanyak 30 warga kemudian membagi tugas dibeberapa titik jalan untuk bergantian menandu Nurjanah.

Setelah di titik berikutnya, warga bergantian menandu Nurjanah.

“Warga bergantian menandu, ketika tiba di titik berikutnya, maka bergantianlah warga menandu ibu saya,” cerita Ayub anak kandung Nurjanna.

Kata Ayub, perjalanan yang ia tempuh bersama warga dari desanya ke RS sekitar enam jam dengan berjalan kaki dan medan yang menantang.


“Pukul 8.00 pagi saya bersama warga berangkat dan tiba di RS pukul 14.00 Wita,” aku Ayub.

Ayub mengatakan, yang ia syukuri adalah rasa kebersamaan warga hingga kini masih terpupuk. Solidaritas masyarakat Lenggo dari tahun ke tahun selalu terjaga.

“Kalau ada yang sakit warga saling membantu. Mulai dari yang sakit parah dan butuh tindakan medis segera, sampai orang meninggal,” ucap Ayub.

Tiba di RS, tindakan medis pun dilakukan dan tumor di rahim Nurjanah berhasil diangkat.

“Alhamdulillah, suatu kesyukuran operasi pengangkatan tumor rahim ibu saya berhasil dan berjalan lancar dan kini masih dalam tahap pemulihan,” ujar Ayub.

Tapi, ada rasa kegalauan Ayub yang terpancar di wajahnya. Ia berpikir untuk mempersiapakan cara bagaimana ibunya bisa pulang ke rumah dengan kondisi dan medan yang berat. Apalagi pasca operasi yang harus membutuhkan tangan-tangan ahli dalam perawatan.

Desa Lenggo dikenal dengan jalannya yang rusak parah. Jangankan kendaraan roda empat, motor saja sulit untuk bisa melewati jalan di Desa Lenggo dan butuh keahlian khusus mengendarai motor ketika melewati jalan di daerah itu. Karena itu setiap ada warga yang sakit pasti ditandu.

Ayub menambahkan, belum lama ini, tepatnya 12 Agustus 2019, ada warga Lenggo yang meninggal dan harus ditandu, warga sambil berlari memandu almarhumah menuju kerumahnya.

“Kalau orang meninggal kami berlari memandunya. Perih hati melihat saudara apalagi orang tua sendiri yang sangat sulit mendapatkan pelayanan fasilitas kesehatan. Harus ditandu dengan jarak yang jauh, belum lagi kondisi jalan yang terjal dan mandaki yang harus dilalui. Padahal mereka yang sakit segera membutuhkan tindakan medis,” kata Ayub.

Ayub dan ratusan warga Lenggo berharap besar agar pemerintah dengan serius dapat memperbaiki jalan tersebut.

Diakhir harapannya, Ayub menyampaikan, meski desanya terbilang pelosok, ia dan ratusan warga Lenggo sangat mengidamkan bisa tersentuh pelayanan pemerintah seperi jargon yang diusung Pemerintah Polman yakni “Polman Jago”.

“Tentunya “Jago” nya Polman bukan hanya untuk dinikmati oleh mereka yang di perkotaan. Mereka yang di pelosok juga ingin menikmati pelayanan yang baik, agar tidak ada lagi warga yang mengalami hal serupa. Harus ditandu dengan waktu yang lama padahal mereka harus segera membutuhkan pelayananan fasilitas kesehatan,” harap Ayub.

“Semoga di momentum kemerdekaan tahun ini, pemerintah Polman bisa menghadirkan kemerdekaan bagi warga Lenggo. Kemerdekaan dari akses jalan yang baik,” kunci Ayub.

(usman)