Idham Azis: Saya Haramkan Keluarga Memanfaatkan Jabatan Saya

  • 4 Nov 2019
  • Nasional
  • Sudirman Al Bukhori
  • 12108
Gambar Idham Azis: Saya Haramkan Keluarga Memanfaatkan Jabatan Saya

Mapos, Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI menyetujui secara aklamasi Komjen Idham Azis menjadi kapolri. Dia akan menggantikan Tito Karnavian yang ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi menteri dalam negeri.

Idham minta maaf apabila dalam memimpin Korps Bhayangkara nanti punya aturan sendiri, yakni tidak mau menerima anggota Polri menghadap ke rumah dinas di Jalan Pattimura, Jakarta Selatan.

“Mohon maaf, kalau nanti saya berbeda apalagi ketika diberi amanah hanya 14 bulan (jadi Kapolri). Kalau perlu, saya tidak pernah akan menerima anggota di Pattimura. Kalau ada urusan, kau di kantor saja. Kalau ada urusan, kau WA saja. Sama saja,” kata Idham di Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2019.

Karena, Idham sudah mengetahui tujuan mereka menghadap pimpinan diduga ada kepentingan. Biasanya, kata dia, ada tiga keperluan mereka izin menghadap ke Pattimura.

“Karena yang menghadap itu cuma tiga, yakni minta jabatan, mempertahankan jabatan dan/atau minta sekolah,” ujarnya.

Ternyata, ia juga menerapkan aturan itu berlaku untuk anak-anak atau keluarganya. Sebab, ia tidak mau dibilang memanfaatkan jabatan yang diamanahkan itu.

“Saya haramkan untuk urusan itu, saya haramkan bagi keluarga saya. Saya betul tegas untuk itu. Dan bisa cari track record saya. Percayalah, kalau untuk urusan begini, saya tegak lurus,” jelas dia.

Bahkan, Idham tidak membantu anaknya ketika ditilang. Justru, ia memerintahkan kepada petugas untuk menindak anaknya.

“Mohon maaf, anak saya pernah ditilang, tangkap, diproses saya bilang gitu. Saya hanya ingin menunjukkan kau bukan anak siapa, tapi kau harus taat pada aturan main seperti itu,” tandasnya.

Anak masuk Akpol kemauan sendiri

Dia bahkan tidak pernah menghubungi Gubernur Akademi Polisi (Akpol) untuk meloloskan dua anaknya yang masuk Akpol, yakni Ilham Urane Azis dan Irfan Urane Azis.

“Saya tidak mau memberikan mereka fasilitas berlebihan. Menurut saya, mungkin satu-satunya jenderal yang anaknya di Akpol tidak pernah menghubungi Akpol, saya,” kata Idham.

Ilham Urane Azis merupakan anak pertama dari pasangan Idham Azis dan Fitri Handari. Ilham salah satu putra Idham yang mengikuti jejak ayahnya, yakni masuk Akademi Kepolisian (Akpol).

Tapi, Ilham mengaku masuk Akpol atas kemauan sendiri sehingga tidak ada campur tangan dari sang ayah yang merupakan perwira tinggi (Pati) Polri. Saat ini, Idham berpangkat jenderal bintang tiga atau Komisaris Jenderal (Komjen).

“Bagaimana keputusan saya menjadi polisi, seluruhnya adalah keinginan saya,” kata Ilham.

Karena, kata dia, sejak SMA memang mengajukan diri kepada orangtua supaya mempersiapkan masuk ke SMA Taruna Nusantara.

“Semuanya untuk mempersiapkan diri saya menjadi polisi. Figur ayah hanya sebagai motivasi. Tapi, semua keputusan ini adalah keputusan yang saya ambil dan menentukan jalan hidup saya,” ujarnya.

Sementara putrinya bernama Firda Athira Azis mengidolakan sosok ayah, maka tidak menutup kemungkinan anak-anaknya juga akan mengikuti jejak profesi sang ayah sebagai perwira Polri.

“Saya sangat mengidolakan sosok ayah saya, tapi tidak menutup kemungkinan kesamaan profesi. Karena saya lebih melihat pribadi,” ujarnya.

Tanamkan kedisiplinan

Idham selalu menanamkan hal-hal yang prinsip kepada anak-anaknya, terutama menyangkut kedisiplinan dan selalu menerapkan aturan-aturan dalam berkeluarga seperti kerapihan atau aturan lain.

“Yang saya lihat paling menonjol dari ayah adalah prinsip, orang yang sangat memegang teguh pada prinsip. Ayah tanamkan bahwa selalu mengutamakan ibu,” kata putranya bernama Ilham.

Ilham mencontohkan hal yang nyata dialami selama hidupnya. Ketika masih berusia 17 tahun, Ilham betul-betul dilarang mengendarai kendaraan.

“Begitu saya umur 17 tahun, saya punya KTP. Saya baru mulai diberikan pelajaran untuk mengemudi,” ujarnya.

Selain itu, Ilham baru bisa mengendarai kendaraan jika sudah punya SIM (surat izin mengendarai). Nah, selama belum punya SIM sangat dilarang oleh sang ayah.

“Itu adalah bentuk implementasi bapak menegakkan aturan hukum, bahkan di lingkungan keluarga,” ucap dia.

(*)

Baca Juga