Mapos, Mateng – Rahman (67), kakek tua yang menjadi sasaran kebrutalan lima pemuda yang masih tetangganya sendiri itu menyisakan luka serius di kepala dan dadanya.
Polres “Metro” Mamuju dinilai lambat dalam menangani kasus penganiayaan yang menimpa Rahman, warga Desa Parigi Tobadak 4, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat. Pria yang sehari-harinya sebagai petani ini digebuki oleh Amman, Pude, Allin, Addin dan Awal.
Akibat penganiayaan tersebut korban mengalami luka dikepala, dada lebam serta wajah dan pinggangnya. Kondisi korban kritis di RS Mateng.
Kasus yang terjadi pada Senin 19 Februari 2018 lalu itu berlokasi di Tobadak 4. Sudah hampir satu minggu berjalan, kasus tersebut tidak kelar-kelar. Padahal, semua prosedur atau protap sudah dilalui, tapi nyatanya pelaku hingga kini tetap bebas berkeliaran.
Kabarnya, empat pelaku merupakan keluarga dari Bupati Mamuju Tengah.
“Kalau Polres Mamuju mau menegakkan hukum jangan tumpul ke bawah. Masak menangkap pelaku penganiayaan yang sudah jelas dan gamblang kasusnya kok tidak ada kejelasan penanganannya. Apa tidak punya nyali, atau jangan-jangan karena keluarga Bupati,” tandas Nasir anak korban. Senin (26/2/2018).

Nasir harus menahan kecewa. Pasalnya, Polsek Tobadak menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman dan melakukan proses penanganan.
Nasir mengungkapkan bahwa keluarga korban sudah melapor sejak tanggal 19 Februari lalu dan sudah ada pemeriksaan terhadap diri korban. Bahkan visum sudah dimintakan ke rumah sakit.
“Beberapa saksi juga sudah dimintai keterangan. Alat bukti sudah lengkap namun pelaku tidak diamankan,” ujar Nasir.
“Unsur sudah memenuhi. Kalau sekarang masih dalam proses, apanya yang diproses lagi,” bebernya.
Kronologi kejadiannya, kata Nasir, berawal dari istri Amman yang menanam jagung di lokasi milik Rahman (korban) tanpa sepengetahuan pemilik lokasi. Padahal di lokasi itu telah ditanami sawit yang telah berumur 1 tahun.
Korban yang hendak melihat pertumbuhan tanaman sawitnya mendatangi lokasinya. Setibanya dilokasi, korban kaget dan heran, sawit yang ditanamnya tidak ada, yang nampak hanya tanaman jagung.
Korban sempat menanyakan kepada istri Amman yang pada saat itu berada dilokasinya sedang membersihkan tanaman jagung. Kata korban kemana sawitku, siapa yang cabut. Namun pertanyaan korban tidak dihiraukan oleh istri Amman hingga terjadi percekcokan.
“Dari kejadian itu, istri pelaku melapor ke suaminya prihal tersebut. Dan keesokan harinya terjadilah pengeroyokan yang dilakukan oleh lima pemuda itu dan satu pelaku atas nama Amman telah menyerahkan diri, empatnya masih bebas berkeliaran,” ungkap Nasir.
Hal sedana juga dikatakan oleh Lina, anak korban.
Ia menuturkan, kelima pelaku itu berperan dalam pengeroyokan kepada bapaknya.
“Dua orang memegang tangan bapak saya, satunya memegang tangan kanan dan satunya lagi memegang tangan kiri, sementara ketiganya bergantian memukul dari arah depan dan belakang,” kata Lina dengan nada sedih.
(wahid)






