Sumpah Pemuda dan Gelombang Ketiga Indonesia: Dari Revolusi Identitas Menuju Revolusi Anggaran

Oleh: Hajrul Malik*

Menjelang peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026, saya ingin mengajak kita semua duduk sejenak dan membaca ulang sejarah kebangkitan bangsa ini. Bukan sekadar rutinitas tahunan untuk bernostalgia, tapi untuk jujur membaca arah: ke mana sebenarnya Republik dan daerah yang kita cintai ini sedang melangkah?

Ada satu pertanyaan mendasar yang selalu mengusik pikiran saya. Mengapa pada tahun 1928, ketika Indonesia bahkan belum berwujud sebuah negara merdeka, sekelompok anak muda dari berbagai penjuru Nusantara bisa merumuskan gagasan sesolid dan seberani itu? Satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa persatuan.

Mereka tak punya kekuasaan eksekutif, tak memegang anggaran, tak menguasai konglomerasi bisnis, dan hidup di bawah tekanan penuh kolonialisme. Tapi mereka memegang modal terpenting yang menentukan sejarah: kemampuan membaca zaman dan keberanian membayangkan masa depan. Sejarah akhirnya mencatat, dari imajinasi dan ketajaman berpikir anak-anak muda itulah fondasi Republik ini tegak berdiri.

Tahun 2014 lalu, Guru saya Anis Matta menerbitkan buku Gelombang Ketiga Indonesia: Peta Jalan Menuju Masa Depan. Buku itu memberikan kacamata yang sangat jernih dalam membaca sejarah kita melalui tiga transisi besar. Kalau kita amati dinamika geopolitik global dan tantangan daerah hari ini, gagasan Gelombang Ketiga itu bukan cuma relevan, tapi terasa kian mendesak untuk kita bedah.

Sumpah Pemuda: Revolusi Cara Berpikir

Dalam catatan Anis Matta, gelombang pertama adalah fase “Menjadi Indonesia”.

Sebelum nama Indonesia disepakati, Nusantara adalah jalinan kerajaan, kesultanan, dan beragam suku dengan ikatan primordial masing-masing. Sriwijaya dan Majapahit pernah membangun pengaruh luar biasa. Mahapatih Gajah Mada bahkan sudah mencetuskan persatuan lewat Sumpah Palapa pada abad ke-14, meski dalam lanskap ekspansi kekuasaan, belum nasionalisme modern.

Berabad-abad setelahnya, penderitaan di bawah penjajahan melahirkan nasib dan kesadaran bersama. Hadirnya pendidikan modern mencetuskan lahirnya kelas terdidik baru. Budi Utomo lahir di 1908, disusul gerakan pemuda yang makin mengkristal. Kongres Pemuda I (1926) dan II (1928) menjadi titik kulminasi sejarah.

Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, hingga Jong Islamieten Bond datang membawa identitas kedaerahan masing-masing. Namun saat melangkah keluar dari ruangan kongres, mereka membawa pulang satu identitas baru yang jauh lebih besar: Bangsa Indonesia.

Sosiolog Benedict Anderson menyebut ini sebagai imagined community: sebuah komunitas politik yang dibayangkan dan diperjuangkan bersama. Ernest Gellner pun menegaskan bahwa nasionalisme adalah anak kandung dari modernitas. Indonesia tidak lahir cuma karena kesamaan genetik atau garis keturunan, melainkan karena pergeseran kesadaran sosial dan politik.

Di sinilah letak saripatinya: Sumpah Pemuda adalah sebuah revolusi cara berpikir. Dari jebakan paham kedaerahan yang sempit menuju kesadaran kebangsaan yang inklusif. Puncak dari Gelombang Pertama ini meledak saat Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Dari “Menjadi Indonesia” Menuju Negara-Bangsa Modern

Kemerdekaan membawa kita masuk ke Gelombang Kedua: konsolidasi membangun negara-bangsa modern (nation-state).

Jika gelombang pertama menjawab “siapa kita?”, maka gelombang kedua memeras keringat untuk menjawab “bagaimana negara ini harus diatur dan dibangun?”. Sejak 1945, bangsa ini melewati pasang surut pencarian sistem politik dan ekonomi yang pas. Perdebatan ideologi, penguatan konstitusi, stabilitas keamanan, hingga peletakan fondasi institusi negara mewarnai perjalanan panjang tersebut di tengah suasana Perang Dingin dunia. Indonesia bertahan dengan politik luar negeri bebas-aktif.

Lalu Reformasi 1998 meletus, membuka kran keterbukaan, desentralisasi, dan demokratisasi secara masif.

Namun, sejarah tak pernah bergerak dengan garis patah yang kaku. Gelombang ketiga tidak lahir secara instan hanya karena pergantian rezim. Ia tumbuh dari metamorfosis demografi, pergeseran budaya, dan penetrasi teknologi global. Reformasi 1998 adalah pintu transisi penting menuju gelombang baru tersebut.

Gelombang Ketiga dan Geopolitik Multipolar

Gelombang ketiga digerakkan oleh perpaduan antara globalisasi dan kebangkitan Asia di tingkat eksternal, serta ledakan demografi dan perubahan karakter budaya di tingkat internal.

Hari ini kita berhadapan dengan generasi baru. Generasi yang makin terdidik, melek teknologi, dan terbiasa dengan iklim terbuka. Mereka tak bisa lagi didikte oleh pola pikir politik romantisme masa lalu.

Relevansi Gelombang Ketiga ini kian menebal saat kita menatap dinamika dunia hari ini. Konflik Rusia-Ukraina mengguncang Eropa. Ketegangan di Asia Barat antara Iran, AS, dan Israel, hingga konflik regional di kawasan Teluk, menunjukkan betapa ringkihnya tatanan lama.

Namun lihat dinamika menarik belakangan ini. Pertemuan diplomasi di Teheran yang melibatkan Iran, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan untuk membicarakan keamanan kawasan menunjukkan satu hal: dunia sedang bergeser ke arah multipolar. Negara-negara di berbagai kawasan mulai mengambil kendali penuh atas nasib dan keamanan regional mereka tanpa terus-menerus bergantung pada dikte kekuatan adidaya.

Dunia sedang menata ulang pusat-pusat kekuatannya. Asia memegang peran kunci. Dalam peta baru ini, Indonesia punya posisi tawar luar biasa: populasi besar, letak geostrategis, sumber daya melimpah, dan modal diplomasi bebas-aktif.

Cita-cita menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari 5 kekuatan besar dunia bukanlah sekadar retorika jualan politik. Itu hanya bisa dicapai dengan penguasaan sains, teknologi, kekuatan ekonomi, institusi yang bersih, serta kepemimpinan yang bervisi. Pertanyaannya: apakah anak-anak muda kita sudah siap mengambil peran itu?

Pemuda 1928 Membangun Identitas, Pemuda Sekarang Harus Membangun Gagasan.

Dalam konsepsi Anis Matta, ada empat fondasi cara berpikir yang wajib dimiliki untuk mengarungi Gelombang Ketiga:

* Arsitektural: Melihat persoalan secara utuh, makro, dan terstruktur.

* Fungsional: Berorientasi pada hasil, eksekusi nyata, dan dampak langsung.

* Eksperimental: Berani menguji gagasan baru, berinovasi, dan belajar dari kegagalan.

* Kreatif: Mampu mensintesiskan berbagai disiplin ilmu menjadi solusi konkret.

Empat karakter ini adalah syarat mutlak bagi gerakan pemuda hari ini.

Kita hidup di era di mana informasi berlimpah ruang, tapi kedalaman berpikir justru makin langka. Media sosial memberi panggung bagi siapa saja untuk bersuara, tapi bersuara keras tidak otomatis berarti membawa solusi.

Pergerakan anak muda akan selalu punya daya dorong besar. Tapi kita harus bisa membedakan antara kemampuan memobilisasi massa dengan kemampuan membangun sistem. Kemarahan bisa menyulut perlawanan, tapi perubahan yang sustain hanya bisa dilahirkan dari gagasan yang matang, riset yang kuat, dan kedewasaan sikap.

Saya ingin melihat pemuda Indonesia, khususnya di Sulawesi Barat ini tidak cuma berhenti sebagai pressure group atau kekuatan penekan di jalanan. Pemuda harus mentransformasi dirinya menjadi kekuatan intelektual dan solusi.

Kritik kepada pemerintah adalah hak demokratis yang sah. Tapi kelas pergerakan akan naik tingkat ketika kritik itu datang berbarengan dengan draf kebijakan alternatif, hasil riset, model bisnis baru, atau karya nyata yang bisa dirasakan warga.

Jika pemuda 1928 menuntaskan tugasnya lewat revolusi identitas, maka tugas pemuda zaman ini adalah memimpin revolusi gagasan.

Sulawesi Barat Membutuhkan Pergerakan Berbasis Gagasan

Kalau kita tarik ke tanah kelahiran kita, Sulawesi Barat, tantangan ini ada di depan mata.

Sulbar ini dianugerahi kekayaan alam yang melimpah: kakao, kelapa sawit, potensi kelautan, kehutanan, hingga energi dan mineral serta mineral khusus seperti Ligam Tanah Jarang, uranium dan thorium. Tapi masalah utama kita bukan sekadar berapa banyak hasil bumi yang bisa kita petik, melainkan bagaimana kita menciptakan nilai tambah (added value) dan kesejahteraan yang merata serta berkelanjutan.

Di mana posisi gerakan pemuda Sulbar dalam menjawab soal ini?

Mengapa organisasi pemuda, OKP, dan BEM tidak menjadikan sekre atau kampusnya sebagai laboratorium pemikiran? Mari kita diskusikan secara tajam: bagaimana strategi hilirisasi kakao lokal, bagaimana meningkatkan produktivitas petani kita, bagaimana mendorong digitalisasi UMKM daerah, atau bagaimana mengelola potensi energi terbarukan di tanah Sulbar.

Saya merindukan ruang-ruang dialog antara pemuda dan pemerintah daerah yang isinya bukan lagi soal bagi-bagi porsi atau adu kekuatan fisik, melainkan adu presisi gagasan.

Di era Gelombang Ketiga, kemajuan sebuah daerah tidak lagi diukur semata dari seberapa kaya tanahnya, tapi dari seberapa tinggi kualitas manusianya dalam mengolah ilmu pengetahuan menjadi kemakmuran bersama. Ini sejalan betul dengan agenda Panca Daya Pemprov Sulbar, khususnya dalam melahirkan SDM yang unggul dan berkarakter.

Membangun Peradaban dari Sulbar

Sosiolog Karl Mannheim pernah menyampaikan bahwa sebuah generasi tidak didefinisikan sekadar dari tahun lahirnya, melainkan dari pengalaman sejarah (historical momentum) yang mereka respon bersama.

Pemuda 1928 merespon kolonialisme. Pemuda 1945 merespon panggilan mempertahankan kemerdekaan. Pemuda 1966 dan 1998 merespon krisis politik dan otoritarianisme.

Hari ini, pemuda 2026 sedang diuji oleh disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi global, kompetisi digital, dan perubahan tatanan dunia. Tantangannya bukan lagi mendefinisikan “siapa Indonesia”, tapi membuktikan seberapa berdaya saing bangsa ini di pentas dunia.

Jangan sampai anak muda hari ini hanya terjebak dalam romantisme sejarah pergerakan masa lalu tanpa melahirkan karya baru. Kalau pemuda 1928 sanggup membayangkan Indonesia berdiri padahal negaranya belum ada, maka pemuda hari ini harus sanggup membawa Indonesia dan Sulbar menjadi kekuatan yang diperhitungkan.

Sejarah pada akhirnya tidak pernah mencatat siapa yang paling nyaring berteriak, melainkan siapa yang paling tekun mengeksekusi gagasannya menjadi kenyataan.

Dari Sulawesi Barat, mari kita dorong lahirnya anak-anak muda yang kokoh idealismenya, tajam pikirannya, matang moralnya, dan nyata karyanya untuk masyarakat. Sebab masa depan daerah dan bangsa ini tidak dibangun cuma dengan otot dan keberanian, tapi dengan kekuatan ilmu, jernihnya gagasan, dan tulusnya pengabdian.

Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

Pemuda 1928 telah mewariskan sebuah bangsa kepada kita. Kini saatnya kita mewariskan sebuah peradaban bagi generasi mendatang.

(***)

 

 

*Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat, Wakil Ketua IKAL Lemhannas Sulawesi Barat
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...