Pancasila : Ilham Kebangkitan Menuju Indonesia Super Power

Oleh : Hajrul Malik *

Mapos, TANGGAL 1 Juni 2026 kembali mengingatkan kita pada sebuah momen bersejarah: lahirnya Pancasila. Bukan sekadar tanggal dalam kalender nasional, tetapi titik temu antara langit ilham dan bumi perjuangan. Di hari itulah, melalui pemikiran besar Soekarno dan para pendiri bangsa, Indonesia menemukan ruhnya.

Pancasila bukanlah produk ruang kosong. Ia lahir dari pergulatan sejarah, penderitaan panjang penjajahan, serta perenungan mendalam tentang masa depan sebuah bangsa yang majemuk. Para pendiri bangsa tidak hanya berpikir tentang bagaimana merdeka, tetapi bagaimana hidup bersama setelah merdeka.

Di situlah Pancasila hadir bukan sekadar gagasan persatuan, melainkan ilham peradaban.

Lima sila yang dirumuskan bukan hanya kompromi politik, tetapi kristalisasi nilai-nilai luhur yang hidup dalam denyut nadi rakyat Nusantara: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Ia menjadi fondasi moral sekaligus arah perjalanan bangsa.

Lebih dari itu, Pancasila adalah ruh kebangkitan.

Ia menghidupkan kesadaran bahwa bangsa ini tidak dibangun atas keseragaman, tetapi keberagaman yang dipersatukan oleh nilai. Ia menegaskan bahwa kekuatan Indonesia bukan hanya pada sumber daya alamnya, tetapi pada karakter dan jati dirinya sebagai bangsa yang beradab.

Hari ini, ketika dunia memasuki era kompetisi global yang semakin keras, Pancasila menemukan relevansinya kembali. Ia bukan hanya warisan masa lalu, tetapi peta jalan menuju masa depan.

Jika dikelola dengan sungguh-sungguh, nilai-nilai Pancasila dapat menjadi fondasi Indonesia untuk bangkit sebagai kekuatan baru dunia sebuah negara superpower yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan militer, tetapi juga unggul secara moral dan peradaban.

Superpower yang berakar pada Ketuhanan, bukan sekadar kekuasaan.
Superpower yang menjunjung kemanusiaan, bukan eksploitasi.
Superpower yang memperkuat persatuan, bukan perpecahan.
Superpower yang mengedepankan musyawarah, bukan dominasi.
Dan superpower yang menghadirkan keadilan sosial, bukan kesenjangan.

Inilah keunikan Indonesia.

Di tengah dunia yang sering kehilangan arah nilai, Pancasila menawarkan jalan tengah: keseimbangan antara spiritualitas dan modernitas, antara kebebasan dan tanggung jawab, antara kemajuan dan keadilan.

Namun, semua itu tidak akan terwujud tanpa kesadaran kolektif.

Pancasila tidak cukup dihafal, ia harus dihidupkan. Tidak cukup diperingati, ia harus diamalkan. Tidak cukup dijadikan simbol, ia harus menjadi sistem dalam kebijakan, pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial kita.

Momentum 1 Juni 2026 ini seharusnya menjadi titik refleksi sekaligus titik tolak.

Bahwa kita tidak sedang berjalan tanpa arah. Bahwa kita memiliki kompas yang jelas. Dan bahwa masa depan Indonesia sebagai kekuatan besar dunia bukanlah mimpi kosong melainkan kemungkinan yang sangat nyata, jika kita kembali setia pada Pancasila.

Selamat Hari Lahir Pancasila.

Mari kita jaga, kita hidupkan, dan kita jadikan ia sebagai energi kebangkitan menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan menjadi cahaya bagi dunia.

(***)

 

* Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...