Oleh : Hajrul Malik *
Mapos, HARI ini, gerbong mutasi mulai bergerak perlahan. Masih terbatas, dan sementara ini baru menyentuh eselon III.
Tidak besar, tidak masif, namun cukup memberi tanda bahwa proses penataan birokrasi sedang berjalan. Ini bukan langkah yang perlu disikapi dengan kegaduhan, melainkan bagian dari ritme organisasi yang memang terus berbenah.
Di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, pergerakan mutasi ini adalah tahap awal dari restrukturisasi kelembagaan. Tujuannya jelas: memperkuat tata kelola pemerintahan agar lebih rapi, lincah, dan adaptif terhadap kebutuhan pelayanan publik. Sejalan dengan misi kelima Panca Daya Sulbar: tata kelola pemerintahan yang baik.
Sejak awal, pasangan Suhardi Duka – Salim S. Mengga telah menyampaikan komitmen melakukan restrukturisasi OPD. Bahkan jauh sebelum isu efisiensi anggaran menjadi pembahasan luas. Perampingan kelembagaan dirancang agar organisasi Pemprov menjadi lebih atletis tidak gemuk struktur, tetapi kuat fungsi.
Membaca Tahap Awal dengan Sikap Dewasa
Karena baru menyentuh eselon III, fase ini sejatinya adalah masa penyesuaian awal. Dalam psikologi organisasi, perubahan yang dilakukan bertahap justru memberi ruang adaptasi yang lebih sehat baik bagi individu maupun sistem.
Di sinilah mentality shift diperlukan. Dari reaksi emosional menuju sikap profesional. Dari sibuk bertanya soal posisi, menuju kesiapan menjalankan peran.
Siapa berada di posisi mana tentu melalui sejumlah pertimbangan. Namun satu hal yang konsisten menjadi penekanan adalah pendekatan profesional. Kinerja, integritas, dan kesiapan bekerja dalam struktur baru menjadi ukuran utama. Jabatan bukan kepemilikan pribadi, melainkan amanah yang mengikuti kebutuhan organisasi.
Menjaga Ketenangan di Tengah Perubahan
Meski masih terbatas, perubahan tetap menyentuh sisi psikologis. Karena itu, menjaga ketenangan batin sama pentingnya dengan menjaga kualitas kerja. Dalam suasana seperti ini, doa Nabi Nuh AS terasa relevan doa seorang pelaut yang paham bahwa perjalanan tidak selalu tentang kecepatan, tetapi tentang keberkahan saat berlabuh.
رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ
“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkaulah sebaik-baik Yang memberi tempat.”
(QS. Al-Mu’minun: 29)
Doa ini mengingatkan kita bahwa yang utama bukan cepat berpindah, tetapi berkah dalam setiap penempatan.
Hari ini, gerbong mutasi memang baru bergerak pelan dan terbatas di eselon III. Belum perlu ditafsirkan terlalu jauh.
Tetap bekerja dengan tenang, tetap bersyukur dalam posisi apa pun. Karena dalam psikologi kebahagiaan, sikap menerima dan rasa syukur adalah fondasi paling kokoh untuk menghadapi perubahan kecil maupun besar.
(***)






