Wabup Majene : Mari Lestarikan Budaya Lewat Perahu Sande’

Olahraga

Mapos, Majene – Wakil Bupati Majene (Wabup) Lukman Nurman mengajak seluruh masyarakat Majene untuk melestarikan budaya nenek moyang masyarakat Mandar melalui Perahu Sande’.

Pemenang Piala Bupati Cap Lomba Segi Tiga Perahu Sande’ di Pantai Labuang Majene foto : Ist

“Undangan dan hadirin sekalian, mengawali sambutan ini, saya mengajak saudara sekalian, marilah kita selalu melestarikan budaya dan warisan nenek moyang kita, salah satunya adalah Perahu Sande’ yang sudah mulai tergeser dengan keberadaan perahu motor,” tutur Lukman Nurman sesaat sebelum melepas lomba segitiga Perahu Sande’ di Pantai Labuang Kelurahan Labuang Kecamatan Banggae Timur Minggu (5/8/2018).

Perahu atau Lopi Sande’ katanya, adalah perahu tradisional masyarakat Suku Mandar yang mendiami pesisir barat Sulawesi. “Pelaut Suku Mandar dikenal sebagai pelaut ulung dengan keberaniannya mengarungi samudera dengan menggunakan Perahu Sande’ yang mengandalkan angin dalam berlayar,” tutur Lukman Nurman.

Dihadapan Ketua DPRD Majene, Wakil Ketua DPRD Majene, Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Majene, Dandim 1401 Majene Kapolres Majene, Kajari Majene, Ketua Pengadilan Negeri Majene, Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Majene, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Majene, Kepala Rutan Kelas II b Majene, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Majene, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Majene, para Asisten, staf ahli lingkup Pemerintah Kabupaten Majene, para Kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Majene, para Pimpinan Perbankan lingkup Kabupaten Majene dan undangan lainnya, Lukman mengatakan, penamaan Perahu Sande’ berasal dari kata Sande’ yang berarti runcing. Sesuai dengan bentuk Perahu Sande’ yang runcing di bagian haluan dan buritan yang dalam bahasa Mandarnya disebut paccong.

“Perahu Sande’ ada sejak tahun 1930. Dahulu, Perahu Sande’, selain digunakan untuk mencari ikan, juga digunakan sebagai alat transportasi laut utama untuk mengirim bahan pangan dan lainnya, misalnya gabah, kapur, madu, dan sarung sutra ke berbagai daerah di seluruh nusantara,” Lukman Nurman mengisahkan,

Seiring dengan perkembangan zaman, lanjutnya masyarakat nelayan saat ini enggan untuk menggunakan Perahu Sande’ untuk mencari ikan. Hal ini disebabkan karena Perahu Sande’ hanya mengandalkan angin dalam berlayar sehingga
masyarakat saat ini lebih memilih perahu motor yang efisien dalam mencari ikan.

“Olehnya itu, kewajiban pemerintah Kabupaten Majene untuk melestarikan Perahu Sande’ sebagai warisan leluhur. Salah satunya adalah dengan digelarnya lomba segitiga perahu sandeq Bupati Cup Tahun 2018 yang berlangsung di pantai Labuang sebagai rutinitas kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Agustus sekaligus dirangkaikan dengan hari jadi Kabupaten Majene yang ke 473,” beber Lukman.

Dia menyebut, pada tahun ini, lomba segitiga Perahu Sande’ akan diikuti oleh 13 Perahu Sande’ yang berasal dari Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewali Mandar.

“Semoga dengan digelarnya lomba Perahu Sande’ ini, dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Majene yang pada akhirnya dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Majene sehingga kesejahteraan Masyarakat Majene dapat lebih ditingkatkan lagi sesuai dengan Visi Kabupaten Majene yakni Majene Profesional, Produktif dan Proaktif (MP3),” tegas Lukman Nurman seraya berharap semoga dapat memacu semangat kita dalam melestarikan warisan nenek moyang masyarakat Mandar terkhusus di Kabupaten Majene.

(ipunk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *