Titik Longsor Trans Sulawesi Dijadikan Tempat ‘Pak Ogah’

Peristiwa

Mapos, Majene – Titik Longsor di Labuang Kelurahan Mosso Kecamatan Sendana yang juga merupakan trans Sulawesi jalur lintas Barat dijadikan tempat kumpul ‘Pak Ogah’

Istilah Pak Ogah atau Polisi Cepek dalam bahasa Belanda: voorijder, Polisi pembuka jalan adalah orang-orang random yang berusaha ‘mengatur’ lalu lintas dengan imbalan uang seikhlasnya dari pengguna jalan.

Seperti dilansir dari wikipedia, mereka umumnya dari kalangan masyarakat kelas bawah ini memiliki motif yang beragam – murni membantu kelancaran lalu lintas dan pengguna jalan, namun bisa juga malah melanggar aturan-aturan jalan raya demi uang.

Hal ini disayangkan, lantaran titik longsor di beberapa titik di Kabupaten Majene tidak segera ditangani oleh pemerintah.

Titik longsor yang hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat itu dimanfaatkan oleh anak muda setempat untuk meminta recehanan kepada pengendara yang melintas.

Titik Longsor Trans Sulawesi Dijadikan Tempat ‘Pak Ogah’

Dari pantauan, nampak sekitar delapan atau sembilan pemuda melakukan buka tutup jalur sambil menyodorkan kotak mie instan untuk diisi uang oleh pengendara.

Salah seorang pengendara, Iwan Rabu (14/3/2018) mengatakan, kondisi jalan yang gelap dan jauh dari permukiman warga bisa memicu persoalan baru.

Tidak tertutup kemungkinan, jika pengendara tidak memberi uang, maka Pak Ogahnya akan berbuat hal-hal yang tidak diinginkan.

Lebih jauh kata Iwan, titik longsor yang ada di Kabupaten Majene terkesan dibiarkan oleh pihak Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Wilayah Sulbar lantaran material longsor di atas badan jalan lintas Barat trans Sulawesi tak kunjung disingkirkan.

“Tinggal diambilkan eksavator atau alat berat, selesai masalah. Ini koq malah dibiarkan berhari-hari bahkan minggu,” sesal Iwan.

Hingga berita tayang belum satupun pihak terkait berhasil dikonfirmasi.

(ipunk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *