Tangkal Aksi Teror dengan Kontra Radikalisme dan Deradikalisasi

Mamasa

Mapos, Mamasa – Dalam menangkal aksi terorisme yang berawal dari penyebaran paham radikal pemerintah melakukan beragam cara.
Mulai dari langkah kontra radikal hingga deradikalisasi.

Kontra radikal yaitu dengan memberikan benteng kepada orang-orang yang belum terpapar atau terkontaminasi paham ekstrem tersebut.

“Kontra radikal yaitu kita beri imunisasi melalui ceramah, seminar, dan diskusi. Sehingga mereka memiliki imun ketika ada paham paham radikal yang mencoba masuk,” ujar AKP Subdit 1/Kamneg Dit. Reskrimum Polda Sulbar, AKP Syamsuriyansah saat memberikan edukasi dan pemahaman bahaya radikalisme dan terorisme pada kegiatan Konsultasi Wilayah VIII yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia di aula GTM Kabupaten Mamasa, Selasa (8/5/2018).

Menurutnya, kita juga membutuhkan anak muda agar generasi muda tahu bagaimana cara menangkal paparan paham tersebut. Kita paham, anak muda akan lebuh mudah paham dan mengerti ketika kita menyampaikan dengan cara anak muda juga.

Syamsuriyansah menjelaskan, infiltrasi kelompok radikal di kampus patut diwaspadai. Kegiatan di kampus yang dilakukan secara eksklusif atau tertutup dan dilaksanakan pada waktu yang tidak normal itu perlu diwaspadai. Kelompok ini, menurutnya, memberikan doktrin radikal dengan mencari waktu di luar jam kampus.

Olehnya itu, mendorong generasi muda untuk selalu waspada terutama di dunia maya. Ia mengajak generasi zaman now untuk lebih selektif dan teliti terhadap berbagai konten di dunia maya.

“kita saat berada di dunia internet yang bisa mendapatkan informasi dan data apapun. Sebenernya kids jaman now bisa menyaring mana informasi yang sebenarnya atau tidak dengan cara mencari tahu kebenaran berita di media – media yang jelas.

Indonesia, menurutnya, merupakan negara yang beragam suku agama. Bangsa ini akan dapat meraih kesuksesan apabila dapat menjalin dan menjaga persatuan.

“Indonesia adalah negara yang berkesatuan dan memiliki nilai budi pekerti yang tinggi.”pungkasnya.

Sementara deradikalisasi diberikan kepada mereka yang sudah terpapar paham radikal. Yakni kepada narapidana terorisme dan mantan narapidana terorisme.

Menurut Syamsuriyansah tahap deradikalis‎asi lebih sulit dibandingkan kontra radikalisme.

“Lebih mudah kontra radikalisme. Kalau deradikalisasi harus punya pendekatan tertentu,” ujarnya.

Syamsuriyansah mencontohkan seperti memberitahu larangan atau bahaya meminum minuman keras.

Ada yang diberitahukan dari aspek agama, kesehatan, maupun lingkungan sosial.

‎”Deradikalisasi tergantung treatmen mana yang cocok, tidak semua sama. Contohnya orang minum minuman keras (Miras),‎ ada yang diberitahu atau diingatkan bagaimana jika ketahuan istri atau anak, ada juga yang diberitahukan minuman keras akan merusak tubuh, dan ada juga yang diperingati minuman keras itu haram. Itu beda beda bagi setiap orang, tergantung karakter orangnya,” kata Syamsuriyansah.

Turur hadir dalam kegiatan tersebut yakni, Wadir Binmas AKBP Setiyo, perwakilan Kabupaten Mamuju, Palopo, Makassa dan Kabuoaten Mamasa dengan jumlah peserta kurang lebih 70 orang.

(toni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *