Tak Peduli Nasib Petani, Ratusan Warga Datangi PT. Unggul

Peristiwa

Mapos, Pasangkayu – Tak peduli dengan nasib para petani dan sopir, ratusan warga yang tergabung dalam Masyarakat Petani dan Aliansi Sopir TBS melakukan aksi demo ke kantor PT Unggul Widya Tehnologi Lestari di Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Rabu (1/8/2018).

Kedatangan mereka hendak menuntut penggantian oknum karyawan yang dianggap terlibat kongkalikong terhadap kelompok tani.

Didepan kantor PT. Unggul, massa melakukan orasi secara bergantian.

Aksi tersebut mendapat pengawalan ketat dari Kepolisian dan TNI.

Ada beberapa tuntutan para massa diantaranya, meminta agar karyawan yang berada di pabrik Agro Baras PT. Unggul diganti dan diturunkan dari jabatannya karena diduga terlibat bermain mata dengan beberapa kelompok tani sehingga membuat buah kelapa sawit milik warga yang hendak masuk ke pabrik mengalami antrian hingga dua hari.

“Yang membuat kami marah pak, kami sudah berjam-jam mengantri. Malahan ada kelompok tani yang dibelakang dilayani duluan. Padahal kami yang lebih dulu mengantri,” ujar sejumlah warga yang demo.

Akibat antrian yang terlalu lama, warga mengalami kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

“Buah kami banyak yang busuk pak, gara-gara antri selama dua hari, sedangkan perusahan tidak mau menerima kalau buah yang sudah rusak dan busuk,” katanya.

Kapolres Mamuju AKBP Made Ary Pradana memediasi pihak manajemen dan petani.

Kapolres Matra, AKBP Made Ary Pradana yang berada dilokasi kemudian melakukan langkah persuasif dengan menenangkan para massa dan melakukan langkah mediasi antara pihak perusahan dan warga yang berdemo.

Langkah mediasi pun terjalin, enam perwakilan dari warga kemudian diterima oleh pihak perusahan dan disepakati dua point inti yakni penyelesaian antrian kendaraan dan penyortiran buat kelapa sawit.

Setiap persoalan bila dibicarakan baik-baik pasti menemui solusi,” ujar Humas PT Unggul Widya Tehnologi Lestari, H. Guntur.

Soal tuntutan warga mengenai pergantian manajer pabrik, kata H. Guntur, itu semua harus melalui persetujuan pihak manajemen. Namun ia berjanji akan tetap menindaklanjuti tuntutan tersebut ke perusahan.

“Saya akan telusuri oknum orang dalam yang suka bermain mata itu. Ini sangat merugikan petani dan sopir. Kasihan mereka, kok dimainkan seperti itu hingga mengalami kerugian besar,” kata H. Guntur.

Ditempat yang sama, koordinator aksi, M Dahlan mengatakan, dua tuntutan diterima dengan baik oleh pihak perusahan.

Selain itu juga pihak perusahan akan melakukan investigasi terkait adanya dugaan keterlibatan oknum karyawan yang bermain mata dengan kelompok tani sehingga masyarakat dan sopir menjadi korban serta mengalami kerugian besar.

(joni tonapa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *