Seorang Guru Ngaji Diduga Bawa Kabur Istri Orang

Peristiwa

Mapos, Mamuju¬†–¬†Bagai kacang lupa kulitnya. peribahasa itu bisa menggambarkan kondisi kebatinan Mail, warga Anjoro Pitu, Mamuju. Istrinya, Hamida diduga dibawa kabur oleh Zaman, pria yang dikenal sebagai seorang guru mengaji di lingkungannya.

Parahnya, Mail sudah menganggap Zaman seperti saudara sendiri. Zaman adalah warga Jalan Husni Thamrin, Mamuju. Selain aktif mengajar baca tulis Alquran, ia sehari-hari juga beraktivitas sebagai bujang sekolah di SDN Padang Baka, Mamuju.

Dari penuturan Mail, setiap selesai mengajar ngaji, Zaman acap kali bertandang ke rumahnya. Di sana, Zaman biasanya beristirahat sebelum pulang ke rumahnya.

“Pokoknya kaya saudara. Apa biar siang datang juga,” kata Mail.

Hampir dua tahun, rutinitas itu dilakoni Zaman. Mail pun menduga, di titik itulah benih-benih cinta terlarang antara Zaman dan Hamida kian bersemi.

Ismail memang jauh hari sudah menaruh curiga. Namun setiap kecurigaan Ismail disampaikan ke Hamida, isterinya itu selalu marah dan mengelak. Hingga pada hari Kamis lalu, Zaman dan Hamida pun kabur.

Mail yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan itu baru mengetahui jika keduanya kabur saat ia mencari keberadaan istrinya. Hingga sore hari, keberadaan Mail tak juga menemukan titik terang soal keberadaan Hamida.

“Pagi sekitar jam 9, saya pulang kerja. Saya lihat, kenapa tidak ada makanan ini. Saya cari uang apa mauka beli ikan, tinggal Seribu. Anakku yang kecil tidur di kamar. Pas saya cari-cari tidak ada itu istriku. Sore itu langsung ka ke rumahnya Zaman karena kurasa-rasa sama ini,” ungkapnya.

Ismail dan Hamida sendiri sudah dikaruniai empat orang anak. Sementara Zaman diketahui merupakan seorang duda untuk ketiga kalinya. Zaman juga masih merupakan kerabat dekat Mail.

Ismail mengaku tak habis fikir, bahtera rumah tangga yang ia bangun selama hampir dua puluh tahun itu harus hancur karena orang ketiga. Ia hanya mampu berpasrah atas kejadian Itu.

Ilustrasi

“Tidak kusangka betul itu. Sudah seperti saudara mi. Apalagi sepupu dua kaliku itu. Kurang apa ka sama itu Zaman. Kalau sudah mi itu mengajar mengaji ke rumah mi,” tutur Ismail menahan kesedihannya.

(hanif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *