Ratusan warga di Mamasa Deklarasi Memilih Kotak Kosong

Pilkada

Mapos, Mamasa – Ratusan warga Kabupaten Mamasa melakukan deklarasi untuk memilih kotak kosong di Pilkada 2018.

Deklarasi dilakukan warga yang tergabung dalam Aliansi Kotak Kosong, di Lapangan Mamasa, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Sabtu (10/2/2018).

Hadir dalam Deklarasi Kotak Kosong, DR. H. Muhammad Said Saggaf, M.Si (Bupati Mamasa Pertama Periode 2003-2008).

Dari pantauan media ini, hadir dalam deklarasi kotak kosong, DR. H. Muhammad Said Saggaf, M.Si (Bupati Mamasa Pertama Periode 2003-2008), Drs. Obednego Depparinding, MH (Bupati Mamasa Kedua Periode 2008-2010/Tokoh Perjuangan Pembentukan Kabupaten Mamasa/Ketua Majelis Pertimbangan Sinode GTM), Rudyantho, SH (Advokat di Jakarta/Owner Rudyantho Law Firm & Partner), Dr. Urbanisasi, SH, MH, Dip.Th, CLA, CIL (Advokat di Jakarta/Tokoh Masyarakat Mamasa/Owner Lembaga Diklat Profesi Hukum dan Mediasi Center Indonesia), David Bambalayuk, ST, M.Si (Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Mamasa/Tokoh Perjuangan Pembentukan Kabupaten Mamasa/Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Mamasa/Ketua Laskar Kotak Kosong), Ir. Rocky B. Paotonan, P.Eng (Staf Khusus Bidang Investasi dan Hubungan Luar Negeri Pemprov Sulbar/Wakil Ketua DPW PAN Prov. Sulbar), Joni Ma’dika (Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Mamasa/Anggota DPRD Kab. Mamasa), H. Sudirman Darius (Anggota DPRD Prov. Sulbar dari Partai Gerindra), Dr. Elypas Demma’musu’ Palangi, Sp.Rad (Tokoh Masyarakat).

Drs. Obednego Depparinding, MH (Bupati Mamasa Kedua Periode 2008-2010/Tokoh Perjuangan Pembentukan Kabupaten Mamasa/Ketua Majelis Pertimbangan Sinode GTM).

Salah satu tokoh pemuda Marthen mengatakan, gerakan ini muncul lantaran adanya keprihatinan masyarakat terhadap adanya fenomena kotak kosong di Kabupaten Mamasa. Timbulnya gerakan tersebut didasari akan kecurigaan adanya lobi-lobi politik hingga menyebabkan semua partai berduyun-duyun untuk mendukung petahana.

“Semua partai habis di borong dengan cara yang tidak elegan, disini lah kita berjuang untuk bagaimana masyarakat memilih kotak kosong agar adanya satu perlawanan terhadap demokrasi yang mati di Kabupaten Mamasa ini,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Marthen, adanya ketidakpuasan terhadap kepemimpinan petahana selama lima tahun ke belakang. Ia bahkan mengungkapkan tidak ada program pemerintah yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kita tidak puas dalam segala bentuk kebijakan terhadap pemerintah Kabupaten Mamasa, tidak terbuka terhadap masyarakat, tidak mau mendengar aspirasi masyarakat, masih banyak ketimpangan lagi, termasuk proses pembangunan serta tidak transparan,” ujarnya.

Ia mengatakan, jika hanya ada satu calon yang harus dipilih, hal tersebut hanya menghabiskan anggaran negara. Padahal, dalam satu kali mengadakan Pilkada, ada miliaran rupiah uang rakyat yang dihabiskan.

Ia berharap, jika kotak kosong dapat memenangkan pilkada Juni 2018 mendatang, hal tersebut dapat memberi referensi kepada Pemerintah dan DPR RI untuk merevisi Undang-Undang Pemilu.

“Selain bisa memberikan waktu kepada partai politik untuk menyiapkan kadernya agar bisa maju di Pilkada ulang, ini juga sebagai harapan kita agar pemerintah Pusat dan DPR agar merevisi Undang-Undang Pilkada agar tidak ada lagi kezaliman,” tandasnya.

Berikut Video Deklarasi Kotak Kosong di Lapangan Mamasa

(dewi ayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *