Advertorial Kesbangpol Sulbar
Rahmat Sanusi : Kearifan Lokal Bagian dari Budaya

Adventorial

Mapos, Polewali – “Kearifan lokal merupakan bagian  dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal biasanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi dalam bentuk kebudayaan, cerita rakyat, peribahasa dan permainan rakyat.”

Demikian diungkapkan Kepala Badan Kesbangpol Sulbar, H. Rahmat Sanusi, sesaat sebelum membuka kegiatan Penguatan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Membangun Karakter Ke-Indonesia-an Di Kalangan Generasi Muda, di Kabupaten Polewali Mandar (05/04/2018).

“Ia merupakan suatu bentuk warisan budaya yang telah berkembang sejak lama yang  di dalamnya terkandung nilai-nilai, norma-norma, sistem kepercayaan, dan ide-ide masyarakat dan aturan-aturan khusus,” imbuhnya.

Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal, sehingga dengan mengintegrasikan kearifan lokal dalam desain pembentukan karakter, maka secara tidak langsung akan mendapatkan gambaran yang utuh atas identitas diri sebagai individu dan sekaligus identitas diri sebagai anggota masyarakat yang terikat dengan budaya.

“Dengan proses evolusi yang begitu panjang dan melekat dalam masyarakat, menjadikan kearifan lokal begitu kuat dan potensil menjadi sebagai sumber energi dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat, untuk hidup bersama secara dinamis dan damai,” katanya.

Namun dewasa ini kearifan lokal menghadapi tantangan-tantangan  yang mengancam keberadaan dan kelestariannya. Kearifan lokal yang telah terbentuk sejak lama kini mulai terkikis seiring semakin kuatnya gerusan globalisasi sebagai dampak dari berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Ditambah melemahnya kepercayaan diri dan kebanggaan sebagai anak bangsa, dan justru menganggap bahwa produk seni budaya dari luar beserta nilai yang kandungnya, selalu dianggap lebih modern, berkelas dan populer, bahkan dianggap lebih baik.

Kepala Badan Kesbangpol Sulbar, H. Ramhat Sanusi, saat memberikan sambutan dan membuka kegiatan.

Dalam konteks Sulawesi Barat, urainya, kearifan lokal yang kita miliki juga cukup banyak yang kita bisa temukan dalam berbagai bentuk seni budaya. Simaklah pesan arif dari kalidagdaq.

“Dengarlah secara seksama lantunan Passayang-sayang dan nikmati Parade Budaya Saeyang Pattu’du. Lihatlah keperkasaan perahu Sandeq yang sangat terkenal itu, Lipaq Sa’beq yang anggun, dan masih banyak lainnya. Kesemuanya adalah seni budaya yang mengandung banyak pesan dan nilai kearifan lokal. Darinya kita belajar tentang kerja keras, keberanian, pengorbanan, keharmonisan. Dan juga, kita dengarkan syair-syair dalam Kalindagdaq dan sayang-sayang yang banyak berbicara dan bercerita tentang kejujuran dan keteguhan hati terhadap kebenaran,” tuturnya.

Belum lagi permainan rakyat yang banyak tersebar di Daerah Provinsi Sulawesi Barat ini yang membentang dari Polewali Mandar sampai ke Kabupaten Pasangkayu yang juga banyak mengandung nilai-nilai dan norma. Religiutas, sikap jujur, tolerans, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, cinta tanah air, cinta damai, kepedulian sosial, bertanggung jawab adalah nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam warisan budaya yang harus mampu menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat kita.

“Kekayaan kearifan lokal yang kita milki tersebut harus selalu digali dan ditanamkan kembali secara inheren sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya daerah sendiri. Ini penting sebagai bagian dari upaya membangun identitas bangsa dan sebagai semacam filter dalam menyeleksi pengaruh budaya “lain”. Nilai-nilai kearifan lokal itu meniscayakan fungsi yang strategis bagi pembentukan karakter dan identitas bangsa. Saya ingin kearifan lokal yang kita miliki menjadi bagian dari karakter kita sebagai individu dan sekaligus membentuk karakter ke-Indonesia-an kita,” paparnya.

Coba dibayangkan, andai semua nilai dari kerifan lokal di masing-masing daerah digali, dibangun, dan diinternalisasi menjadi karakter individu, lalu kemudian diakumulasi menjadi karekter ke-Indonesia-an, pastilah melahirkan sebuah negara yang berkarakter kuat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan pada akhirnya akan bermuara pada terwujudnya sebuah bangsa yang kuat dan mandiri yang di dalamnya semua warga negara akan berdiri dengan kepala tegak berkata Saya Indonesia.

(*)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.