Puncak Hari Kontrasepsi Sedunia, BKKBN Sulbar Gelar Berbagai Kegiatan

Mamuju

Mapos, Mamuju – Dalam rangka memperingati Hari Kontrasepsi Sedunia Tahun 2018, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyelenggarakan puncak peringatan dengan mengadakan pencanangan kampung KB, lomba senam poco-poco, temu ilmiah, penyuluhan Kespro dan pendewasaan usia perkawinan, sosialisasi monika dan praktik mandiri Bidan, temu kerja Akseptor KB Kader PKB dan remaja, grebek pasar, pelayanan mobile dan seminar kesehatan reproduksi.

Kepala Perwakilan BKKBN Sulbar, Andi Ritamariani mengatakan, puncak kegiatan ini yang diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan, serta komitmen dan dukungan dari stakeholder, provider medis, mitra kerja, dan masyarakat terkait pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi untuk percepatan pencapaian program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK).

“Perlu sinergitas dalam upaya peningkatan penggunaan alat kontrasepsi terutama metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP),” tegas Rita saat menggelar jumpa pers di kantornya, jalan Pattanan Endeng, Kelurahan Rangas, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulbar. Selasa (16/10/2018).

Rita mengatakan masalah kependudukan adalah masalah yang penting dalam program pembangunan, tidak hanya dilihat dari sisi kuantitas, tetapi juga berkaitan dengan masalah kualitas dan mobilitas. Dalam isu kependudukan, laju pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2015-2016 yaitu 1,27 persen.

Artinya, per tahun penduduk Indonesia tumbuh sekitar 3 juta jiwa. Rata-rata tingkat kelahiran per perempuan 2010-2015 sebanyak 2,4 anak, atau per perempuan memiliki 2-3 anak. Selain itu, Indonesia diprediksi akan mendapat bonus demografi di tahun 2020-2030, di mana penduduk dengan umur produktif sangat besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak.

Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, Rita menjelaskan bahwa BKKBN bersama stakeholder dan mitra, akan mendorong program aksi yang bersifat lokal dengan melibatkan partisipasi warga.

“Kami menggunakan pendekatan Kampung Keluarga Berencana yang diharapkan dapat mengurangi secara signifikan angka putus kesertaan Program Keluarga Berencana, dan meningkatkan pemakaian alat kontrasepsi jangka panjang,” jelas Rita.

Selain itu, BKKBN juga mendorong stakeholder yang ada daerah untuk meningkatkan sosialisasi dan edukasi keluarga berencana serta menjadikan keluarga berencana sebagai program prioritas di tiap kota atau kabupaten.

“Dengan peningkatan pengetahuan dan wawasan masyarakat dalam Program KB di harapkan akan sangat mendukung tercapainya hasil pelayanan KB yang maksimal dan berkualitas,” harap Rita.

Rita menambahkan, berdasarkan data SDKI tahun 2017 menunjukan angka Kelahiran Total sedikit mengalami penurunan dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya, menjadi 2,4 (SDKI 2017) dari 2,6 (SDKI 2012) meskipun target RPJMN masih belum tercapai, ini semua merupakan kemajuan yang dicapai dalam keluarga berencana di dunia saat ini adalah berkat ketekunan, kepatuhan, dan berkat kedisiplinan para akseptor dalam menggunakan dan kawan kawan PLKB dengan gigih melakukan konseling yang merupakan bagian integral yang sangat penting dalam pelayanan KB.

BKKBN Sulbar berpose bersama sejumlah Jurnalis.

“Saya memberikan penghargaan atau apresiasi yang setinggi tingginya kepada saudara saudara dari Akseptor, PLKB, Kader KB, PPKBD/Sub PPKBD dan Remaja Generasi Berencana serta kepada mitra kerja terkait. Saya mengucapkan terima kasih atas dukungannya selama ini terhadap upaya pelaksanaan program KKBPK,” pungkas Rita.

(usman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

loading...