Puluhan Supir Angkot Protes Rambu Lalin

Peristiwa

Mapos, Majene – Sedikitnya 50 orang supir angkutan kota (Angkot) yang tergabung dalam Aliansi Supir Angkot trayek Majene – Polman mendatangi Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Majene Kamis (9/8/2018) pukul 09.00 Wita.

Puluhan Supir Angkot saat aksi damai di Kantor Disbun Majene foto : Ist

Selain supir, Angkot juga turut berjejer di halaman Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Majene.

Menurut siaran pers Humas Polres Majene, kedatangan mereka sebagai bentuk aksi damai untuk menyuarakan aspirasinya atas pemasangan rambu lalulintas (Lalin) yang oleh demonstran menilai jika rambu lalin yang terpasang dapat merugikan supir Angkot.

Melalui koordinator aksi, Akram, para supir Angkot berpendapat bahwa pada dasarnya mereka tidak merasa keberatan dengan rambu-rambu lalulintas yang dipasang di perempatan jalan Tanjung Batu.

Yang disoal oleh massa aksi, adalah rambu lalulintas yang terpasang di depan Gedung KNPI Majene. Karena sejak rambu tersebut diberlakukan, penghasilan mereka jadi berkurang dan biaya operasional mereka turut meningkat

“Massa aksi merasa keberatan jika selama ini kemacetan yang terjadi di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman diakibatkan oleh ulah para sopir Ankot (Pete-pete) dan massa aksi merasa bahwa biaya operasional mereka meningkat sejak rambu rambu lalulintas di Perempatan Tanjung Batu dan Depan gedung KNPI diberlakukan. Menurut mereka, penyebab kemacetan sebenarnya adalah mobil atau kendaraan yang terparkir di depan Warung Makan Sop Saudara, depan Kantor Bank BPD, depan Kantor Bank BTPN dan Kantor Pegadaian,” tulis siaran pers Humas Polres Majene.

Juga, massa aksi minta kepada Dishub, supaya parkir yang ada disekitar Pasar Sentral jangan terlalu banyak memakai badan jalan, karena ujung ujungnya supir angkot yang menjadi korban.

Sementara Kadis Perhubungan Kabupaten Majene, H Mithar menjawab tuntutan pedemo menyatakan, berdasarkan analisis dan pengamatan Dishub di lapangan, tidak bisa dipungkiri bahwa memang mobil yang terparkir di depan Warung Sop Saudara, Bank BPD, Bank BTPN dan Kantor Pegadaian adalah penyumbang kemacetan yang terjadi disekirar jalan Jenderal Sudirman.

“Namun keberadaan rumah makan, bank dan pegadaian tidak mungkin dipindahkan, sehingga alternatif yang ditempuh oleh pemerintah yakni dengan mengalihkan jalur mobil angkutan kota,” tegas Mithar seperti siaran pers Humas Polres Majene.

“Untuk saat ini kita sepakat laksanakan saja aturan yang sudah ada. Dan kedepan, akan kita pertimbangkan segala tuntutan rekan-rekan semuanya. Memang, pada awalnya aturan baru tersebut terasa berat namun lama kelamaan akan terasa ringan,” imbuh Mithar.

Pada kesempatan sama, Kasat Lantas Polres Majene AKP Rusli Said mengatakan, kehadiran dirinya dalam aksi damai itu untuk menyampaikan dan menjelaskan tugas dan fungsi dia selaku aparat penegak aturan yang diterapkan oleh pemerintah.

“Namun, kami juga adalah manusia biasa yang punya hati nurani dan kami akan selalu bijaksana kepada rekan-rekan semua, terkecuali apabila ada rekan-rekan supir yang memang betul betul bandel dan sudah diingatkan dua sampi tiga kali, tapi masih tetap melanggar, maka kami tidak akan segan segan untuk menindak,’ tegas AKP Rusli Said.

Disinggung soal kebijakan rambu-rambu lalin yang jadi akar permasalahan, ia serahkan kepada pemerintah melalui Dinas Perhubungan Kabupaten Majene.

Ia mengaku, memang saat ini pihaknya belum maksimal dalam melaksanakan penindakan di lapangan dan apabila tahap sosialisasi telah selesai maka akan dilakukan penindakan berupa tilang.

Dalam pertemuan itu menghasilkan kesimpulan, rambu-rambu lalulintas yang ada saat ini agar dipatuhi, dan kedepan pemerintah akan melakukan evaluasi dan meninjau kembali aturan tersebut.

(ipunk)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.