Puluhan Ribu Media Online Belum Terverifikasi, Pilkada Serentak Terancam Penuh Hoax

Berita Terbaru Berita Utama Nasional

Mapos, Jakarta¬†–¬†Data terbaru Dewan Pers tahun 2017 mencatat, ada 43.300 media siber atau online di Indonesia saat ini. Namun, dari jumlah tersebut, kurang dari satu persen (433 media online) yang dinyatakan terverifikasi Dewan Pers.

Data tersebut dikutip Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Teguh Santosa dari pernyataan yang pernah disampaikan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo beberapa waktu lalu.

“Ada 43.300 media online di Indonesia saat ini. Baru 1.000 lebih media online yang sudah mendaftar ke SMSI. Dari jumlah tersebut hanya 265 yang dapat didaftarkan ke Dewan Pers pada gelombang pertama tanggal 8 September 2017 lalu,” terang Teguh saat menghadiri Deklarasi Banceuy di Bandung, Jawa Barat.

Ketua Bidang Luar Negeri PWI itu menambahkan, status terverifikasi suatu media, merupakan amanat Undang-Undang No.40 Tahun 1999 tentang Pers. Sehingga, SMSI akan mendata dan mendorong agar para anggotanya semakin banyak yang terverifikasi.

“Saat ini, SMSI terus berusaha mendorong anggota untuk menjadi media profesional, terverifikasi secara administrasi dan faktual,” urai dosen FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan London School of Public Relations (LSPR) Jakarta itu.

Akhir November 2017 nanti, lanjutnya, SMSI akan kembali mendaftarkan sejumlah anggotanya ke Dewan Pers. Sesuai dengan fungsi dibentuknya SMSI sebagai wadah bagi perusahaan media siber, bukan wartawannya.

Sebelumnya, Teguh berpesan, agar perusahaan pers dapat terus mengembangkan usahanya secara sehat. Serta dapat menjadi tumpuan bagi para pekerja pers, yakni wartawan.

“SMSI bertekad membangun masyarakat digital. Indonesia ke depan jangan hanya jadi pengguna. Tetapi harus menjadi pencipta aplikasi,” papar Teguh.

Apalagi menjelang pilkada serentak 2018 mendatang, keberadaan media yang belum terverivikasi, berpotensi membahayakan proses pilkada. Khususnya, terkait penyebaran ujaran kebencian dan kabar bohong (hoax) oleh media yang tidak profesional.

“Mari sama-sama kita (media online terverifikasi) perangi hoax,” demikian Teguh.

(*)

(Sumber : rmol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *