Puluhan Perajin di Karossa Ikuti Pelatihan Produksi Gula Semut

Mamuju Tengah

Mapos, Mateng¬†–¬†Pemerintah Desa Karossa, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) tengah fokus meningkatkan produk olahan tradisional.
.
Produk olahan yang bakal digenjot adalah gula semut. Gula semut merupakan gula merah versi bubuk dan sering pula disebut gula kristal.

Dinamakan gula semut karena bentuk gula ini mirip rumah semut yang bersarang di tanah. Dengan bahan dasar pembuatannya adalah nira dari pohon kelapa atau pohon aren (enau).

Menurut Kepala Desa Karossa, Selereksi, produk olahan gula semut memang menjadi produk unggulan masyarakatnya.

Selain itu, tumbuhan penghasil bahan dasar dari produk itu sangat melimpah di Desa Karossa.

“Jadi kalau produksinya dikelola dengan baik, pastinya akan memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat,” kata Selereksi kepada mamujupos.com, Senin (4/6/2018).

Untuk itu, pihaknya saat ini bakal menggandeng berbagai pihak, seperti UPTD KPH Wilayah Sulsel untuk bekerja sama dalam peningkatan inovasi dan pengembangan skill masyarakat.

Selereksi mengatakan, dengan adanya pelatihan kepada pengrajin gula sebut yang ada di desanya akan menambah wawasan para pengrajin serta dapat menambah penghasilan masyarakat.

Olehnya itu, dirinya berterima kasih kepada KPH yang telah mau bekerjsama dalam meningkatkan produk gula merah serta pelatihan cara mengelola gula semut yang benar.

“Dengan adanya Kegiatan selama dua hari ini (3-5 Juni 2018) tentu akan menambah wawasan para pengrajin gula semut,” tuturnya.

Kegiatan itu menghadirkan pelatih dari UPTD KPH Sulsel yang juga eksportir gula semut.

“Prospeknya bagus, antara lain daerah ini memiliki kualitas nira yang bagus, tetapi pengelolaan masih tradisional. Untuk pemasaran ke luar negeri seperti ke Eropa harus organik dan memiliki sertifikat internasional,” kata kepala Kesatuan Hutan Wilayah Sulsel, Asri.

Ia menyebut pelatihan untuk warga setempat di balai desa itu sebagai rintisan dan penjajakan kemungkinan pembuat kelapa setempat mengembangkan produksi guna memenuhi permintaan luar negeri.

Selama ini, katanya, produk gula semut di sejumlah kecamatan di Karossa, kita akan ajarkan tata cara memgelola dan memproduksi gula semut yang baik agar bisa menembus pasar luar negeri seperti Belanda, Swiss, Malaysia, dan Singapura.

Ia mengatakan, wilayah di Kecamatan Karossa yang berpotensi untuk pengembangan produksi gula semut antara lain Desa Karossa dan Desa Mora.

Di desa itu, katanya, terutama karena banyak tumbuh pohon kelapa dengan para perajin gula kelapa yang hingga saat ini masih secara tradisional.

Pada pelatihan itu, Asri selain menjelaskan tentang pentingnya para perajin mengembangan manajemen wirausaha, juga menyangkut budi daya tanaman dan produksi gula semut secara organik.

Proses pembuatan gula semut, katanya, juga memperhatikan secara serius kebersihan serta kesehatan. Alat pengambilan nira atau bumbung harus dijaga kebersihannya dan disimpan di tempat khusus serta pengambilan nira secara periodik.

Asri mengatakan, jumlah warga setempat yang selama ini menjadi pembuat gula kelapa secara tradisional sekitar 50 orang terutama di dua desa tersebut. Desa itu memiliki ribuan pohon kelapa yang setiap hari diambil niranya oleh para perajin gula kelapa.

Produksi mereka, katanya, masih sebatas untuk memenuhi pasar lokal. Harga pun bervariasi sesuai kebutuhan antara Rp10.000-Rp12.000 per kilogram.

“Sampai sekarang masih dikerjakan secara tradisional. Harapan kami melalui pelatihan ini memperluas wawasan dan mengembangkan keterampilan anggota, dan kalau memungkinkan mereka bisa berproduksi untuk dijual ke luar negeri sehingga pendapatan lebih baik,” katanya.

Apalagi, katanya, saat ini pohon kelapa sudah tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pelatihan serupa rencananya juga dilaksanakan di beberapa desa, dengan diikuti puluhan perajin gula kelapa.

Puluhan Perajin di Karossa Ikuti Pelatihan Produksi Gula Semut.

Selain itu, kata Asri, rencananya akan dibangun suatu wadah tempat untuk gula semut agar setiap produksi mereka dapat ditampung di tempat yang telah disediakan dan mereka tidak bingung lagi cara memasarkannya.

(usman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *