Propaganda Udara Radio Sawerigading

Oleh Adi Arwan Alimin (Penulis/Peminat Sejarah)

Oleh Adi Arwan Alimin
(Penulis/Peminat Sejarah)

Mapos – TAHUN 2002. Radioini berada di kawasan Jalan Brawijaya, Nomor 2 Wonomulyo. Saban hari studionya dipadati fans yang datang dari berbagai daerah. Tidak hanya di kawasan pelosok Polewali Mamasa, tetapi juga mengalir dari Majene hingga Pinrang.

15 tahun lalu. Arus kendaraan di seputaran  Brawijaya mulai terbilang sibuk. Posisinya menyangga pusat ekonomi Wonomulyo di Jalan R. Soeparman. Di sinilah sebuah kesibukan ikut memuncak ketika atmosfir perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat sedang mendidih.

Radio ini awalnya bernama Panama, bermarkas di Jalan Padi Unggul atau di sekitar kawasan Madrasah Tsanawiyah “Aswajah”. Lalu berganti nama Suara Sawerigading. Stasiun besutan keluarga Haji Mandja tokoh elektronik di pasar Wonomulyo. Radio perjuangan itu pada mulanya berdiri untuk mengikuti tren penjualan radio bermerek di Toko Cahaya milik Haji Mandja.

Rahman Bande yang juga kerabat Hasan Mandja memimpin radio ini. Aktivis senior yang memimpin Sawerigading dengan cukup dingin. Memiliki sikap tegas, tetapi juga sering menerima masukan yang dianggapnya konstruktif bagi pendengar. Kami sering berdiskusi alot, namun sering pula Rahman hanya mengangguk bila melintasi bilik studio.

Keberpihakannya pada alur perjuangan Sulbar jelas memberi pengaruh luas pada eksistensi Sawerigading sebagai media penyiaran lokal. Dapat dibayangkan, bila radio yang antenanya sering disambar petir itu memunggungi para pejuang.

Sawerigading menikmati masa keemasan tahun 1990-2000-an. Di tengah fase inilah lembaga penyiaran yang dikenal dengan semboyan Radio SS, “Favorite Station…” itu mengambil peran yang luar biasa. Radio yang bergerak di frekuensi AM 99.0 ini menjadi alat perjuangan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Di tahun-tahun sirkulasi surat kabar terbilang tidak cukup menjangkau publik, dibanding radio yang unggul sampai ke pelosok.

Sawerigading ikut meliput Deklarasi Galung Lombok, 10 November 1999. Lima tahun kemudian di Jakarta tahun 2004, radio dengan reporternya yang sama, Rusman “Tony” Syafri, mengudarakan kabar tak terkira itu. Radio yang menjadi jaringan kerja Unesco ini pun meletakkan kesaksian penting pada ketuk palu DPR RI di Senayan.

Sawerigading sebagai radio yang siarannya menembus sampai huma-huma di Mambi, pedalaman Majene hingga Kalimantan Timur berada dalam siklus menentukan. Segala isu dan progres perjuangan yang dimotori Husni Djamaluddin, Makmun Hasanuddin; Rahmat Hasanuddin; Bung Syahrir Hamdani dan tokoh-tokoh lainnya diolah di dapur Sawerigading. Para pejuang sesungguhnya memiliki media, tabloid “Mandar Pos”. Namun dengan tiras ribuan rasanya itu tak cukup untuk melumasi dahaga pembaca.

Direktur Sawerigading, Rahman Bande, ketika itu memberi peluang sangat besar kepada krunya untuk mendesain program isi siaran. Tidak hanya cuap-cuap penyiar legendarisnya, Ishak Abdullah “Daeng Caqdi” dalam program dendang dangdut saat sore atau jelang sahur, tetapi Sawerigading bahkan membuka pos bantuan masyarakat untuk menyokong Sulawesi Barat. Seorang pendengar bahkan datang membopong setandan pisang sebagai wujud sokongan.

Salah satu program yang paling berperan pada perjuangan pembentukan Sulawesi Barat adalah “Suara Demokrasi”. Siaran ini mengudara setiap Sabtu bakda Dzuhur. Secara bergantian tampillah Daeng Caqdi, Masud Saleh juga penulis. Di media cetak, ruang ini semacam Surat dari Pembaca atau SdP.

Di kemudian hari penulis sering mengatakan bahwa “Suara Demokrasi” Sawerigading, bukanlah sebatas ruas sosialisasi untuk Sulawesi Barat. Tetapi ini telah menjadi stasiun propaganda. Radio ini menjadi benteng kukuh dalam melawan arogansi penguasa yang ketika itu amat jelas menolak gagasan Sulawesi Barat.

Di banyak kesempatan, Suara Sawerigading juga menjadi andalan pendengar dalam mengikuti reportase pendudukan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Polewali Mamasa yang dikuasai massa Sekka-Sekka selama tiga bulan lebih. Selain menjadi jaringan besar Unesco, Sawerigading pun bertaut dengan Kantor Berita 68H Jakarta. Momentum yang mengantarkan penulis bertemu mentor jurnalistik berpengaruh yang bekerja di Unesco untuk wilayah Asia Tenggara, Arya Gunawan.

Saat bertemu Daeng Caqdi atau Ishak Abdullah, ia sering tertawa membayangkan ulang apa yang sering kami lakukan dari ruang studio. Selain kerap menghadirkan narasumber kompeten, para punggawa siaran Suara Demokrasi lebih banyak mengocok isu sejengkal menjadi obrolan serius hingga sejam. Bung Syahrir Hamdani sering menyebut bahwa kadang tak ada progres apapun tentang Sulbar kala itu, tetapi di Sawerigading, hal itu tak berlaku. Ada saja tema yang sesuai dan update untuk menjadi topik di udara.

Masud Saleh, salah satu penyiar Sawerigading yang pernah menjadi Ketua KPM-PMM Polewali Mamasa, mengakui pengelolaan isu dan wacana bersulbar di benak publik selalu segar karena bentuk propaganda dari udara. Tak heran bila tokoh sekelas Hasyim Manggabarani harus membeli radio merek “Nasional” untuk dapat terus memantau perkembangan informasi dari Sawerigading.

“Dik. Saya jujur, sering mendengarkan siaran kalian,” sapa Hasyim Manggabarani suatu hari kepada penulis. Ia hanya meminta agar porsi kritik Sawerigading dapat berimbang.

“Ya, 60:40-lah. Jangan ‘tong’ skor 8-1…” gurau almarhum, saat mengundang redaksi Sawerigading makan malam di Pendopo Wonomulyo yang menghadirkan seluruh eselon II Polmas. Tokoh ini meski sering mengeluhkan kami, tetapi tak pernah menaruh dendam. Saat malam syukuran Sulbar di Sahid Jakarta, ia bahkan memilih berdiri bersama kami di sisi acara itu. Sambil membincang masa depan provinsi baru ini.

Sawerigading sesungguhnya nama yang diambil dari mitologi Lagaligo. Secara historis legenda besar itu sesungguhnya berhulu di daratan Luwu purba. Tetapi istilah ini juga tepat sebagai pengganti Panama. Konon, sebelum menuju ke negeri China Sawerigading pernah menginjakkan kaki di Tanah Mandar. Pulai Idaman (Taimanu) di Palipi, Majene salah satu sisa mitosnya yang tetap dipercaya.

Menurut Masud Saleh, yang kini menjadi Wasesjen Gerakan Pemuda Ansor,  Sawerigading adalah media elektronik (radio) pertama di Mandar yang tak hanya mengambil alih udara untuk syiar arti pentingnya Sulawesi Barat,
melainkan juga ruang pertama line telpon yang melembagakan gagasan masyarakat dan harapan publik secara terbuka.

“Sehingga tak bisa dipungkiri bahwa Sawerigading merupakan  satu-satunya media lokal yang mengambil posisi, sebagai salah satu pilar perjuangan lahirnya Provinsi Sulawewi Barat,” paparnya via WhatsApp kepada penulis beberapa waktu lalu.

Kini Sulawesi Barat sedang menuju titimangsa penting 10 November 2017. Semoga orang-orang belum lupa bahwa di Galung Lombok, Tinambung, Polewali Mamasa, 10 November 1999 silam, deklarasi perjuangan dipekikkan dari area Makam Korban 40.000 Jiwa itu. Linimasa yang seharusnya terus kental dalam ingatan.

Membaca catatan singkat ini pembaca akan seolah sedang menyimak program “Suara Demokrasi” Sawerigading hampir dua dekade lalu. Tulisan ini sesungguhnya amat landai, sebab siaran radio itu seringkali melompati pikiran pembacanya. Terlalu kritis, terbuka dan berani. Euforia reformasi mungkin salah satu bumbunya.

Mamuju, 7 November 2017

 

(*)