Potret Jalan Kabupaten yang Terabaikan

Oleh : Muh. Sudirman Al Bukhori (Wapempred Mamujupos.com)

images(7)

Kondisi Jalan Kabupaten di Rangas Kab. Mamuju depan SMK Rangas

Sebelum tema ini kita bahas bersama-sama, saya mengajak anda untuk menyanyikan lagu Indonesia raya instrumental, lalu sediakan kopi hangat biar tulisan yang anda akan baca sesaat ini lebih terasa mencair. Perlu saya jelaskan, bahwa Tulisan ini tidak bermaksud memprovokasi, tidak pula untuk mencari keuntungan bahkan nama. Tulisan ini mengalir dari hati nurani setelah sekian lama sudah Kabupaten Mamuju berdiri namun dirasa masih lamban berjalan menuju merdeka sepenuhnya. Seperti yang pernah Tan Malaka katakan yaitu Merdeka 100%. Dan ini jaman dimana anda dan saya terjebak diantara keduanya.

images(8)

Kondisi Jembatan di Rangas

Mari kita awali dengan membayangkan bahwa di suatu pagi yang indah, anda merasakan sinar mentari yang terbit lewat celah-celah jendela merasuk hangat hingga ke hati. Hawanya sejuk, udaranya bersih segar ketika dihirup. Kopi yang anda minum pagi itu, adalah kopi yang sedang anda minum saat ini. Sungguh nikmat!

Namun menjelang siang hari, ada suatu pemandangan yang tidak enak di luar jendela di depan rumah.

Menjelang waktu itu sampai malam hari, kendaraan macet akibat jalan berlubang. Debu-debu bertaburan di udara, kalau cuaca cerah dan bahkan masuk ke dalam buih-buih kopi yang anda minum. Dan ini terjadi setiap hari. Ironis bukan?

Mirisss…Ada apa dengan potret daerah hari ini? Pentingkah kita menyalahkan pemerintah? atau karena kesadaran warga masa kini terhadap lingkungan sangat minim?. Sehingga tak pernah ada “win-win solution” untuk mengatasi agar hal tersebut tidak terjadi secara berulang.

Contoh, Donggala adalah daerah kecil, sumber daya alamnya minim tapi pembangunannya mempunyai karakter kuat. Lama kita merdeka, tapi cara berpikir yang masih digunakan adalah cara berpikir menggunakan sumber daya alam saja. Telah lama mungkin dewasa ini, dunia mulai berpikir untuk membangun sumber daya manusia yang handal dan memadukan dengan sumber daya alam yang tersedia. Hanya belum ada yang sadar atau sengaja tidak sadar. Beberapa dari Pemerintahan dan masyarakat kita sesungguhnya belum menemukan bentuk.

Ijinkan saya mengakhiri tulisan ngawur ini dengan kata-kata yang “V” ucapkan dalam film “V For Vendetta” ketika mengakhiri pidato revolusinya.

“Untuk melihat siapa yang bersalah, mari kita menatap cermin….”

(*)