Politik Zaman Now

Opini

Oleh: Lukman al mandary

POLITIK suatu seni memenangkan perang. Kata ini memiliki arti luas dan tak berujung. Seni adalah bentuk yang diluangkan pemain politik untuk menyusung starategi demi tercapainya suatu tujuan. Kompetisi memaksa politisi melakukan banyak bersilahturahmi berbagai warna untuk membawa misi tak lain dan tak bukan hanya mendapatkan legalitas dukungan. Partai tak memandang siapa dia dan bagaimana jejak karir dia memiliki, namum partai melihat berapa nilai yang bisa diberikan kepada partai.

Seni mamainkan peran dalam dunia politik adalah seni berproses untuk merebut kemenangan. Dunia politik bukan hal instan namun proses yang panjang untuk mendongkrat popularitas, elektabilitas dan kredibiltas. Tiga point ini menjadi tolak ukur masyarakat menaruh simpati. Politik instan ibarat buah yang dipaksakan matang sebelum waktunya, buah seperti ini memiliki kualitas rendah dan biasanya hambar.

Popularitas dapat membuat pemilih jatuh hati namun popularitas tanpa cozt politik dapat membuat masyarakat kelain hati. Kedua unsur ini harus saling berkesinambungan agar saling melengkapi. Kita tidak menganafikkan bahwa begerak tanpa cost politik hasilnya akan nihil. Rakyat sudah dibutakan dengan materi, pemilih pragmatis tak melihat popularitas namun lebih mengedepankan besaran harga jual suaranya. Sedang pemilih tradisional menjatuhkan pilihannya berdasarkan hubungan kekeluargaan dan tahta yang dimiliki calon tersebut. Pemilih moderen adalah pemilih cerdas karna pilih ini menjatuhkan pilihan sangat syarat dengan trac record kandidat. Dari tiga kriteria diatas kita perlu bertanya pada hati kita, diposisi manakah kita?

Poltisi sangat pandai bertopeng dan mendeklarasikan diri bahwa saya menjunjung tinggi pilkda tanpa money politik, bahkan dakwah kita jadikan batu sandunan untuk mengikat daya tarik pemilih. Namun nyatanya awal proses pencalonan pundi-pundi rupiah bergelending di lembaga parpol.

Bukan rahasia umum lagi jika cost politik sangat dibutuhkan dalam proses kompetisi. Yang ada hanyalah kepentingan. Raup wajah politisi menjelang pilkada sangat lugu dan manis namun setelah pilkada pahitnya diberikan kepada rakyat. Yang ada hanyalah kalkulasi berapa biaya atau kocek yang habis saat kampanye. Mungkin inilah politk jaman now, politik tak dipandang lagi sebagai jalan meringankan bebang rakyat, namun lebih pada meringankan bebang dan memuluskan para elit.

Bukan hal yang salah jika rakyat melihat politik sebagai dunia munafik, sebab sebagian besar polisitisi pandai beramin akrobat, sikut menyikut, kawan dan lawan tak ada yang abadi. Politk cair karna tidak memiliki prinsip terkadang, dingin, beku bahkan mendidih. Kata konsisten tak ditemukan dalam dunia politik, lebih miris jika politisi sudah mengatakan sikap meninggalkan suatu partai namun baru beberapa bulan dia kembali meminta belas kasih untuk mendapatkan rekomendasi. Miris bukan?.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *