Dugaan Kasus Pelecehan Seksual
Polisi Bidik Orang Ini

Hukum

Mapos, Mamuju – Puluhan Mahasiswa mengatasnamakan Kerukunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Bonehau (KPPMB) menggelar aksi di depan Mapolda Sulbar. Mereka menuntut kepastian hukum pihak Kepolisian atas kasus pelecehan terhadap anak dibawah umur yang terjadi di Dusun Pangalloan, Desa Bonehau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju.

Dalam tuntutannya, KPPMD menuntut agar kasus pelecehan seksual anak dibawah umur di usut tuntas, meminta kepada Kapolda Sulbar untuk segera memutasi Kapolsek Kalumpang beserta anggota karena dinilai tidak serius dalam menangani kasus pelecehan seksual, meminta pihak Kepolisian untuk segera memanggil oknum pelaku dan saksi-saksi terhadap kasus pelecehan seksual.

Kapolres “Metro” Mamuju, AKBP. Moh. Rivai Arvan saat memberikan keterangan pers kasus pelecehan seksual anak dibawah umur.

Sementara itu, Kapolres “Metro” Mamuju, AKBP Moh. Rivai Arvan yang menerima aksi unjuk rasa menjelaskan, kini sedang dilakukan penyelidikan secara maraton soal dugaan pelecehan seksual seorang anak berusia 7 tahun.

“Laporan kasus pelecehan, pihak Polres “Metro” Mamuju telah menerima laporan tersebut pertanggal 18 Januari 2018,” terang Rivai.

Rivai mengatakan, ada empat orang saksi telah dipanggil untuk diambil keterangannya. Dalam protap Kepolisian, lanjut Rivai, pelaku yang juga masih dibawah umur belum bisa kita tahan.

Untuk membuktikan keseriusan aparat Kepolisian terhadap kasus ini, maka terduga dan saksi-saksi kita panggil untuk dimintai keterangannya di depan penyidik.

“Pihaknya fokus kepada terduga inisial T yang disebutkan korban,” kata Rivai.

Lanjut disampaikan, masyarakat perlu pahami bahwa, dalam penanganan kasus dibawah umur sangat berbeda dengan penanganan kasus orang dewasa. Perkataan anak dibawah umur dalam segi hukum belum bisa dijadikan dasar. Terkadang apa yang disampaikan berubah-ubah. Namun pihaknya tetap akan mendalami kasus ini.

“Empat saksi telah diperiksa, dari pengakuan empat saksi itu mengatakan hanya mendengarkan dari korban,” tutur Rivai.

Rivai mengungkapkan, pra rekontruksi sedang digelar. Kita sudah bekerja sesuai protap Kepolisian, adapun yang akan memberikan keterangan palsu pasti akan diketahui dan ini yang bisa terjerat hukum.

“Dalam aturan pemeriksaan, anak dibawah umur harus didampingi pihak keluarganya, untuk bisa mempertanggung jawabkan perkataannya, minimal ada saksi yang mendengarkan,” tutup Rivai. Senin (29/1/2018).

(usman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *