Peran Ideologi Politik dalam Perubahan Sosial

Opini

Mapos, BAGAIMANA memaknai ideologi ? Dalam kamus sosiologi dipahami sebagai perangkat kepercayaan yang ditentukan secara sosial; sistem kepercayaan yang melindungi kepentingan golongan elit; atau cukup dipahami secagai sistem kepercayaan, yaitu : suatu pandangan hidup atau sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam yang dipunyai dan dipegang oleh suatu masyarakat, tentang bagaimana mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik, mengatur tingkah laku bersama (Wahyu DK, 2016). Maka ideologi politik, boleh jadi bermakna sistem kepercayaan atau nilai dalam meraih kekuasaan, mempertahankannya, bahkan menjatuhkan sebuah kekuasaan. Dalam ideologi, menurut Koento Wibisono mengandung 3 unsur pokok, yaitu : keyakinan, mitos dan loyalitas. Sisi lain pandangan Alfian, ideologi memiliki dimensi idealism, realita dan fleksibilitas.

Nah, bagaimana makna harfun dari ideologi? Berasal dari kata dasar ide = fikroh, dibentuk dari huruf fa’, kaf, ra’ dan ta’ marbutah. Maknanya, cara pandang, laki dan perempuan, yang bertalian dengan qalbu-nya, dan dijadikan dasar ketaatan. Menurut Muhammad Ismail dalam bukunya Al Fikru Al Islamiy, menyatakan bahwa idelogi (mabda’) merupakan ‘aqidah ‘aqliyyah yanbatsiqu ‘anha an nizham. Artinya; ‘aqidah ‘aqliyyah yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan (nizham). Bahwa sesuatu disebut ideologi bila memiliki dua syarat, yaitu memiliki ‘aqidah ‘aqliyyah sebagai fikroh (ide) dan memiliki sistem (aturan) sebagai thariqah (metode penerapan).

Bilamana dikaitkan dengan aspek tindakan atau perilaku, maka tumbuh dan kembangnya ideologi sangat tergantung pada sistem ide yang dikonstruksikan oleh manusia, dalam konteks politik tentu manusia yang menjadikan kekuasaan sebagai instrumen dalam perjuangan hidupnya, dalam mewujudkan cita-cita kehidupannya. Di sisi lain, perubahan sosial berarti mencerminkan perubahan struktur sosial, realitas pergeseran posisi dari aspek-aspek kehidupan (sosial, ekonomi, politik) yang bersifat dinamis, sehingga manusia bisa pada posisi yang baik, seperti diharapkan, yang menguntungkan, atau bisa jadi pada posisi sebaliknya. Implikasinya, jika ideology politik hanya dioerientasikan untuk kejuangan diri pribadinya semata, maka menjadi berdimansi “self mobilization struggle”, namun jika diorientasikan untuk publik (komunitas atau masyarakat luas) maka menjadi berdimensi “class struggle”. Apapun orientasinya, akan menjadi bermakna bagi perbaikan kehidupan ummat manusia jika ideologi politik mengandung cita-cita untuk “perbaikan akhlak ummat manusia” dan mendayagunakan seluruh potensi manusia (termasuk teknologi karya cipta manusia) dalam kerangka “rahmat bagi alam semesta” (rahmatan lil’alamiin).

Persoalannya adalah jenis manusia ideologis seperti apa yang memiliki kemampuan untuk memenuhi makna fungsional bagi perbaikan kehidupan ummat manusia? Dalam konteksi ini, membutuhkan manusia visioner berkarakter “kenabian” (prophetic character), sehingga potensi dirinya mampu menggerakan perubahan sosial yang dahsyat nilainya untuk membangun peradaban manusia yang memberikan jaminan rahmat bagi alam semesta tersebut. Dalam kerangka ini, manusia berkewajiban menempuh kejuangan spiritual, intelektual, manajerial & entrepreneurship seperti diagram berikut ini :

Nah, dimana posisi kita? Manusia ideologis jenis apa? Emosional – Akomodatif – Aspiratif – Entrepreneurship – Profesional sejati adalah pilihan yang secara akurat dapat diperjuangkan menjadi bagian dari karakter manusia dalam berpolitik, bersosial maupun berekonomi.

Akhirnya, jika manusia secara idologi politik ingin bercita-cita dalam kemulyaan tertinggi, maka membangun spiritual pada kualifikasi insan kamil (ruhiyat al-mardhiyah) mutlak diperlukan, sehingga instrument lain, yakni : manajerial dan leadership-nya akan mengikuti arus utama kualifikasi ruhiyah-nya. Kualifikasi seperi ini pula yang akan memberikan dampak positif dan berdaya fungsional terhadap perubahan sosial.

Disajikan oleh Catur Wahyudi, diskusi rutin Komisariat HMI FISIP Unmer Malang, 17 Maret 2018*

Kalisongo, 17 Maret 2018 (29 Jumadil akhir 1439)

Oleh :
DR. H. Catur Wahyudi, MA
Dosen FISIP Unmer Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *