Pengurus Masjid Diminta Patuhi Amalia Ramadhan

Majene

Mapos, Majene – Disadari bahwa dalam menjalankan ibadah puasa adalah kewajiban bagi umat Islam, namun ada beberapa hal yang harus dipatuhi oleh pengurus masjid.

Menurut Komandan Kodim 1401 Majene Letkol Inf Rahman, pihaknya diundang oleh Kemenag di Aula Kemenag Kabupaten Majene Rabu (16/5/2018) siang tadi untuk membahas amalia Ramadhan, pelaksanaan berpuasa dan keamanan selama beribadah.

Acara yang dibuka oleh Kemenag Kabupaten membahas tentang keseragaman jadwal imsak dan buka puasa pada Bulan suci Ramadhan tahun 1439 H/2018.

Turut hadir dalam acara itu, Wakil Bupati Majene Lukman SPd.,M.Pd, Kapolres Majene yang diwakili oleh Kabag Sumda Kompol Asrina Basri, para Kasi OPD, Pontren Kemenag Dr. H. Andi Amrullah Akil Lc. M. Ag, Kepala Seksi Pendidikan Agama islam Drs. Hasbi M. Pd, Pasi Log Dim 1401/Majene Kapten Inf Muh Kasim, Kepala BMKG kab Majene, Kepala KIA se Kabupaten Majene dan para pengurus imam mesjid Kabupaten Majene.

Dari keputusan rapat kata Rahman disepakati untuk penggunaan sound sistem (pengeras suara) yang digunakan untuk tadarrusan maksimal selesai pada pukul 22.00 Wita, sedangkan orang yang mau bertadarrus tidak di batasi waktu, asal tidak menggunakan pengeras suara.

“Penggunaan sound sistem (pengeras suara) luar masjid untuk membangunkan sahur dimulai pada pukul 03.00 Wita (Durasi setiap 5 menit berhenti), dimulai pukul 03.30 hingga pukul 04.00 Wita atau sampai batas waktu imsak/menahan,” katanya.

Menurut dia, pelaksanaan puasa di Majene harus memperhatikan etika agama dan kearifan lokal yang berlaku pada masyarakat dalam membangunkan sahur.

Sedangkan untuk tanda waktu buka bersama dan imsak masyarakat diminta berpatokan pada dua tempat yaitu Masjid Agung llaikal Mashir dan masjid Raya Raudhatul Abidin Saleppa dengan melalui suara bunyi sirene bunyi panjang (Khusus bagi masyarakat wilayah kota Majene).

Lebih jauh katanya, kelompok sahur juga diberi kesempatan untuk melaksanakan kegiatannya dengan catatan.

Rahman berharap agar masyarakat dapat mematuhi ketentuan Kemenag dengan tidak mengenyampingkan keamanan disekitar tetmasuk mendata orang baru yang masuk ke wilayah atau memantau masyarakat yang berpotensi menganut paham radikal.

“Mari kita bingkai Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan, menjaga kerukunan antar umat beragama, dan menjalin silaturahmi dengan baik antar ummat beragama,” katanya.

Tak lupa dia mengimbau agar masyarakat tidak membakar petasan saat ibadah shalat taraweh dilakukan.

(ipunk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *