Peluk Palu dari Kami, Maaf.. Kami Pamit Sejenak

Opini

Mapos. AHAD Hari ini, genap 21 hari kami berada di sini. Di kota yang orang sebut sebagai tanah Kaili. Terlalu banyak kisah yang harus kami ingat baik-baik untuk kelak kami ceritakan kembali ke anak cucu. Tentang persahabatan, optimisme, harapan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak akan pernah mati.

Foto/istimewa

Ini bukan kalimat perpisahan dari kami. Tapi izinkan saya sebagai Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, bersama anak-anak kami, Tim Relawan & Bantuan Kemanusiaan Mahasiswa, pamit sejenak. Kembali ke Makassar dan ke kampus. Menyusun kembali rencana dan program untuk saudara-saudara baru kami di Palu, Sigi dan Donggala (PASIGALA).

Posko di Jalan S. Parman adalah rumah kedua kami saat ini. Meski bangunannya mulai retak karena hantaman gempa. Tapi Sejak Ahad Malam, 30 Sepetember 2018, dari sanalah kami memulai. Menyusun strategi penyaluran logistik, menembus daerah terisolasi, merangkai Purified Water/penyulingan air siap minum, membangun tim trauma healing dan banyak lagi.

Foto/istimewa

Untuk itu ucapan terima kasih saja tak cukup rasanya kami haturkan untuk Bapak Julius Hoesan, pemilik rumah. Pak Julius tidak hanya ‘menyerahkan’ rumahnya untuk dijadikan posko. Beliau juga menyumbangkan tenaga, pikiran, dan materinya. Padahal tiga pabrik rotan miliknya di Dupa, Taipa & Pantoloan rata dengan tanah diterjang tsunami.

***
Ahad pagi 21 Oktober 2018 kami pamit saudaraku… cinta dan kasih sayangku kubawa datang, rinduku kubawa pulang

Tapi ketahuilah, hati kami tersimpan di sini, di tanah Kaili. Kami akan membawa pulang harapan yang kami temui dari para penyintas. Kekuatan mereka akan menjadi energi bagi kami untuk datang lagi ke sini. Kita akan selalu bersama. Bergandengan tangan. Sampai PASIGALA benar-benar pulih.

Anak-anakku di tenda-tenda pengungsian… jangan pernah redupkan cahaya hidupmu. Tetaplah bermain, beribadah, berbahagialah! Hangat pelukmu nak adalah vitamin yang memberi kami kekuatan lebih.

Foto/istimewa

Insya Allah, setelah ini, tim kami akan datang untuk mendirikan mushallah darurat. Enam mushallah di enam titik camp pengungsian. Kami di FTI UMI Makassar juga sudah membuat program Cuti Dai bagi para dosen. Mereka akan cuti dari kegiatan mengajar di kampus tapi menjadi relawan untuk Trauma Healing & dakwah di enam titik camp pengungsian itu.

MAAFKAN KAMI…!!!! Meski hanya sedikit yang bisa kami lakukan, tapi yang sedikit ini, TITIPAN AMANAH DARI SEGENAP DERMAWAN yang sungguh sangat LUAR BIASA & tidak bisa kami sebutkan satu per satu, baik dari dalam maupun dari luar negeri, semoga donasi para dermawan itu berarti banyak bagi saudara kami di Palu, Sigi & Donggala

Kami hanya bisa mengerjakan apa yang kami bisa lakukan. Sebaik-baik yang kami bisa, sekuat-kuat yang kami mampu.

foto/istimewa.

Biarlah tangan ALLAH Subahanahu Wataalah, Tuhan Yang Maha Esa yang bekerja setelahnya. Menitipkan cinta dan keajaiban di dalamnya.

Peluk Palu dari kami!!!

Palu, 20 Oktober 2018

Atas nama Tim Relawan & Bantuan Kemanusiaan TERCINTA

Zakir Sabara H. Wata
Dekan Fakultas Teknologi Industri
Universitas Muslim Indonesia
Makassar

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

loading...