opini
Oknum Polisi Mamuju dan Arogansi

Opini

Oleh: Muh. Supriyanto (Aktivis Anti Kekerasan)

Sulawesi Barat tentu tidak butuh oknum polisi yang bermental “barbar” yang “sok jagoan”

Mapos. ADA perasaan miris bercampur marah yang nyaris tak tertahan ketika saya menyaksikan sebuah video aksi kekerasan terhadap mahasiswa organisasi FPPI Cabang Mamuju. Video tersebut sempat viral dan beredar luas di media sosial sejak kemarin (22/9/2018). Dari tayangan video tersebut terekam seorang laki-laki dengan dengan berseragam polisi tampak menendang seorang mahasiswa yang sedang menggelar aksi menolak kedatangan IMF di Bali pada Oktober mendatang. Aksi itu digelar di Tugu Tani, simpang lima, jalan Ir. Juanda, Kabupaten Mamuju, Sulbar.

Tentu tidak hanya saya, siapa pun yang melihat video ini pasti akan terpantik emosinya, kecuali bagi mereka yang telah menanggalkan rasa kemanusiaan.

Setelah viral beberapa saat melalui media sosial, akhirnya beberapa media pun merilis kejadian ini. Dari informasi beberapa media tersebut diketahui bahwa laki-laki yang melakukan kekerasan itu adalah oknum polisi berpangkat Brigadir. Sementara korban pemukulan dan penendangan adalah seorang mahasiswa.

Sebagai warga negara yang taat hukum tentunya kita tidak mendukung dan membenarkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi berpangkat Brigadir yang semestinya menjadi contoh bagi masyarakat.

Apa yang dilakukan oleh oknum polisi tersebut tidak hanya mencoreng wajah kepolisian di negeri ini. Tetapi, juga menambah rentetan panjang arogansi oknum aparat penegak hukum terhadap rakyat yang seharusnya dilindungi dan diayomi. Sulawesi Barat tentu tidak butuh oknum polisi yang bermental “barbar” yang “sok jagoan” sehingga dengan kekuatan yang dimilikinya ia melakukan “penindasan” kepada masyarakat.

Kita sepakat bahwa aksi penendangan dan pemukulan oleh oknum polisi di Mamuju adalah tindakan melanggar hukum. Tentu akan menjadi aneh ketika di satu sisi pihak kepolisian menyerukan kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri, tetapi di sisi lain, justru oknum polisi pula yang mempraktikkan tindakan tersebut.

Ironisnya lagi, aksi main hakim sendiri yang melibatkan oknum polisi justru dipertontonkan didepan orang banyak yang berada di lokasi kejadian. Apakah ini menjadi penanda bahwa rasa keamanan telah sama sekali hilang dari benak sebagian aparat ? Jika benar, maka kondisi ini tentunya akan semakin memberi ruang kepada kekalnya kekerasan.

Pascakejadian “memalukan” dan “menyedihkan” tersebut, kononnya Kapolda Sulbar dan Kapolres Mamuju telah meminta oknum polisi tersebut untuk tindak dan dihukum. Sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di negara hukum, kita memberikan apresiasi kepada Kapolda dan Kapolres atas sikap tegas terhadap oknum bawahannya yang bersikap arogan. Namun demikian, hukum tetap harus ditegakkan di negeri ini. Kapolda dan Kapolres juga harus menghukum pelaku sesuai hukum yang berlaku di negeri ini.

Ilustrasi.

Semoga saja peristiwa ini adalah yang terakhir dan tidak lagi terulang di masa depan. Saya yakin, masih banyak polisi-polisi baik di negeri ini. Jangan sampai hanya karena kelakukan oknum “kurang berpendidikan” ini justru dapat menghilangkan simpati masyarakat terhadap penegak hukum.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *