Merajut Prinsip Etika Jurnalisme Online

Opini
  • Muh. Sudirman Al Bukhari (Redaktur mamujupos.com)

Mapos, SEBAGAI sebuah sumber informasi yang utama, segala produk jurnalistik harus memberikan informasi yang sesuai dengan kaidah-kaidah etika jurnalistik. Setiap jurnalis diaharapkan untuk mengikuti kode etik jurnalistik agar tetap memberikan informasi yang cepat dan tepat dalam jurnalisme online. Kedua hal ini sama-sama penting dalam dunia reportase digital.

Menurut Bambang Harymurti, Ketua Dewan Pers tugas wartawan yaitu mencari, mengolah dan menyebarluaskan informasi yang diyakini merupakan kepentingan umum secara akurat dan tepat waktu. Namun ada hal-hal yang harus dipatuhi seperti, tidak boleh melakukan plagiasi, terbuka atau tranparan, tidak menerima suap, menyelidiki kebernaran dan memberitakannya, dan jujur.

Tidak boleh melakukan plagiasi. Tidak boleh menyalin kata-kata tanpa sumber yang jelas, sehingga jurnalis tidak boleh melakukan plagiasi.

Tidak boleh menyalin foto atau gambar-gambar lainnya tanpa izin yang jelas. Tidak boleh menggunakan karya orang lain, kecuali orang tersebut bekerja dalam satu organisasi yang sama dan telah dibayar oleh organisasi tersebut.

Semua pembuat berita memiliki karyanya sendiri. Namun ada pengecualian untuk hal tertentu, seperti lingking (menghubungkan suatu berita ke linklainnya yang terkait dengan suatu berita, bukanlah plagiarisme), misalnya,

“Saya sudah sangat lemah dan sakit untuk dipindahkan ke rumah sakit,” katanya kepada Guardian, dikutip dari Mirror.

Tautan adalah penyebaran web. Benar dan etis untuk merangkum informasi dari sumber lain dan kemudian menautkan langsung ke sumber itu. Itu adalah penggunaan yang sangat baik untuk menghubungkan (lingking)

Namun tidak benar dan tidak etis untuk menyalin sesuatu secara keseluruhan atau substansial – apakah jurnalis tersebut menautkan atau tidak. Itu sebabnya jurnalis tidak dapat menyalin foto dan menggunakannya kembali – foto tidak dapat diringkas atau diparafrasekan.

Terbuka atau Transparan. Jangan pernah menyembunyikan apapun dari pembaca atau khalayak. Jika ada kaitan antara kreporter dan peristiwa – katakan dalam tulisan tersebut
Jika ada sebuah kaitan antara berita dan organisasi dan apapun yang ada dalam peristiwa tersebut, katakanlah dalam tulisan itu.

Wartawan harus selalu menjelaskan bagaimana mereka mendapatkan informasinya. Apa yang mempengaruhi pelaporan cerita itu? Apa yang mempengaruhi keputusan untuk menerbitkannya? Semakin transparan jurnalis, semakin banyak masyarakat mempercayai beritanya.

Kita tahu bahwa ada wartawan yang mengambil uang dan hadiah sebagai imbalan untuk liputan berita positif, atau ulasan produk dan sebagainya.

Seorang wartawan tidak boleh menerima suap. Jangan menerima segala macam bentuk pembayaran dari berbagai sumber untuk berbagai peristiwa.

Kembalikan uangnya atau barang yang diberikan oleh politisi, perusahaan, dan sebagainya.
Jika tidak bisa mengembalikannya, donasikan untuk amal.

Jika menerima hadiah atau uang dari sumber-sumber tertentu, orang tersebut bukanlah jurnalis, tetapi hanya menawarkan mereka jasa iklan (ini adalah contoh jurnalis yang buruk. Jurnalis yang tidak memiliki etika).

Memeriksa, dan memberitakan kebenaran
Jangan percayai apapun, hingga diperiksa secara menyeluruh.

Satu sumber tidaklah cukup. Bahkan jika organisasi berita lainnya telah menerbitkan informasi itu, jangan mengulangnya hingga jurnalis tersebut melakukan verifikasi ulang.
Mencari fakta-fakta yang kokoh, bukan pendapat.
Temukan bukti- bukan rumor

Berbicara langsung kepada orang yang terlibat. Publikasi online dilakukan secara instan, dan terkadang membuat jurnalis mempublikasikan berita ke situs web tanpa memeriksanya dengan saksama. Ini sedikit berbeda dengan radio, televisi atau cetak, karena melalui internet, banyak orang dapat menyalin dan mengirim ulang berita tersebut melalui e-mail, atau teks, dan media sosial melalui screenshot yang telah dipublikasikan secara online.

Namun jurnalis tersebut masih dapat memperbaiki kesalahannya dengan cepat secara online, hanya dengan melakukan penyuntingan di situs awal berita tersebut dipublikasikan, namun dia tidak dapat memperbaiki semua salinan yang tersebar di Internet dengan kecepatan kilat.

Hal penting dan harus diperhatikan disini adalah tentang bagaimana jurnalis bersikap hati-hati dalam menerbitkan berita online, jika ceritanya melibatkan klaim tentang seseorang, maka jurnalis tersebut harus berusaha keras untuk mendapatkan sisi cerita orang tersebut sebelum dia mempublikasikannya karena bisa berakibat fatal jika pemberitaan yang salah menyebar dan perusahaan media tersebut bisa dituntut secara hukum.

Jujur. Dari kelima prinsip etika yang telah dibahas, keempat prinsip diatas dapat diringkas dalam prinsip yang kelima ini. Satu-satunya hal yang mengangkat seorang jurnalis diatas informasi adalah kebenaran.

Tanpa kejujuran, seorang jurnalis tidak memiliki sesuatu spesial untuk ditawarkan ke publik. Akurasi dengan fakta-fakta menjadi bagian yang vital dalam jurnalisme. Kejujuran ini harus diberlakukan di setiap aspek dalam pekerjaan jurnalistik.

Ini semua tentang cermat dan teliti dalam kejujuran. Jangan mencuri, jangan berbohong, jangan menyembunyikan apapun, jangan mempublikasikan kisah karena seorang pemimpin politik membayar jurnalis, dan jangan menutup-nutuipi kisah karena pemimpin politik itu membayar jurnalis. Bekerja keraslah untuk mendapatkan kebenaran.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

loading...