Memprihatinkan, Banyak Pelaku Kejahatan di Majene Masih Dibawah Umur

Majene

Mapos, Majene – Hari ini Rabu (2/5/2018) adalah Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) merupakan momentum untuk merefleksikan dunia pendidikan secara menyeluruh. Prilaku anak usia sekolah yang belakangan banyak menorehkan noktah hitam dalam deretan sebagai pelaku kejahatan di Majene juga menjadi salah satu tanggungjawab semua pihak.

Fenomena ini menurut Kapolres Majene AKBP Asri Effendy merupakan tanggungjawab orang tua, masyarakat terlebih pemerintah.

“Mari kita buat perenungan lewat Hardiknas. Momentum seperti ini dapat dijadikan sebagai pembejaran bagi kita semua untuk turut ambil bagian dalam mendidik anak, mulai dari rumah, sekolah hingga ke lingkungan disekitar kita. Tanamkan kepada anak-anak akidah dan akhlak mulia supaya menjadi generasi penerus dengan iman kokoh,” ungkap Asri Effendy Rabu (2/5/2018) di Mapolres Majene.

Jika anak-anak ditanami nilai-nilai agama sejak dini, maka diyakini anak tersebut akan terbentuk menjadi manusia berakhlakul karimah dan tangguh.

Dia berharap dalam memperingati Hardiknas, anak didik di Majene akan lebih baik.

Keprihatinan Asri Effendy atas merosotnya moral anak usia sekolah di Majene bukan tanpa alasan. Pasalnya, tercatat jumlah kasus pidana yang ditangani pihaknya selama rentang Januari 2018 hingga April 2018 mencapai puluhan kasus pidana yang melibatkan anak dibawah umur dan masih usia sekolah.

Dalam satu kasus katanya, anak usia sekolah yang terlibat dua sampai lima orang.

“Yang kita tangkap kemarin itu banyak. Ada sepuluh kasus. Masing-masing melibatkan dua bahkan sampai lima orang pelaku,” beber Asri Effendy.

Data yang diperoleh Mapos, tidak ditemukan kasus yang menonjol dengan melibatkan anak dibawah umur.

“Kebanyakan kasus pencurian dan perkelahian. Dari 10 kasus, satu diantaranya kita lanjutkan,” aku Bripka Fahrul – Kanit PPA Polres Majene beberapa waktu lalu.

Kasat Reskrim Polres Majene AKP Syaiful Isnaini mengamini pernyataan Fahrul. Namun dia menambahkan, kasus anak dibawah umur yang marak terjadi yaitu isap lem fox.

“Kita pulangkan semua ke orang tua masing-masing. Kita sebatas membina saja,” katanya

Terpisah Wakapolres Majene Kompol Muh Arif mengatakan, penanganan kasus yang melibatkan anak dibawah umur akan diberlakukan sesuai aturan yang ada.

Upaya yang dilakukan pihak kepolisian katanya antara lain koordinasi kepada pihak terkait.

“Palaku maupun korban anak dibawah umur tetap dilakukan pembinaan supaya tidak merusak masa depan anak. Mereka adalah asset negara dan pelanjut. Mereka harus diberikan pembinaan supaya tidak rusak selamanya,” kata Arif.

Dia berharap agar masyarakat atau orang tua supaya turut andil dalam membina anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

(ipunk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *