Mamuju Belum Bebas Gizi Buruk, Dimana Sang Penolong?

Kesehatan

Mapos, Mamuju – Kasus balita gizi buruk selama ini dianggap hanya terjadi di daerah tertinggal, terpencil maupun perbatasan. Namun siapa sangka, ternyata Kota Mamuju, Sulawesi Barat pun tak lepas dari persoalan gizi buruk.

Perhatian pemerintah Kabupaten dan Provinsi Sulawesi Barat masih jauh dari persoalan ini.

Di Polman dan Mamuju memang masih mengemban jajaran terbesar provinsi dengan kasus balita gizi buruk terbanyak di Sulawesi Barat. Faktanya, kasus balita gizi buruk masih terjadi di daerah, bahkan jauh dari pantauan pemerintah.

Dinda Wahyu (7), Pasien Gizi Buruk di Perawatan Campaka 6 RSUD Mamuju.

Adalah balita bernama Dinda Wahyu (7), penderita gizi buruk yang tinggal bersama ayah, ibunya di sebuah rumah di Desa Kabuloang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju. Kondisinya sangat memprihatinkan, berbeda jauh dengan balita seusianya yang banyak menghabiskan waktu untuk bermain.

Dinda Wahyu menjalani sepanjang waktunya dengan tergolek lemah tak berdaya di atas ubin yang beralaskan kasur lapuk di RSUD Mamuju. Tubuhnya kurus kering, kakinya tinggal tulang yang terbungkus kulit, dengan bola mata yang agak menjorok ke luar.

Sang Ibu, Jumaidah (36) mengatakan, kekurangan gizi yang menimpa Wahyu telah menggerogoti sistem pernapasannya.

“Makannya sedikit, padahal waktu lahir berat badannya bagus 3 kilogram. Saya juga kasih ASI tapi begitu di atas satu tahun terus turun berat badannya,” ujar Jumaidah dengan suara lirih.

Jumaidah, Ibu Wahyu terlihat pasrah.

Jumaidah nampak terlihat pasrah dengan keadaan anaknya dan berkeinginan dapat membawa Wahyu berobat ke rumah sakit yang memiliki fasilitas memadai. Namun apa daya, Ia terkendala biaya.

Walaupun pengobatan Wahyu dijamin BPJS. Terkadang menjadi dilema untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Ayah Wahyu bekerja sebagai nelayan sedangkan Jumaidah hanya ibu rumah tangga.

“Kami berharap, Pemerintah Daerah dapat membantu wahyu untuk pengobatan lanjutan di salah satu rumah sakit di Makassar. Selama Wahyu dirawat di RSUD Mamuju perhatian pemerintah hingga kini belum ada. Kami sangat memerlukan uluran tangan pemerintah dan para donatur, guna meringankan beban kami,” tutur Jumaidah.

Apa yang menimpa Wahyu seakan mengingatkan kita pada peribahasa Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan justru tampak. Ini menunjukkan bahwa PR pemerintah dalam melawan gizi buruk seharusnya bisa dieliminasi mulai dari daerah.

(toni)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.