Lahan Warga Dicaplok Masuk HGU, BPN Pasangkayu Enggan Terbuka

Mamuju Utara

Mapos, Pasangkayu¬†–¬†Keresahan warga di Desa Lariang akhir ini cukup beralasan. Betapa tidak, wilayah yang bahkan telah bersertifikat tersebut tak bisa lagi dijadikan hak agunan sebagai pinjaman kredit untuk tambahan modal usaha.

Hal ini dikarenakan, lokasi yang dijadikan jaminan dan yang telah bersertifikat itu dicaplok oleh pihak BPN sebagai areal Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit PT. Letawa.

Anehnya, sebagian wilayah di Desa Lariang yang dicaplok oleh BPN sebagai HGU hanya dilihat berdasarkan foto satelit.

Hal tersebut dikemukakan warga Desa Lariang yang saat itu dipanggil untuk melihat wilayah HGU melalui layar computer milik BPN.

Kepala BPN Pasangkayu, Budi Doyo, saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya telah menyampaikan ke warga yang lokasinya dicaplok untuk mempersiapkan bukti sertifikat maupun surat lainnya sebagai pendukung kepemilikan lahan.

“Kita akan teliti bukti surat-surat dari warga, setelah itu, kita akan laporkan ke Kanwil Pertahanan,” ujarnya.

Terkait dugaan adanya tumpang tindih sertifikat, Budi Doyo menjelaskan, HGU terbit di tahun 1993, kuat dugaan ada warga yang mengajukan permohonan pembuatan sertifikat yang terbit, karena pada saat itu belum ada peta yang memuat seluruh wilayah Kabupaten Pasangkayu.

Budi Doyo berdalih, pemetaan, baru disahkan pada tahun 2014, sehingga sangat mungkin ada sertifikat yang lolos permohonan.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Lariang, Abd Rajad Yasim saat ditemui mengatakan, saat dipanggil oleh BPN, dirinya bersama warga lainnya meminta agar BPN dapat membuka peta HGU. Namun, permintaan kami tidak dikabulkan, alasannya dokumen negara.

“Saya minta agar peta HGU dibuka, tapi BPN tidak mau, alasannya dokumen negara,” ujarnya.

Ia mengatakan, dirinya bersama Kepala Desa Lariang hanya diperlihatkan foto satelit.

“Saya dan Kepala Desa Lariang, hanya diperlihatkan foto satelit oleh Pihak BPN,” sebutnya.

Kantor BPN Pasangkayu.

Menurut Abd. Rajad, setelah kami diperlihatkan foto satelit, disitu terpampang jelas ada dua garis. Garis merah masuk wilayah HGU dan garis biru tidak (diluar HGU).

“Sangat jelas disitu, posisi Desa Lariang berada pada garis biru,” terangnya.

(joni tonapa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *