OPINI
Kita Butuh Pemimpin Progresif

Berita Terbaru Opini

Oleh : Andy Echa

IMG_20171012_103145-1024x565
Andy Echa (Dewan Pembina Gerpak)

MENYOAL kata “progresif” sebenarnya tidak hanya digunakan dalam ranah hukum, tetapi juga digunakan dalam hal kepemimpinan. Mungkin muncul pertanyaan, dua entitas tersebut (hukum dan kepemimpinan) hampir tidak punya implikasi khusus.Namun tentu hal itu harus kita telaah secara seksama makna dan seperti apa konsep progresif itu.

Kata Progresif berasal dari kata progress yang berarti kemajuan. Dimana Pemimpin hendaknya mampu mengikuti perkembangan zaman, mampu menjawab tantangan zaman dengan segala dasar di dalamnya, serta mampu melayani masyarakat dengan menyandarkan pada konsep-konsep norma dan moralitas. Esensinya tentu tidak bisa dielakkan lagi. Namun jangan salah klaprah, fleksibel terhadap perkembangan zaman bukan berarti kita harus melupakan identitas yang kita miliki

Setelah kita bersama-sama mengetahui gambaran dari makna dan konsep progresif. Kita mencoba melihat gambaran yang masih sangat umum tersebut akan coba menyelami lebih jauh soal Pemimpin yang Progresif.

PEMIMPIN HARUS BERSIKAP OTENTIK

Tidak banyak kesusaian antara das sollen (teori) dan das sein (kenyataan) di Indonesia. Bersikap otentik artinya seorang pemimpin harus bisa bersikap sesuai dengan tujuan aslinya.adalah sebuah kenyataan saat ini dimana banyak Undang-Undang, peraturan-peraturan, maupun keputusan-keputusan yang kita miliki. Tetapi tidak jarang juga hanya berakhir sebagai kertas usang. Sehingga seorang pemimpin yang bersikap otentik, akan secara konsisten melaksanakan apa yang menjadi tugas dan tujuannya. Bukan hanya dalam tataran teoritis, tetapi juga praksis.

PEMIMPIN YANG ANTI STATUS QUO

Kemapanan memang baik, namun kemapanan yang sekarang sedang dinikmati Indonesia tidaklah sebaik seperti arti sesungguhnya. Indonesia sedang terkurung dalam krisis yang berkepanjangan. Praktek KKN seolah-olah mulai mendapatkan legalitas dan kelumrahan. Jika tidak ada pemimpin yang anti terhadap status quo (semua non revolusioner), maka negara ini juga tidak akan pernah dapat beranjak dari krisis fundamental. Gawatnya lagi, pembangunan segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara bisa saja mengalami kemunduran (berada di gigi “R”) .

Dua hal tersebut diatas adalah hal yang semestinya dijadikan sebuah spirit dalam menentukan seorang pemimpin agar apa yang menjadi cita cita para pendiri negara ini bisa tercapai . Kita butuh pemimpin yang progresif , inovatif dan memiliki ketegasan dalam mengambil sebuah keputusan dengan penuh rasa tanggung jawab .

Jika kita ingin berbicara jujur, saat ini potret buram dinegara kita begitu memprihatinkan. Mata publik saat ini tertuju pada akrobat maut yang dipertontonkan oleh Setia Novanto yang kini dijerat soal tindak pidana korupsi pengadaan KTP Elektronik, dengan adanya hal tersebut kita akan mengarahkan perhatian pada elektabilitas partai Beringin yang saat itu dinahkodainya. Saat ini kita tidak sedang menyorot sebuah partai namun elektabilitas pemimpimpinnya akan berimplikasi pada elektabilitas partainya .

Lalu mungkin handai taulan akan bertanya , apa hubungannya antara kepemimpinan Progresif dengan apa yang dilami Setia Novanto, jawabannya simpel dimana pemimpin progresif tentu harus punya sikap dan komitmen untuk tidak berlaku korup . Artinya jangan sampai Kata Progresif hanya dimaknai pada sikap terburu buru dalam mengambil sikap dan tindakan.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *