Kesalahan Timnas Indonesia Ketika Kalah dari Malaysia

Berita Terbaru Berita Utama Olahraga

7f995f57-5248-4146-88ab-d1fa96bf221d_169Mapos Timnas Indonesia U-22 punya kenangan buruk kala berhadapan dengan Malaysia di Kualifikasi Piala Asia 2018. Garuda Muda babak belur dihajar 0-3 oleh pasukan Harimau Malaya pada Juli lalu.

Penampilan Indonesia secara kesuluruhan sejatinya tak buruk, namun ada beberapa kesalahan elementer yang menjadi soal. Yakni, koordinasi pertahanan tak optimal dan minim penyelesaian akhir.

Koordinasi Pertahanan Lemah

Tiga gol yang bersarang ke gawang Indonesia terjadi di 30 menit pertama di mana sebagian besar tercipta lewat skema bola mati. Para pemain belakang kerap salah dalam membaca arah bola sehingga membuat pemain lawan leluasa memanfaatkan bola liar atau bukan lewat skenario matang.

Persoalan mendasar lainnya adalah salah antisipasi. Para pemain bertahan tampak statis dan kurang inisiatif menutup pergerakan lawan. Ini membuat pemain Malaysia tidak mendapat gangguan berarti.

Keputusan Luis Milla Aspas untuk mencadangkan Hansamu Yama Pranata saat melawan Malaysia di laga perdana Kualifikasi Piala Asia pun layak disorot. Sebab, pertahanan Indonesia justru tampil lebih apik ketika pemain 22 tahun ini dimainkan.

Terbukti pertahanan tim Merah Putih bermain lebih solid ketika Hansamu bermain. Indonesia berhasil menahan imbang Thailand 0-0 dan menang telak 7-0 atas Mongolia.

Kala itu, Luis Milla mengaku masih mencari kerangka tim terbaik. Keputusan untuk tidak menurunkan Hansamu dan Evan Dimas sebagai starter di laga perdana hanya bagian dari uji komposisi pemain.

Baik Hansamu dan Evan akhirnya rutin dimainkan di dua laga berikutnya melawan Thailand dan Mongolia. Kedua pemain ini pun rutin masuk line up di sepanjang babak Grup B SEA Games 2017.

Pertahanan Indonesia bermain cukup solid di fase grup SEA Games 2017. Permainan lugas Hansamu di lini belakang berhasil memberikan rasa aman bagi penjaga gawang Indonesia yang bergantian dikawal Kurniawan Kartika Ajie dan Satria Tama.

Sayang, Hansamu dipastikan absen akibat akumulasi kartu kuning. Ini jelas menjadi kerugian bagi Indonesia yang mesti berjuang habis-habisan melawan tuan rumah, Malaysia.

Namun, Indonesia masih memiliki Ryuji Utomo dan Andi Setio yang punya kualitas tak jauh berbeda. Hanya saja, kedua pemain ini jarang diturunkan berbarengan, terutama Ryuji yang baru memiliki menit bermain sebanyak 15 menit saat melawan Kamboja.

Minim Penyelesaian Akhir

Penyelesaian akhir memang masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia. Dua ujung tombak, Marinus Wanewar dan Ezra Walian, masing-masing baru mencetak satu gol dari total tujuh gol yang dikemas Garuda Muda.

Gol tim Merah Putih lebih banyak tercipta dari lini kedua. Septian David Maulana yang berperan sebagai gelandang serang di belakang striker sukses mengemas dua gol.

Sementara tiga gol lainnya masing-masing dicetak Muhammad Hargianto, Saddil Ramdani, dan Febri Hariyadi.

Indonesia sebenarnya bisa mencetak gol lebih banyak jika mampu memanfaatkan sederet peluang yang dimiliki. Sedikitnya ada lima gol tambahan yang bisa terjadi jika tidak mengandalkan ego pribadi.

Saddil misalnya. Pemain Persela Lamongan kerap melakukan penetrasi dari sayap ke pertahanan lawan dan melepaskan tembakan dari jarak jauh. Namun, tak semuanya akurat dan melenceng.

Sementara Ezra dan Marinus kurang dimanja dengan umpan-umpan matang di depan gawang. Ini membuat kedua pemain tersebut lebih banyak berfungsi sebagai tembok di areal pertahanan lawan.

Meski demikian, kekuatan Indonesia dari hari ke hari makin melesat. Dua persoalan mendasar (koordinasi pertahanan tidak optimal dan minim penyelesaian akhir) tim Indonesia sudah teratasi. Tinggal giliran mental pemain yang akan menentukan hasil di lapangan. Terlebih Malaysia berstatus sebagai tuan rumah yang akan didukung ribuan suporternya.

(*)

 

 

Sumber: cnnindonesia7f995f57-5248-4146-88ab-d1fa96bf221d_169

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *