Kepanikan Warga Mamuju Saat Gempa 5,2 SR Guncang Mamasa

Peristiwa

Mapos, Mamuju – Sore tadi, sebagian masyarakat Kota Mamuju ada yang beraktivitas dan ada beristirahat usai melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Meskipun tak sesibuk biasanya karena bertepatan dengan memasuki waktu shalat magrib.

Namun getaran gempa pukul 17.42 Wita, mengagetkan mereka. Warga yang berada di dalam rumah, pertokoan maupun berdekatan dengan gedung-gedung berlari dan berhamburan.

Mereka mengaku panik. Meski kekuatan gempa hanya 5,2 skala richter, tapi getarannya begitu dirasakan.

Rabu (7/11/2018), warga yang tinggal di kawasan Jalan Ahmad Yani, dan M. Tahir Imam Lapeo, Kelurahan Binanga, Mamuju keluar rumah karena khawatir dampak yang ditimbulkan gempa itu. Mereka juga takut adanya gempa susulan.

“Gempa membuat kaca rumah bergetar dan beberapa benda yang digantung di dinding rumahnya bergetar,” kata Ria, salah satu warga.

Warga di Mamuju, kata dia, sudah cukup cerdas, yakni begitu gempa mereka langsung keluar rumah atau gedung guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Menurutnya, hampir setiap harinya ada gempa. Hanya saja memang gempa skala kecil sehingga terkadang tidak dirasakan getarannya oleh masyarakat di Mamuju itu.

Hal senada juga disampaikan Rudi, warga Jalan M. Tahir Imam Lapoe. Saat gempa mengguncang, penghuni rumahnya langsung berhamburan keluar.

“Gempa dirasakan cukup keras,” katanya.

Nampak Karyawan Bank Sulsebar, Mamuju keluar dari kantornya sesaat getaran gempa terasa.

Seperti sebelumnya diberitakan, berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di koordinat 2,92 LS-119,41 BT berada di 9 km tenggara Mamasa, Sulbar dan dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Menurut BMKG IV Makassar, Karnain, gempa yang terjadi di Kabupaten Mamasa selama beberapa hari ini masuk kategori sedang dan tidak berpotensi untuk menimbulkan kerusakan yang cukup besar.

BMKG juga mengimbau agar masyarakat tidak terpengaruh dengan berita bohong (hoax) yang bisa menimbulkan kegaduhan serta kepanikan.

“Kami menghimbau kepada masyarakat dalam menerima informasi lewat satu pintu melalui pemerintah daerah tanpa mendengar informasi dari luar,” kata Karnain saat menggelar pertemuan dengan pemerintah daerah Mamasa, Masyarakat di lapangan Kondosapata, Mamasa, Rabu (7/11/2018), pukul 08.30 Wita.

Karnain mengatakan, BMKG tetap siaga memantau situasi bencana dan kejadian setiap saat.

Menurutnya, gempa di Mamasa tidak sama dengan daerah lain seperti Palu.

“Gempa ini ringan dan tidak menimbulkan nampak yang besar dan tidak berbahaya,” terangnya.

Karnain menyatakan, sumber gempa berasal dari pergeseran lempeng bumi sesar lokal (sesar saddang).

Terkait adanya informasi yang menyatakan ada rongga besar dibawah tanah Mamasa, itu tidak bisa di buktikan tanpa melalui penelitian.

“Dan saya katakan informasi itu adalah hoax,” sebutnya.

Ia mengatakan, energi kekuatan gempa tersebar dan tidak merusak.

“Jadi gempa di Mamasa tergolong dalam bentuk parabola yang artinya mulai dari guncangan besar sedang lalu mengecil namun jarak waktu berakhir belum bisa dipastikan,” ungkapnya.

(usman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

loading...