Kepala BI Sulbar : Inflasi Sulbar 2017, Dipicu admistereed frices

Berita Utama

Mapos, Mamuju – Menekan pengendalian Inflasi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulbar menggelar rapat kerja pengendalian inflasi daerah tingkat provinsi Sulbar. Rapat tersebut dilaksnakan di lantai 2 Kantor Perwakilan BI Sulbar dan dihadiri oleh Sekprov Sulbar, Drs.H.Ismail Zainuddin, Ketua DPRD Hj.Amelia Aras, serta Anggota DPRD dan pimpinan OPD lingkup Pemprov Sulbar.

Sekprov Sulbar, Ismail Zainuddin mengatakan, sesuai dengan Kepres nomor 2 Tahun 2017 tentang Tim TPID, dimana ketua TPID untuk tingkat Provinsi, diketuai oleh gubernur dan wakilnya adalah kepala perwakilan BI provinsi.

“SK tim TPID ini perlu direvisi bila masih mengacu kepada aturan lama,” ungkap Ismail.

Dokumentasi, Mapos.com

Sementara itu, kepala perwakilan BI Sulbar, Dadal Angkoro menyebutkan, tujuan diadakannya rakor tersebut adalah untuk mengevaluasi Pengendalian Inflasi di tahun 2017 serta membicarakan persiapan yang akan dilakukan untuk pengendalian inflasi di tahun 2018.

Mengurai upaya pengendalian Inflasi yang telah dilakukan oleh TPID Sulbar, keterlibatan BI menjadi bagian di dalamnya.

Dadal menjelaskan, BI memiliki Roadmap dalam rangka pengendalian inflasi yang meliputi tindakan jangka pendek, menengah dan panjang, juga langkah-langkah teknis yang dilakukan dalam mengatasi masalah yang dapat memicu tingginya laju inflasi.

Untuk itu, Sambung Dadal menyikapi tingkat inflasi Provinsi Sulbar untuk tahun 2017, yang berada di angka , 3.79%, lebih tinggi dari tingkat Inflasi nasional yang berada di angka 3.61%.

Dadal mengungkapkan, pemicu tingginya tingkat Inflasi Sulbar 2017, adalah admistereed frices, atau harga yang dikendalikan pemerintah seperti Tarif Dasar Listrik (TDL).

Meskipun angka inflasi Sulbar tahun 2017 cukup tinggi, kata Dadal, tapi kita boleh sedikit berlega hati karena yang paling berkontribusi terhadap Infasi Sulbar adalah Administereed Prices.

Aspek lain yang turut memicu inflasi di Sulbar meskipun tidak signifikan adalah harga beras yang cenderung tidak stabil, terutama di Bulan Desember 2017.

Dadal menyebutkan, hal ini dipicu oleh faktor cuaca sehingga panen terganggu yang berdampak pada lambatnya distribusi beras ke pasar.

Pemicu inflasi beras juga diterangkan oleh Kabag Distribusi BPS Sulbar, Markus.

Ia mengatakan, selain harga TDL dan harga beras, inflasi lainnya di Sulbar di picu oleh harga beberapa jenis ikan, seperti Ikan layang, cakalang dan bandeng.

Sementara itu, Kepala Unit Pelayanan Bulog Divre Mamuju, Ismail pada presentasenya menjelaskan, salah satu pemicu Inflasi adalah harga beras. Namun Bulog Divre Mamuju tetap menggaransi ketersediaan Stok beras untuk 3 bulan ke depan hingga panen berikutnya.

(usman) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *