Cakrawala SDK
Jemputlah Perubahan

Opini
Oleh : Dr. H. Suhardi Duka MM

Mapos, TAHUN 2017 baru saja kita lewati, dan kita berada di awal tahun 2018, banyak yang memberi saran agar kita menyesuaikan dan ikut dengan trend perubahan.

Pandangan ini tidak salah namun Zonanya sudah berubah dan ini sudah jaman now.
Seperti halnya kapal laut dan kereta api sudah dirasa lambat, saat ini serba cepat. Akibatnya udang lobster dan kepiting hidup dari indonesia bisa dinikmati di restoran Honkong hanya dalam waktu tidak lebih dari 2×24 jam.
Kedepan semakin dinamis dan cepat berubah. Kalau anda ingin survive jangan hanya ingin berubah atau menunggu di depan pintu perubahan itu datang tapi jemputlah perubahan itu.
Mari kita amati perusahan perusahan yang dimasa lalu berjaya dan kini sementara menjadi yang mengejar. Seperti TVRI. Dia adalah media monopoli dan menguasai seluruh pasar dan bahkan opini publik. Karyawannya punya kelas tersendiri karyawan BUMN atau departemen yang lain cukup minder bila berhadapan dengan karyawan TVRI di era 90 an kebawah. Sekalipun karyawan dari pertamina.
Saya tahu karena sering bersama sama ikut diklat. Mereka juga pemilik NIP 05, hanya berbeda Dirjen. Dia Dirjen RTV/RADIO TV dan saya di Dirjen Penum/Penerangan Umum Deppen.
Bagaimana TVRI sekarang?.. Yah tertinggal pemirsanya lari tinggal sedikit yang membuka chanel TVRI dan sedikit perusahaan yang mau beriklan di sana walaupun murah. Iya tersaingi oleh TV swasta yang datang dengan konsep perubahan yang matang. Dunia dalam berita yang menjadi andalannya tidak ada lagi yang mengikuti karena monoton dan jauh tertinggal oleh TVOne dan Metro. Nanti sekitar tahun 2010 baru sadar, TVRI mulai membenahi diri dan saat ini mulai dia yang mengejar dengan berbagai variasi perubahan akan siaran dan hiburan. Namun belum bisa bersaing, tapi minimal ia telah berubah.
Selanjutnya PELNI. Masih ingat perusahaan pelayaran nasional Indonesia yang kapal-kapalnya dulu menguasasi pelabuhan dan penumpang? Mulai kapal perintis sampai kepada kapal-kapal besar seperti Tidar, Rinjani, Kalimutu dan lain lain. Dari pelabuhan kepelabuhan ribuan orang antri untuk berlayar bersama kapal Pelni, termasuk saya masih merasakan kapal ini.
Sampai dengan akhir 90-an perusahaan ini mulai datar, kemudian menukik turun. Kenapa? Karena dia tidak tanggap menjemput perubahan, lambat menghitung bahwa akan terjadi ledakan penumpang pesawat low cost.
Dengan pesawat tiket murah menyamai harga tiket kapal laut penumpang akan memilih pesawat karena lebih cepat. Akibatnya kapal-kapal Pelni menjadi sepi penumpang, modal pengadaan kapal belum kembali akhirnya kredit menjadi macet.
Untuk itu kalau ingin survive di jaman now, jangan pernah menunggu perubahan di depan pintu anda. Tapi jemputlah perubahan itu. Mungkin saja saat ini anda kaya atau perusahaan anda berjaya. Namun jangan berpikir bahwa ini aman bisa diwariskan kepada generasi anda. Belum tentu perusahaan itu aman kalau generasi anda tidak mampu menjemput perubahan itu.
Sungguh banyak perusahaan keluarga rontok. Yang dulunya berjaya, tapi kini tinggal nama. Seperti perusahaan rokok Bentoel, perusahaan jamu Nyonya Meneer, Mustika Ratu dan lain lain.
Tentu tidak ketinggalan di Sulbar dan juga Mamuju pada khususnya. Sampai dengan tahun 2000, trio perusahaan kontruksi di Mamuju masih se imbang. Karya Jasa, KMP dan Passokkorang.
Kurva SIGMOID telah mengingatkan semua pelaku usaha. Kurva Sigmoid adalah kurva S baring dimana pada mulanya perusahaan akan tumbuh pesat, kemudian datar dan akhirnya menurun.
Pada saat sesudah mengalami pertumbuhan yang pesat, maka akan terjadi suasana datar karena hampir semua kapasitas sudah terpasang, konsumen baru semakin sedikit, maka pada saat inilah dibutuhkan perubahan. Kalau tidak, maka anda akan mulai mengalami penurunan pendapatan dan permasalahan yang akut.
Secara teori setiap badan usaha akan mengalami kurva sigmoid. Akan tetapi pada saat mau menurun, maka bentuk lagi kurva baru agar bisa kembali tumbuh. Tumbuh ditahap kedua tidak mudah. Bagi setiap perusahaan butuh agility dan strategi yang tinggi. Utamanya perubahan yang kompotetif dan tangkas terhadap perubahan itu sendiri.
Di era dulu produk produk makanan yang cepat busuk dan basi sulit untuk diperdagangkan, seperti ikan, daging dan binatang hidup. Kini tidak lagi, akibat kecanggihan kemasan dan kecepatan layanan pengiriman menjadi hal yang biasa. Dampaknya produk-produk daging, ikan dan buah segar yang tadinya bisa dimonopoli, kini menjadi kompotitif dengan produk negara lain. Jadi jangan heran kalau produk kembang hidup saja bisa diimpor dari Cina.
2018, akan semakin memaksa dunia usaha agar efisien dan peninngkatan kualitas produk sesuai tuntutan konsumen. Demikianpun dengan birokrasi, dituntut untuk mampu melayani dengan cepat dan tanggap.
D inegara seberang saja seperti Singapura, kecepatan dan ketepatan layanan semakin nyata. Kerja antara dunia usaha dan birokrasi semakin setara.
Di Indonsia justru kerja birokrasi semakin lelet. Budaya Belanda masih melekat, sedangkan iya lahir tidak lagi di jaman Belanda.
Di jaman now manusia tidak ada kelas, semua sama. Demikianpun ditengah masyarakat. Yang membedakan orang di jaman now adalah kelas harga tempat duduk. Bila kamu mau bayar mahal 3 kali harga tempat duduk biasa, maka anda akan duduk di kelas bisnis. Dan bila mau membayar 5 kali, maka anda akan duduk di first class pesawat. Kata Reanald Kasali, “ketika birokrasi akan di reformasi, maka otaknyapun harus lebih dahulu diwarnai. Ketika perusahaan mencetak gagasan-gagasan baru, cara berpikir perlu dibentuk”.
Demikian juga di bank-bank. Bila anda tidak mau antri, maka bertransaksilah yang sebanyak-banyaknya agar anda masuk kelas priority dilayani secara khusus. Setiap layanan tentu disesuaikan dengan harganya. Untuk itu siapa yang mampu memberikan layanan lebih, maka birokrasinya akan unggul. Siapa yang mampu menciptakan produk yang lebih, maka akan maju perusahaannya.
Demikian juga karyawan. Siapa yang memiliki kemampuan lebih, maka diapun akan mendapatkan pendapatan yang lebih pula. Seseorang yang selalu menuntut menyamaratakan adalah orang yang sangat ketinggalan. Mana mungkin beras premium yang rendemen 50 % akan dijual dengan harga sama dengan beras medium yang rendeman 55 % ?.
Selamat berada di Januari 2018. Letakkan optimisme dan rencanakan dengan matang hidup anda dan disiplin untuk menjalaninya. Dan sangat penting jujurlah pada dirimu sendiri agar kamu bisa jujur kepada orang lain.
Silk Air, 2 Januari 2018
S d k
(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *