Ini Klarifikasi Kepala SMK Negeri 3 Pamboang Soal Video Kekerasan di Sekolahnya

Pendidikan

Mapos, Majene – Setelah menyimak video kekerasan yang beredar di kalangan orang tua siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Pamboang, Kepala sekolah itu kaget.

Kepala SMK Negeri 3 Kelautan Majene, Gazali Zakaria foto : ipunk

Ia tak habis pikir mengapa sampai siswanya tega melakukan hal seperti itu. Padahal, sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan tata tertib sekolah, tidak dibenarkan ada kekerasan dalam lingkungan sekolah.

“Saya kaget dengan munculnya video kekerasan di sekolah kami. SOP kami sangat jelas. Jika ada perkelahian di lingkup sekolah, sanksinya berat,” kata Kepala SMK Negeri 3 Pamboang KabupatenMajene, Gazali Zakaria Rabu (1/11/2018).

Usai diberitakan melalui mamujupos.com dan melihat langsung video tersebut, dirinya segara membentuk panitia kecil untuk melakukan investigasi.

Dari hasil investigasi katanya, ditemukan sejumlah fakta bahwa benar terjadi kekerasan yang diduga dilakukan oleh senior kepada yunior pada medio tahun anggaran 2018.

Pada waktu itu, ada kegiatan prakering dan semua orang tua siswa diundang untuk membuat kesepahaman siswa yang akan PKL. “Saat itu lah digunakan oleh siswa untuk melakukan aksi kekerasan. Ini menurut pengakuan para siswa yang terlihat dalam video itu,” jelas Gazali Zakaria.

Lebih jauh katanya, para siswa sangat pandai mengelabui para guru. “Mereka sengaja menyuruh salah seorang rekannya untuk berjaga di depan pintu kelas. Jika ada guru atau saya yang mengarah ke kelas, mereka buru-buru menertibkan diri seolah tidak terjadi apa-apa dan kesannya, mereka tengah menanti jam mata pelajaran berikut,” beber Gazali Zakaria.

Ia menegaskan, setelah terkuak perbuatan tidak mengenakkan itu, dia akan lebih memperketat pengawasan dalam lingkup sekolah.

“Saya sangat menyayangkan kejadian tersebut karena selama ini yang kita terapkan di sekolah adalah metode didik ala islami. Shalat tepat waktu, pendidikan karakter dengan pola didik humanis dan lain sebagainya,” tutur alumni di salah satu pesantren ini.

Kekerasan katanya, sama sekali tidak dibenarkan oleh sekolah sebab tradisi sekolah pelayaran yang cenderung keras sudah tidak jaman lagi karena cukup banyak kejadian fatal.

“SOP kita, kita akan melakukan sanksi mencopot atribut taruna yang melekat pada pakaian PDH pada siswa yang melakukan kekerasan,” tegasnya.

Disinggung soal adanya siswa yang dikeluarkan dari sekolah yang dia pimpin, Gazali Zakaria mengatakan, Zulfadli sudah kali keempat melakukan pelanggaran fatal di sekolah, termasuk mabuk-mabukan pada jam pelajaran.

“Saya pribadi sangat prihatin kepada anak itu. Apa lgi dia adalah anak yatim piatu.Tapi, mau diapakan lagi, karena dia sama sekali tidak mau berubah. Para guru di sekolah sudah kewalahan mendidik dia. Yah, akhirnya hasil rapat para staf dan guru berkesimpulan, siswa bersangkutan dikembalikan kepada orang tua. Silakan cari sekolah lain,” beber Gazali Zakaria.

Dikembalikan kepada orang tua, lanjut Gazali bukan berarti tidak bisa lagi mengenyam pendidikan sesuai kelas yang dia duduki selama ini. “Beda dikembalikan ke orang tua dengan dikeluarkan. Kalau di keluarkan, berarti dia harus kembali dari kelas satu sama saat pertama masuk. Dia naik ke kelas 11 saja merupakan kelas percobaan,” jelas Gazali Zakaria.

Dia tak lupa berterimakasih atas adanya video kekerasan yang terjadi di sekolah. “Karena tanpa itu, hingga saat ini saya tidak tahu kalau masih ada prilaku seperti menyimpang yang sudah menjadi tradisi sesat di sekolah pelayaran. Itu dulu, sekarang bukan lagi jamannya. Kita jadikan peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua khusunya staf dan guru di SMK Negeri 3 agar lebih baik lagi kedepan,” tutur Gazali.

(ipunk)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.