Hj Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar

Sulawesi Barat

Mapos, Mamuju – Presiden Jokowi memberikan gelar Pahlawan Nasional pada Hj Andi Depu. Gelar tersebut diberikan atas dasar dedikasi dan loyalitasnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Gubernur Sulbar saat menerima penganugrahan HJ. Andi Depu Sebagai Pahlawan Nasional di Istana Negara.

Selama penjajahan, pahlawan dengan nama lengkap Ibu Agung Andi Depu Maraqdia Balanipa ini kerap menggerakkan semangat para pemuda-pemudi untuk melawan penjajahan. Ia pun dikenal sebagai Sang Ibu Agung atau Paung Depu.

Gubernur Sulbar saat menerima penganugrahan HJ. Andi Depu Sebagai Pahlawan Nasional di Istana Negara.

Andi Depu lahir di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada Agustus 1907. Ia merupakan putri Raja ke-50 Kerajaan Balanipa di Mandar, Laqju Kanna Idoro. Andi Depu muda hanya bersekolah hingga tingkat Volkschool (sekolah rakyat atau desa).

Pada 1923, Andi Depu menikah dengan seorang bangsawan bernama Andi Baso Pabiseang. Pada 1939, Andi Depu diangkat menjadi Raja ke-51 Kerajaan Balanipa. Dengan statusnya itu, ia gigih melawan dan mengusir penjajahan Belanda dari tanah Mandar.

Demi mempertahankan kemerdekaan dari tangan Belanda, Andi Depu rela meninggalkan kerajaan dan turun bersama rakyat melawan Belanda. Namun, sayangnya upaya Andi Depu ini ditentang oleh suaminya hingga berujung perceraian.

Sementara itu, Belanda menganggap Andi Depu sebagai musuh besar di Sulawesi Barat. Hal ini terbukti Belanda susah menaklukkan Mandar dan daerah kekuasaan Kerajaan Balanipa.

Hj. Andi Depu

Kisah Andi Depu dikenal masyarakat Sulawesi Barat saat menolak untuk menurunkan Bendera Merah Putih di halaman rumahnya. Atas aksinya itu, ia nyaris ditebas oleh tentara Netherlands-Indies Civil Administration (NICA).

Dalam buku ”Puang & Daeng: Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa-Mandar” dijelaskan tentara NICA memaksa rakyat untuk menurunkan bendera Merah Putih. Namun, Andi Depu menolaknya. Tentara NICA kemudian mengancam akan menebang tiang bendera jika Andi Depu tak segera menurunkan bendera Merah Putih.

Tak gentar dengan gertakan tentara NICA itu, Andi Depu yang mengenakan sarung dan kebaya sederhana langsung berlari dan memeluk tiang bendera. Dengan pekikan takbir, Andi Depu berteriak ke tentara NICA untuk menjauhi bendera Merah Putih.

“Kalau kalian berani, tebaslah tiang bendera ini bersama dengan tubuh saya,” hardiknya.

Monumen Hj. Andi Depu.

Teriakan itu kemudian didengar oleh rakyat. Rakyat yang kebanyakan kaum wanita dan anak-anak kemudian ikut mengelilingi tiang bendera itu. Akhirnya tentara NICA mengurungkan niat mereka untuk menurunkan paksa bendera Merah Putih.

Perjuangan Andi Depu semakin besar saat penjajahan Jepang. Pada 1944, Andi Depu mendirikan Fujinkai di Mandar sebagai wadah bagi perempuan untuk memupuk rasa juang merebut kemerdekaan seperti yang dijanjikan penjajahan Jepang.

Masuk penjara dan disiksa tentara Belanda dan Jepang tak menyurutkan semangat juang Andi Depu. Andi Depu wafat di Ujungpandang, Sulawesi Selatan, pada 18 Juni 1985. Jasad Andi Depu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.

Atas perjuangannya, Presiden Sukarno memberikan penghargaan Bintang Mahaputra IV dan gelar Ibu Agung. Selain itu, pemerintah juga membentuk Monumen Merah Putih Andi Depu di Tinambung, Polewali Mandar.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

loading...