Hajrul Malik: Pentingnya Edukasi dalam Mencegah Pernikahan Usia Dini

Sulawesi Barat

Mapos, Mamuju – Ketua Pokja Pencegahan Pernikahan Usia Anak Sulawesi Barat, Hajrul Malik menekankan pentingnya edukasi agar tidak terjadi lagi pernikahan anak usia dini.

“Dari perkembangan kehidupan pendidikan dan sosial kita maka edukasi sangat penting,” kata Hajrul. Kamis (12/4/2018).

Menurut dia, pernikahan anak usia dini di beberapa titik sebetulnya bisa teridentifikasi tetapi ada alasan-alasan tertentu sehingga didapatkan izin dari pengadilan negeri untuk menikah. “Menurut UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan kalau anak apakah laki-laki maupun perempuan yang melakukan pernikahan di bawah umur maka dia harus mendapatkan keputusan dari PN. Proses seperti ini yang ditempuh di beberapa daerah,” katanya.

Namun berdasarkan UU tersebut juga dinyatakan bahwa usia menikah paling rendah bagi laki-laki adalah 19 tahun sementara perempuan 16 tahun. Seiring dengan diberlakukannya wajib belajar 12 tahun, maka menurut Hajrul setidaknya usia menikah paling rendah adalah tamat SMA bagi perempuan atau sekurang-kurangnya 19 tahun dan kuliah bagi laki-laki.

Namun yang terjadi di Sulawesi Barat, kata Hajrul, peristiwa pernikahan usia anak merupakan tantangan tersendiri yang harus dipandang secara komprehensif.

Menurut Hajrul, faktor terjadinya pernikahan usia anak itu ada dua penyebab.

Pertama by desain, artinya orang tua yang menginginkan anak itu dinikahkan karena ada yang melamar dari orang baik baik, maka menjadilah ia sebagai pemicu peningkatan ekonomi keluarga atau mengurangi ketergantungan anak dari orang tua ke suaminya.

Sementara faktor kedua, pernikahan anak terjadi karena MBA (Married by accident) menikah karena” kecelakaan”.

Olehnya itu kata Hajrul, sangat dibutuhkan intervensi pemerintah atau orang tua atau orang dewasa lainnya, untuk aktif dan peduli melakukan pencegahan.

“Maka kampanye pencegahan hari ini tidak boleh berhenti di acara seri monial belaka,” tutur Hajrul.

Untuk faktor kedua, kata Hajrul, lebih banyak kejadian dari penyebab nomor satu. Sebab-sebab terjadinya MBA itu, satu diantaranya adalah pergaulan bebas, pacaran, dan sebagainya.

Olehnya itu, Pokja pencegahan pernikahan usia anak mengajak semua kalangan untuk terus menyadarkan orang tua dan anak.

“Bahwa pentingnya tidak menikah di usia tidak ideal,” terangnya.

Hajrul mengungkapkan, sesuai data, di kota Mamuju pada bulan Januari hingga Agustus 2017 lalu, peristiwa melahirkan dari usia anak mulai 13 tahun sampai usia 20 tahun tercatat sebanyak 80 kelahiran.

“Olehnya itu sangat dibutuhkan peran dari semua pihak dalam melakukan pencegahan pernikahan usia anak,” pungkasnya.

Ketua Pokja Pencegahan Pernikahan Usia Anak Sulawesi Barat, Hajrul Malik.

Dari data Pokja Pencegahan Pernikahan Usia Anak Sulawesi Barat yang merupakan pokja satu-satunya di Sulbar merilis, angka pernikahan anak usia dini di Provinsi Sulbar tertinggi se Indonesia.

(usman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *