Gempa di Sulteng Berkekuatan 200 Kali Bom Hiroshima

Peristiwa

Mapos, Sulteng¬†–¬†Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 pada pukul 17.02.44 WIB. Gempa tersebut mengakibatkan tsunami di beberapa wilayah pantai Donggala dan pantai Talise Palu.

Tsunami menerjang Pantai Talise di Kota Palu, pantai Barat Donggala. Tingginya 0,5-3 meter dan menerjang permukiman di sepanjang pantai. Bahkan disebut ketinggian ada yang mencapai 6 meter.

Banyak bangunan ambruk, rata dengan tanah. Jembatan pun roboh memutus akses jalan. Komunikasi terputus, listrik padam.

Berdasarkan data sementara dari Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah mencapai 384 jiwa. Mereka tersebar di sejumlah rumah sakit.

“Ini hanya tercatat di kota Palu,” kata Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu (29/9/2018).

Diperkirakan jumlah korban gempa dan tsunami akan terus bertambah karena proses pencarian masih terus dilakukan. Sementara itu, korban luka berat 540 orang.

Hingga pukul 16.00 WIB terdata ada sebanyak 16 ribu lebih pengungsi korban gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah.

“Ada 16.732 pengungsi di 24 titik. Di Palu ada 24 titik. Harus kita penuhi kebutuhan dasar. Belum semua menerima bantuan. Semua terbatas dan kita fokus mencari korban,” Sutopo.

Menurut Sutopo, ada 13 kecamatan di Donggala yang paling banyak menerima intensitas gempa 6 sampai 7 MMI. Sementara di Palu ada tujuh kecamatan yang menerima guncangan dengan skala yang sama.

“Donggala masih belum mendapat informasi apapun. Komunikasi masih lumpuh,” jelas dia.

Sementara itu, 131 gempa susulan terjadi di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah. Rentetan itu berlangsung setelah gempa dengan magnitudo 7,4 pada Jumat 28 September 2018.

Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wahyu W Pandoes menyebut, energi gempa magnitudo 7,4 di Donggala, Sulawesi Tengah, sekitar 2,5 x 10^20 newton meter.

“Gempa dengan magnitudo 7,4 di Donggala, Sulawesi Tengah, energinya sekitar 2,5×10^20 Nm atau setara dengan 3×10^6 Ton-TNT atau 200 kali bom atom Hiroshima,” ujar Wahyu dilansir dari Antara, Sabtu (29/9/2018).

Dalam siaran pers BPPT di Jakarta, Wahyu menjelaskan, Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan sekitarnya mengalami deformasi vertikal atau perubahan bentuk yang diakibatkan oleh gaya sebesar -1,5 hingga 0,5 meter akibat gempa.

“Komponen deformasi vertikal gempa bumi di laut ini yang berpotensi menimbulkan tsunami,” kata Wahyu.

Berdasarkan simulasi model analitik-numerik, tinggi tsunami di sepanjang pantai berkisar antara beberapa sentimeter hingga 2,5 meter. Tinggi tsunami juga berpotensi naik akibat efek turunnya daratan sekitar pantai dan amplifikasi gelombang akibat batimetri (studi kedalaman air) dan morfologi (pembentukan) teluk.

“Masyarakat perlu waspada atas gempa bumi susulan dan potensi keruntuhan infrastruktur atau bangunan di sekitarnya, serta terus memantau dan mengikuti informasi dari otoritas resmi BMKG/BNPB/BPBD setempat,” imbau Wahyu.

Wahyu memaparkan pula bahwa BPPT telah memiliki produk teknologi Sijagat untuk mengkaji keandalan gedung bertingkat terhadap ancaman gempa dan Sikuat untuk memantau kondisi gedung bertingkat terhadap ancaman gempa.

BPPT juga merancang Rumah Komposit Polimer Tahan Gempa untuk daerah-daerah rawan bencana gempa.

Riwayat Gempa

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, Sulawesi Tengah sering mengalami musibah gempa dan tsunami. Terlebih, ada dua wilayah yang sering mengalami musibah tersebut seperti Palu dan Donggala.

“Memang wilayah Sulawesi Tengah, khusus wilayah Palu dan Donggala rawan terjadi gempa dan tsunami,” kata Sutopo di kantor BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (29/9/2018).

Dia menyebutkan, gempa dengan magnitudo 6,5 yang berasal dari aktivitas tektonik Watusampo di teluk Palu pernah mengguncang pada 1 Desember 1927. Saat itu 14 orang meninggal dunia dan 50 orang luka-luka.

Lalu, pada 30 Januari 1930, terjadi gempa di pantai barat Kabupaten Donggala yang menyebabkan tsunami setinggi dua meter dan berlangsung selama dua menit.

Kemudian, gempa bermagnitudo 6 yang berpusat di Teluk Tambu, Kecamatan Balaesang, Donggala, terjadi pada 14 Agustus 1938. Gempa tersebut menyebabkan tsunami 8-10 meter di pantai barat Kabupaten Donggala.

“Sebanyak 200 korban meninggal dunia dan 790 rumah rusak serta seluruh desa di pesisir pantai barat Donggala hampir tenggelam,” sebutnya.

Gempa juga terjadi pada 1994 yang dikenal dengan gempa Sausu yang terjadi di Kabupaten Donggala dan mengguncang Sulawesi Tengah. Pada 1 Januari 1996, gempa dengan magnitudo 7,4 yang berpusat di selat Makassar mengakibatkan tsunami yang menyapu pantai barat Kabupaten Donggala dan Tolitoli.

Pada 1996 terjadi gempa di Tonggolobibi di Desa Bankir, Tonggolobibi dan Donggala yang menyebabkan tsunami setinggi 3,4 meter datang dan membawa air laut sejauh 300 meter ke daratan. Saat itu sebanyak 9 orang tewas dan bangunan rusak parah.

“Pada 11 Oktober 1998 Kabupaten Donggala diguncang gempa berkekuatan magnitudo 5,5. Ratusan bangunan rusak parah akibat gempa,” ujar Sutopo.

Setelah itu, Sulawesi Tengah masih mengalami musibah gempa yang berpusat di 16 km arah tenggara Kota Palu dengan magnitudo 6,2. Gempa itu terjadi pada 24 Januari 2005 yang mengakibatkan 100 rumah rusak, satu orang meninggal dan empat orang luka-luka.

Kemudian, gempa dengan magnitudo 7,7 berpusat di laut Sulawesi mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada 17 November 2008. Atas kejadian tersebut, empat orang meninggal dunia.

“18 Agustus 2012 gempa dengan magnitudo 6,2 terjadi ketika masyarakat sedang berbuka puasa. Delapan orang tewas dan tiga Kecamatan terisolir,” ucap Sutopo.

Lalu, Sulawesi Tengah kembali mengalami musibah gempa dengan magnitudo 7,4 yang mengakibatkan tsunami pada Jumat 28 September 2018. Saat ini, tercatat sebanyak 384 orang meninggal dunia dan ratusan orang mengalami luka, baik ringan maupun berat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasukkan Kota Palu dan Kabupaten Donggala ke dalam zona merah di peta rawan bencana gempa bumi.

“Di peta rawan bencana gempa bumi termasuk dalam zona merah. Zona merah artinya rawan bencana gempa bumi tinggi,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG Sri Hidayati di Bandung, Sabtu dilasir dari Antara, Sabtu (29/9/2018).

Sri menyatakan, potensi intensitas guncangan akibat gempa bumi di wilayah tersebut dapat mencapai lebih dari VIII MMI, di mana getaran gempa menimbulkan kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat, retak-retak pada bangunan dengan konstruksi kurang baik serta lepasnya dinding dari rangka rumah dan robohnya cerobong asap pabrik dan monumen-monumen.

Ia menjelaskan bahwa gempa bumi dengan magnitudo 7,4 yang mengguncang Palu dan Donggala dipicu oleh aktivitas patahan Palu-Koro, yang memanjang dari sebelah barat Donggala hingga Teluk Palu.

“Patahan Palu Koro itu juga memang patahan aktif,” ujarnya.

Sri berharap gempa di Donggala tak diikuti ratusan gempa susulan dengan kekuatan cukup besar seperti yang sebelumnya terjadi di Pulau Lombok sehingga menimbulkan banyak kerusakan dan korban jiwa.

Namun, dia meminta masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan dari pemerintah setempat.

“Kita hidup di Indonesia, sadar pada posisi tectonic setting. Ada tiga lempeng aktif dunia, Indonesia harus siap itu. Kita tidak tahu kapan gempa dan tsunami, kita sendiri yang harus siap,” imbaunya.

Aksi Heroik

Seorang petugas pelayanan navigasi penerbangan bernama Anthonius Gunawan Agung meninggal dunia sesaat setelah menjalankan tugasnya saat gempa di Palu, Sulawesi Tengah.

Saat gempa menggoyang Palu, Anthonius tengah berada di menara kontrol Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu untuk memastikan Batik Air terbang dengan selamat. Namun, tiba-tiba atap ambruk akibat gempa dan Anthonius langsung lompat dari menara.

Peristiwa ini dikabarkan oleh pengamat penerbangan dan investigator swasta khusus kasus-kasus kecelakaan pesawat, Gerry Soejatman dalam akun twitternya. Dalam akun twitternya, Gerry menulis bahwa Anthonius adalah seorang petugas ATC yang melompat dari menara saat gempa bumi mengguncang Palu setelah dia memastikan Batik Air terbang dengan selamat.

Namun, beberapa saat kemudian, akun twitter resmi AirNav @AirNav_Official mengabarkan bahwa Anthonius telah meninggal dunia.

AirNav Indonesia pun memberikan apresiasi terhadap dedikasi yang ditunjukkan personel Air Traffic Controller (ATC) Anthonius Gunawan Agung.

Direktur AirNav Indonesia Novie Riyanto mengatakan, bagi Airnav, Agung sudah memberikan dedikasi yang luar biasa dalam memberikan pelayanan untuk mewujudkan keselamatan penerbangan. Keluarga besar Airnav Indonesia pun sangat berduka cita.

“Karena itu, kami akan memberikan penghargaan kepada almarhum dengan menaikkan pangkatnya sebanyak dua tingkat, serta bentuk apresiasi lainnya kepada keluarga yang ditinggalkan,” ungkap Novie yang berada di Makassar, Sabtu (29/9/2018).

Dia mengatakan, kedua orangtua almarhum berdomisili di Papua, tapi keluarga besarnya banyak tinggal di Makassar.

“Sehingga dari komunikasi kami dengan keluarga almarhum Agung rencana akan dimakamkan di Makassar,” ujar Novie.

Dia menuturkan, Agung memberikan clearance kepada Batik saat gempa terjadi. Personel AirNav lainnya yang tidak sedang melayani kemudian turun saat gempa terjadi. Sementara Agung belum dapat turun karena pesawat belum take-off.

“Beliau menunggu pesawat Batik hingga airborne. Setelah pesawat airborne, kondisi gempa sudah semakin kuat. Beliau akhirnya memutuskan melompat dari cabin tower atau lantai 4, akibatnya Beliau mengalami patah kaki,” tutur Novie.

Personel AirNav di Palu membawa Agung ke rumah sakit. Di rumah sakit didapat keterangan mengenai kondisinya setelah keluar hasil rontgen, namun untuk penanganan selanjutnya harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar karena indikasi ada luka dalam.

AirNav berupaya untuk mendatangkan helikopter dari Balikpapan. Namun karena kondisi bandara, helikopter baru dapat diterbangkan pagi ini. Agung kemudian dibawa ke bandara untuk diterbangkan dengan helikopter menuju Balikpapan.

Namun sebelum helikopter tiba, Agung mengembuskan napas terakhirnya. “Almarhum akan diterbangkan menuju Makassar untuk selanjutnya dimakamkan di Makassar sesuai dengan permintaan pihak keluarga,” tutur Novie.

Langkah Pemerintah

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyampaikan dukacita mendalam atas bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Donggala, Kota Palu, dan sekitarnya.

“Saya dan kita semua ikut berduka cita atas terjadinya gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala, di Palu, dan sekitarnya. Tadi saya sudah mendapatkan informasi dari Kepala BNPB, meskipun informasi itu belum semuanya ada karena memang sulit untuk telepon ke sana,” ujar Jokowi dalam pernyataan resmi di kediamannya di Solo, pada Jumat (28/9/2018) pukul 23.10 WIB.

Jokowi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tapi senantiasa menjaga kewaspadaan terhadap gempa susulan yang mungkin saja terjadi. Presiden berdoa agar musibah ini dapat dilalui dan diselesaikan bersama.

Dia memerintahkan Menko Polhukam untuk mengkoordinasikan jajarannya, baik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI untuk melakukan penanganan darurat atas peristiwa ini.

“Saya telah perintahkan Menko Polhukam untuk mengkoordinasikan BNPB. Saya sudah telepon tadi ke Panglima TNI untuk bersama-sama menangani, terutama yang berkaitan dengan penanganan darurat baik pencarian korban, evakuasi, dan menyiapkan kebutuhan-kebutuhan dasar yang diperlukan,” tuturnya.

Sementara itu, dalam perjalanan pulang usai mengikuti Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Wakil Presiden Jusuf Kalla terus memantau perkembangan bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Dalam video yang diterima Liputan6.com, Sabtu (29/9/2018), JK yang tengah transit di Hong Kong menyampaikan rasa duka dan simpatinya untuk korban gempa dan tsunami Sulteng.

“Kita sangat terkejut, bersedih, dan segera akan membantu dengan segenap simpati dari seluruh bangsa ini,” ujar JK.

Wapres juga mengatakan, sama dengan musibah gempa lainnya yang terjadi di Indonesia, pemerintah akan secepatnya fokus menangani musibah ini.

“Nanti apa yang dibutuhkan, pemerintah akan siapkan,” tegas JK.

Ilustrasi.

Dia juga mengatakan sudah mendapatkan laporan sementara, bahwa korban jiwa dari musibah gempa dan tsunami di Sulteng ini sudah mencapai 384 orang.

“Yang dilaporkan 384 yang meninggal, itu bisa sampai seribu, ribuan,” ujar JK.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *