Fahmi Massiara : Angka Stunting di Majene Masih Tinggi

Majene

Mapos, Majene – Sebelum membuka Pelatihan Konvensi Hak Anak dan Sekolah Ramah Anak Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Tingkat Kabupaten di Ruang Pola Kantor Bupati Majene, Jum’at (14/9/2018), Bupati Majene Fahmi Massiara menyebut, dalam 2 tahun terakhir, beberapa indikator Kabupaten Majene yang perlu menjadi perhatian adalah tingginya angka stunting (Kurang Gizi Kronis Jangka Waktu Lama), AKI (Angka Kematian IBU), AKB (Angka Kematian Bayi), usia perkawinan anak, masalah anak putus sekolah, fasilitas pendidikan dan kesehatan berbasis ramah anak masih kurang.

Peserta Pelatihan Konvensi Hak Anak dan Sekolah Ramah Anak Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Tingkat Kabupaten di Ruang Pola Kantor Bupati Majene, Jum’at (14/9/2018) foto : Humas Pemkab Majene

“Ini masih merupakan menjadi perhatian kita semua karena masih dibawah standar Nasional,” beber Fahmi Massiara.

Masalah sosial lain dari kemajuan tehnologi, kata Fahmi misalnya, sebagian anak sudah jadi pencandu pornografi, narkoba dan game kekerasan.

“Disamping pola asuh yang salah semakin merambah ke seluruh kabupaten/kota maka perubahan perilaku tersebut merupakan dampak dari pengaruh globalisasi dan kecanggihan dunia maya, sehingga berbagai informasi yang tak patut atau pantas diakses anak saat ini sangat mudah diperoleh baik melalui media pertelevisian, internet dan lain sebagainya,” tuturnya.

Dunia pendidikan Indonesia dalam lima tahun terakhir diwarnai berbagai tindak kekerasan yang terus terulang dan dialami oleh anak maupun siswa, baik dilakukan guru/tenaga pendidik maupun oleh siswa sendiri.

“Bentuk-bentuk kekerasan tidak hanya dalam bentuk fisik, namun juga psikis dan seksual baik dilakukan secara langsung maupun tidak langsung,” terang Bupati Fahmi.

Sekolah sebagai institusi, lanjut dia, untuk menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran secara sistematis dan berkesinambungan, harus menciptakan suasana yang kondusif agar anak merasa nyaman dan dapat mengekspresikan potensinya. Sekolah Ramah Anak menjadi upaya dalam menangani kekerasan pada anak.

“Menciptakan sekolah ramah pada anak merupakan hal yang sangat penting dalam rangka menyiapkan generasi bangsa yang berkualitas, cerdas dan berkarakter. Sebagai salah satu Kabupaten yang sudah menginisiasi Kabupaten Layak Anak, Pemerintah Kabupaten Majene terus mendorong tersedianya pengembangan pembelajaran sekolah ini, dukungan berbagai pihak antara lain keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat yang sebenarnya merupakan pusat pendidikan terdekat anak. Lingkungan yang mendukung, melindungi memberi rasa aman dan nyaman bagi anak akan sangat membantu proses mencari jati diri anak,” tegasnya.

Ia menggaris bawahi poin terpenting dari proses pengembangan Sekolah Ramah Anak adalah bukan tugas dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga atau Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak saja, tetapi adalah koordinasi di antara para stakeholder pemenuhan hak-hak anak yang dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan guna terwujudnya Majene Menjadi Kabupaten Layak Anak tahun 2019.

“Oleh karena itu, kami sangat berharap penguatan koordinasi bagi “stakeholders” dapat terus ditingkatkan dan terus melakukan koordinasi secara rutin. Karena anak adalah investasi kita di masa yang akan datang, maka menjadi kewajiban kita bersama untuk menjadikannya Iebih berkualitas, sehingga mereka akan menjadi modal pembangunan. Untuk itu, peran seluruh pemangku kepentingan perlindungan anak di sekolah, masyarakat dan dunia usaha harus bahu-membahu untuk dapat mewujudkannya,” terang Fahmi Massiara.

Dia berharap agar Informasi yang diperoleh dari pelatihan ini dapat diaplikasikan dilingkungan sekolah, segera dibentuk sekolah ramah anak, bikin komitmen bersama dan disosialisasikan lagi kepada semua elemen yang terkait agar pesan dan misi kegiatan tersebut dapat tersampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat Sehingga Visi Misi Majene MP3 (Majene Profesional, Produktif dan Proaktif) dapat terwujud sesuai yang diharapkan.

“Saya berharap semoga pendidikan kabupaten majene, lebih maju, Iebih bermartabat dan Berbasis Ramah Anak,” harap Fahmi Massiara.

Dihadapan, Deputi Menteri PPPA (Bidang Tumbuh Kembang Anak), nara sumber dari kementerian serta Panitia Pusat Dalam Kegiatan serta para undangan, Bupati Majene Fahmi Massiara menyambut baik dan apresiatif atas diselenggarakannya kegiatan pelatihan.

“Saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada pelaksana dari Kementerian PPPA dan panitia, karena Kabupaten Majene dipilih sebagai salah satu tempat diselenggarakannya pelatihan ini. Sekolah Ramah Anak (SRA) adalah bagian dari 24 lndikator yang mendukung terbentuknya Kota Layak Anak (KLA) yang merupakan salah satu Nawacita dari Presiden Jokowi dimana sebenarnya istilah ini bukan sesuatu yang asing karena diperkenalkan pertama kalinya oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 2005 melalui Kebijakan Kota Layak Anak,” katanya.

Dengan alasan, untuk mengakomodasi pemerintahan kabupaten, belakangan istilah Kota Layak Anak menjadi Kabupaten/Kota Layak Anak dan kemudian disingkat menjadi KLA yang merupakan upaya pemerintahan kabupaten/kota untuk mempercepat implementasi Konvensi Hak Anak (KHA) dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi, dan intervensi pembangunan seperti kebijakan, institusi, dan program yang layak anak.

“Termasuk didalamnya adalah Sekolah Ramah Anak yang tidak dapat dipisahkan dari indikator KLA,” tandas Fahmi Massiara.

(ipunk)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.