Dolar AS Tembus Rp15.253

Ekobis

Mapos, Jakarta – Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.253 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot siang ini, Senin (8/10/2018). Posisi ini melemah 70  poin dari akhir pekan lalu, Jumat (5/10/2018). Sepanjang tahun ini, rupiah sudah melemah 12,38 persen.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di Rp15.193 per dolar AS. Posisi ini juga melemah 11 poin dari kurs Jisdor pada akhir pekan lalu di Rp15.182 per dolar AS.

Pelemahan rupiah hari ini terjadi di sela berlangsungnya pertemuan tahunan 189 negara anggota Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali 8 hingga 14 Oktober mendatang.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah melemah karena sentimen positif dari AS terus meningkat dan berhasil membuat dolar AS kian perkasa. Sentimen positif itu datang dari rilis sejumlah data ekonomi Negeri Paman Sam yang berada di atas ekspektasi pasar.

Data ekonomi terakhir yang dirilis dan memberi sentimen positif ke dolar AS, yaitu berkurangnya angka pengangguran di Amerika. Angka pengangguran tercatat hanya 3,7 persen pada September 2018. Angka ini terus turun di era Presiden AS Donald Trump dari 4,8 persen di 2016 dan 4,3 persen pada 2017.

“Kemudian, yield US Treasury (imbal hasil surat utang AS) bertenor 10 tahun sampai ke angka 3,3 persen. Solidnya data tenaga kerja AS membuat yield naik,” ujar Dini, Senin (8/10/2018). Dilansir dari CNN Indonesia.

Di tengah sentimen negatif dari luar negeri tersebut, dari dalam negeri justru rupiah tidak mendapatkan sentimen positif. Menurutnya, meski saat ini tengah dilangsungkan pertemuan tahunan IMF-WB 2018, hal tersebut tak mampu membuat rupiah kuat.

Meski, kedatangan para tamu undangan seharusnya bisa menambah pasokan dolar AS di dalam negeri. Namun, menurutnya, pasar kini tengah mengesampingkan sentimen dengan lebih berpatok pada penguatan dolar AS dan naiknya yield US Treasury.

Ilustrasi

“Pertemuan tahunan tersebut tidak memberikan pengaruh. Meski, secara riil ini sudah jelas menjanjikan. Tapi penguatan dolar AS tetap paling menjanjikan (untuk pasar), apalagi suku bunga dan US Treasury naik,” pungkasnya.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *