Diduga, Mafia Proyek Gentayangan di Sulbar

Mamuju

Mapos, Polman¬†–¬†Puluhan proyek yang berada di Provinsi Sulawesi Barat terancam putus kontrak. Tak hanya itu, pekerjaan yang sementara dikerjakan pun diduga tidak akan finishing 100 persen.

Pasalnya, uang muka yang seharusnya menjadi titik awal pekerjaan telah disikat duluan oleh oknum mafia proyek. Puluhan kontraktor pun bingung tak karuan. Ingin memulai pekerjaan darimana tanpa uang muka dan tentunya akan berimbas pada pekerjaan.

Sejumlah proyek diduga tidak bisa berjalan dengan normal pada star awal. Disebabkan uang muka yang seharusnya digunakan untuk membiayai proyek tersebut, diduga jatuh ke tangan mafia proyek. Kondisi ini membuat sejumlah proyek terancam putus kontrak.

Selain itu, sejumlah proyek yang berada di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Sulbar terbengkalai atau tidak berjalan normal sesuai jadwal yang telah disepakati dalam kontrak.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Barat, Ir. H Nazaruddin MM, saat dikonfirmasi beberapa hari lalu tidak menampik adanya persoalan itu.

Ia mengatakan, pihaknya sedang melakukan pemanggilan kepada sejumlah rekanan untuk diberikan teguran dan peringatan agar mereka segera mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan didalam dikontrak kerja.

Apabila hal itu tidak diindahkan, kata Nasaruddin, maka pihaknya akan melakukan pemutusan kontrak.

“Kita akan melakukan pemutusan kontrak bagi rekanan yang tidak mengindahkannya,” ancam Nasaruddin.

Yang menjadi permasalahan, keluh Nasaruddin, adalah banyaknya rekanan yang meminjam perusahan orang lain.

“Secepatnya, kita akan memanggil pemilik perusahan yang sah agar segera menyelesaikan pekerjaannya. Kalau masih membandel kita akan putuskan kontraknya dan memblackist perusahannya,” tegas Nasaruddin.

Menurutnya, sudah ada beberapa perusahan yang telah diputuskan kontraknya akibat persoalan ini.

“Dalam waktu dekat Ini, ada lagi yang akan diputuskan kontraknya,” pungkasnya.

Dilain sisi pula, sebut Nasaruddin, banyaknya keluhan dari para rekanan saat diminta untuk melaksanakan proyeknya.

“Rata-rata mereka mengeluh disebabkan kekurangan modal karena uang muka mereka telah diambil oleh oknum,” sebutnya.

Disinggung soal nama oknum itu, Nasaruddin enggan membeberkannya.

Ditanya soal jumlah perusahan yang telah diputuskan kontrak kerjanya, Nasaruddin tidak bisa merinci berapa jumlahnya.

Ilustrasi.

“Saya kurang hapal berapa semua total perusahan yang telah diputuskam kontrak kerjanya,” tutupnya.

(toni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *