Dewan Pers, Bagir Manan: Pers seperti lebah

Mamuju

Mapos, Mamuju¬†–¬†Workshop yang digelar oleh dewan pers di Mamuju, tepatnya di hotel d’Maleo, jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mamuju, Sulbar membahas tentang bakti untuk negeri dalam penguatan dan pemberdayaan ekosistem pers melalui ketersediaan infrastruktur telekomumikasi dan informasi di seluruh provinsi di Indinesia.

Media massa sebagai arus utama harus mengembalikkan trust atau kepercayaan masyarakat dengan menerapkan standar jurnalistik yang berlaku global yakni verifikasi informasi secermat-cermatnya sebelum dipublikasikan.

“Penurunan trust masyarakat terhadap media massa terjadi di seluruh dunia dan insan pers harus bisa mengembalikkan keadaan, ujar mantan ketua Dewan Pers Prof. Bagir Manan. Kamis (27/9/2018).

Ia mengatakan, pers tidak hanya sebagai penyebar informasi tapi sebagai pencerah publik. Apa yang dikerjakan dapat memberikan manfaat yang sebaik-baiknya kepada semua.

Lebih jauh, mantan ketua dewan pers ini mengatakan, pers ibarat lebah. Lebah tidak mengusik apa yang ada disekelilingnya, namun lebah memberikan manfaat besar bagi semua.

“Lebah menghasilkan madu. Ibarat pers menghasilkan produk jurnalis melalui tulisan-tulisan yang baik. Lebah tidak memakan, makanan yang jelek-jelak tapi lebah mencari makanan yang baik dan hasilpun juga baik,” ujarnya.

Bagir menyebutkan, kekuatan lebah berada pada kebersamaannya. Lebah yang terusik akan menyerang yang mengusiknya.

“Begitupun pers,” terangnya.

Ia mengingatkan, pentingnya media berlaku objektif, akurat, transparan, sepenuhnya mengabdi kepentingan masyarakat, mudah dipahami dan menyajikan berita lengkap.

Untuk bisa objektif, akurat dan bekerja untuk kepentingan umum, kata Bagir, media harus memposisikan diri sebagai norpartisan, independen dan tidak memihak. Media juga harus perlu transparan dalam sumber berita, pendanaan, dan organisasi yang terasosiasi dengannya. Transparan ditujukan juga dalam metologi mendapatkan berita.

“Media juga harus terbuka terhadap kritik dan jujur melakukan koreksi atas kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat,” sebutnya.

Media harus bangkit, menyadari semua kesalahan dan melakukan perubahan dengan menerapkan standar jurnalis yang benar. Meski saat ini media sosial berperan dominan dalam menyebarkan berita, pembaca tetap mencari informasi yang dipercaya.

Foto/istimewa.

“Media harus fight untuk merebut kembali kepercayaan masyarakat dengan menerapkan standar jurnalistik yang benar,” kuncinya.

(usman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *