Desember 2017, Nilai Tukar Petani Sulbar 110,38

Berita Terbaru Berita Utama Mamuju Sulawesi Barat

Mapos, Mamuju – Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Barat pada bulan Desember 2017 sebesar 110,38, turun 0,52 persen dibandingkan NTP November 2017. Selain itu, NTP menurut subsektor tercatat pada subsektor tanaman pangan (NTP-P) 100,84, subsektor holtikultura (NTP-H) 108,07, subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-R) 120,62, subsektor peternakan (NTP-P) 106,54 dan subsektor perikanan (NTN) 107,04.

Hal ini disampaikan kepala BPS Sulbar Suntono, saat menggelar jumpar pers di aula kantor BPS Sulbar. Selasa, (02/01/2017).

Disampaikan, hasil pemantaun harga konsumen pedesaan menunjukkan terjadinya inflasi pedesaan di Sulawesi Barat pada Desember 2017 sebesar 0,80 persen, yang secara umum dipicu oleh meningkatnya semua indeks harga kelompok pengeluaran.

“inflasi di daerah pedesaan terjadi di seluruh provinsi di Indonesia, tertinggi di Jawa Timur 1,78 persen dan terendah di Papua Barat 0,18 persen. Sulawesi Barat menempati urutan ke 12 dari 33 provinsi yang mengalami inflasi pedesaan,” terangnya.

Untuk skala nasional, NTP bulan Desember 2017 sebesar 103,06, turun sebesar 0,01 persen dibandingkan bulan November 2017, dan mengalami inflasi pedesaan sebesar 1,04 persen.

November 2017, TPK Hotel Bintang 45,574 Persen dan Jumlah Penerbangan Turun 8,86 Persen.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Sulawesi Barat periode November 2017 sebesar 45,57 persen. TPK Tersebut mengalami peningkatan sebesar 1,63 persen dibanding dengan periode Oktober 2017 yang tercatat sebesar 43,94 persen.

Rata-rata lama menginap tamu asing pada hotel bintang periode November 2017 sebesar 1,93 hari atau mengalami penurunan sebesar 1,07 hari, apabila dibandingkan periode Oktober 2017 yang tercatat sebesar 3.00 hari.

Sedangkan, jumlah pesawat yang berangkat dan datang melalui bandara Tampa Padang Mamuju dan Sumarorong Mamasa, Sulbar pada bulan November 2017 sebanyak 228 kali penerbangan. Jumlah ini mengalami penurunan sebanyak 8,86 persen jika dibandingkan dengan bulan Oktober 2017 yang tercatat 316 kali penerbangan.

Untuk jumlah pelayaran pelabuhan di Sulbar selama periode bulan November 2017 sebanyak 223 unit kapal, terjadi penurunan sebesar 25,91 persen jika dibandingkan keadaan bulan Oktober 2017 sebanyak 301 unit kapal.

September 2017, Persentase Penduduk Miskin di Sulbar 11,18 Persen

Persentase penduduk miskin pada September 2017 adalah sebesar 11,18 persen atau turun 0,12 persen dibandingkan Maret 2017 yang sebesar 11,30 persen.

Penduduk miskin di Sulbar pada bulan September 2017 sebesar 149,47 ribu jiwa atau berkurang 0,29 ribu jiwa dibandingkan pada bulan Maret 2017.

Selama Maret – September 2017, jumlah dan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami peningkatan sebesar 6,52 ribu jiwa tau turun 0,97 persen. Sementara itu, di daerah pedesaan jumlah dan persentase penduduk miskin mengalami penurunan sebesar 6,81 ribu jiwa atau turun 0,33 persen. Begitupun dibandingkan selama satu tahun (September 2017 – September 2017), daerah perkotaan mengalami peningkatan sebesar 1,07 persen atau secara obsolute jumlah penduduk miskin mengalami penurunan sebesar 2,38 ribu jiwa (0,30 persen).

Untuk Garis Kemiskinan (GK) Sulbar sebesar 315.918,- per kapita per bulan atau meningkat 4,31 persen dibandingkan Maret 2017. Kontribusi GK makanan terhadap GK ada September 2017 sebesar 78,99 persen.

September 2017, Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Penduduk di Sulbar 0,339

Pada Maret 2017, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Sulbar yang diukur oleh Gini Ratio tercatat sebesar 0,339. Angka ini menurun sebesar 0,015 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2017 sebesar 0,354. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,371, Gini Ratio September 2017 turun sebesar 0,032 poin.

Gini Ratio di daerah pada September 2017 tercatat sebesar 0,392 turun dibanding Gini Ratio Maret 2017 yang sebesar 0,424 dan Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,341.

Pada September 2017, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah adalah sebesar 19,48 persen. Artinya pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,23 persen yang artinya berada pada kategori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah pedesaan, angkanya tercatat sebesar 21,10 persen, yang berarti masuk dalam kategori ketimpangan rendah.

(fitria)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *