Desain Organisasi PWI yang Futuristis

Adi Arwan Alimin (Redaktur Khusus mamujupos.com)

Adi Arwan Alimin (Redaktur Khusus mamujupos.com)

Mapos, BAYANGAN  masa depan telah di pelupuk mata. Sistem informasi, mobilitas tinggi dan budaya kerja yang sedang berubah merupakan bagian dari landscape media yang bergeser amat jauh dari tradisi konvensional.

Organisasi media atau pers memerlukan rencana yang fokus, desain ulang mekanisasi dan mengembangkan model pendekatan baru. Bukan hanya kemampuan merancang agenda setting, para pemimpin media harus segera mengganti hirarki tradisionalnya seiring ekosistem jaringan yang bakal menggeser peran mereka.

Dahulu Anda akan selalu ditanya, “Untuk siapa anda bekerja.” Namun kini semua itu drastis berubah. “Dengan siapa Anda bekerja?” Inilah pertanyaan yang mengapung dalam usaha kita berselancar di gelombang digital era milenial ini.

Penulis melihat, birokrasi organisasi yang ribet bahkan kerap turbulensi masih kerap menyesakkan. Budaya baru dalam mekanisme yang efektif dan efisien belum berlangsung dengan baik, sebagian orang terlalu lamban mengambil pilihan. Bahkan mengabaikan hal-hal yang seharusnya mendesak menjadi masalah krusial dalam perjalanan organisasi.

Tidak hanya media secara organik, kita pun yang menyebut diri sebagai wartawan atau penulis harus pula memberdayakan kinerja tinggi dalam operasi jaringan yang kian maju. Kita mungkin selama ini hanya terus mengampanyekan urgensi minat dan bakat, pada beberapa tinjauan. Namun dalam kesempatan menulis catatan ini di sebuah taman kota, penulis ingin menambahkannya dengan diksi: jaringan tim. Hampir semua orang kini bekerja dalam media jaringan atau daring.

Pada hari-hari menuju puncak Konferensi Provinsi (Konferprov) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Barat Oktober 2017, membangun organisasi masa depan merupakan isu penting dan sangat urgen. Ini sepenuhnya sesuai trend dalam survei Global Human Capital Trends selama dua tahun berturut-turut. Cakupannya sederhana, cara organisasi berkinerja tinggi hari ini sangat berbeda dari cara mereka beroperasi 10 tahun yang lalu.

Membangun masa depan organisasi yang lebih kuat, kredibel dan futuristik sebuah keniscayaan, entah siapapun figur yang bakal menjadi “punggawa kaiyyang” PWI Provinsi Sulbar. Model industri 100 tahun lalu yang dibebani praktik, sistem dan perilaku warisan seharusnya dibuang. Perubahan menuju masa depan sedang terjadi.

Bukan lagi zamannya, organisasi dirancang untuk efisiensi dan efektivitas, yang mengarah pada organisasi yang rumit dan terdistorsi. Organisasi yang sukses harus dirancang memenuhi kecepatan, kelincahan dan kemampuan beradaptasi untuk memungkinkan mereka bersaing. PWI bukanlah organisasi bisnis, tetapi payung besar ini mesti mampu memenangkan daya saing media yang diwadahi dalam kepentingan yang lebih luas saat ini.

Kian hari makin sedikit eksekutif yang percaya bahwa model organisasi tradisional dengan budaya paternalistik akan membuat organisasi berjalan efektif. Kita seharusnya segera beradaptasi dalam pergeseran struktur hirarkis ke model fleksibel, yakni kekuatan jaringan kerja tim.

Bukankah Manajer Satu Miliar, Tanri Abeng, bertahun-tahun lalu telah membuat pernyataan penting. Bahwa bila sebuah organisasi ingin berkembang dan berdaya saing, tiada jalan lain selain harus beradaptasi. Era sedang berganti. Sementara masa depan terus dipertaruhkan. Jadi tak ada cara lain selain berubah.

Taman Karema, 28/09/2017

 

(*)