Cerita dari Pengungsian: Melawan Trauma dan Dinginnya Malam

  • 6 Agu 2018
  • Opini
  • Sudirman Al Bukhori
  • 29
Pray for Lombok




DINGIN dan gelap, itulah yang dirasakan lebih dari 200 pengungsi yang berlindung di tenda terpal tanpa dinding dan sekat yang kuat.

Temaram lampu neon tak banyak menerangi lokasi pengungsian. Sementara para pengungsi mencoba beristirahat, tubuh dan pikiran mereka tetap awas dengan guncangan gempa susulan yang datang.

Salah satunya Tiar. Ingatan tentang guncangan gempa susulan membuatnya was-was dan tak bisa tidur. Ia teringat, sesaat setelah guncangan gempa mengejutkannya dan membuat plafon atap rumahnya rubuh, Tiar langsung menyelamatkan diri dan membawa anak serta ibunya keluar rumah.

Beberapa menit setelahnya, rumah itu langsung luluh lantak. Begitupun semua bangunan di sekitarnya.

Tiar dan ratusan pengungsi lainnya tetap memilih untuk bertahan di tenda pengungsian, meskipun masih seadanya. Mereka tak berani untuk kembali ke rumahnya yang kini hanya tinggal separuh dan tak bisa ditinggali.

Walaupun luka-luka di tubuh para pengungsi sudah diobati, namun perlu waktu lama untuk menyembuhkan luka batin dan trauma para pengungsi.

Pray for Lombok

Donasi langsung melalui rekening
BNI Syariah 770000434
atas nama Aksi Cepat Tanggap.

(*)

loading...

Instagram

  • Instagram Image
  • Perjuangan Muh. Dimas Ayogya Julianto hingga juara umum 3 nasional pra yuinor A Grand Indonesia Open Archery Championship
  • Penyerahan hadiah
  • Demi olahraga dan panahan di Sulbar khususnya...lbh baik πŸ‘
  • Bersama coach andalan, pak Andre Vieneth 😍😍😍😍😍

Ikuti Kami...