Cerita dari Pengungsian: Melawan Trauma dan Dinginnya Malam

Opini

DINGIN dan gelap, itulah yang dirasakan lebih dari 200 pengungsi yang berlindung di tenda terpal tanpa dinding dan sekat yang kuat.

Temaram lampu neon tak banyak menerangi lokasi pengungsian. Sementara para pengungsi mencoba beristirahat, tubuh dan pikiran mereka tetap awas dengan guncangan gempa susulan yang datang.

Salah satunya Tiar. Ingatan tentang guncangan gempa susulan membuatnya was-was dan tak bisa tidur. Ia teringat, sesaat setelah guncangan gempa mengejutkannya dan membuat plafon atap rumahnya rubuh, Tiar langsung menyelamatkan diri dan membawa anak serta ibunya keluar rumah.

Beberapa menit setelahnya, rumah itu langsung luluh lantak. Begitupun semua bangunan di sekitarnya.

Tiar dan ratusan pengungsi lainnya tetap memilih untuk bertahan di tenda pengungsian, meskipun masih seadanya. Mereka tak berani untuk kembali ke rumahnya yang kini hanya tinggal separuh dan tak bisa ditinggali.

Walaupun luka-luka di tubuh para pengungsi sudah diobati, namun perlu waktu lama untuk menyembuhkan luka batin dan trauma para pengungsi.

Pray for Lombok

Donasi langsung melalui rekening
BNI Syariah 770000434
atas nama Aksi Cepat Tanggap.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *