Bicara Politik di Masjid Tidak ada Larangan

Nasional

Mapos, Mamuju – Ulama dan Umaro yang seyogya bergandengan tangan untuk saling mengingatkan dan membimbing umat ke jalan yang benar, ternyata tidak semudah meng­ucapkannya.

Hal itu dipicu oleh berbagai interpretasi dan pemahaman yang berbeda menafsirkan fungsi dan peran mesjid karena berbeda sudut pandang dan kepentingan.

Salah satu bentuk perbedaan pemahaman terkait dengan peran dan fungsi Masjid bagi umat Islam sebagai pusat kegiatan yang mengarahkan pada kebaikan dan kemaslahatan umat –tidak terkecuali ekonomi dan politik.
Adalah Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menegaskan bahwa umat Islam tidak dilarang untuk membahas politik di Masjid.

Bahkan Dewan Pakar ICMI Pusat Anton Tabah Digdoyo mempertanyakan batasan serta isi dari ceramah politik di tempat ibadah itu.

Anwar Abbas

Anwar Abbas mengatakan, Islam adalah agama yang menjadi petunjuk bagi manusia terhadap seluruh sisi kehidupan.

“Jadi, bicara masalah politik di masjid tidak dilarang. Jadi orang boleh saja bicara tentang politik. Islam itu agamanya petunjuk bagi manusia terhadap seluruh sisi kehidupannya. Jadi Islam itu bicara ibadah, ekonomi, politik, kehidupan sosial,” katanya seperti dirilis Kiblat.net di Gedung MUI Pusat, Jakarta.

“Apa sih yang ditakutkan pihak-pihak tertentu, kenapa kok ada yang ketakutan,” sambungnya.

Menurutnya, masjid bukan hanya tempat ibadah. Anwar menjelaskan bahwa di masjid, umat Islam bisa mendapatkan pencerahan yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan, termasuk politik.
Namun, ia menegaskan bahwa membicarakan politik tetap harus dengan santun. Tidak dengan menyerang kepribadian seseorang.

“Membicarakan politik di masjid tanpa mempergunjingkan orang, karena itu ghibah, gak boleh. Kalau kita berbicara, hari ini ada kesenjangan ekonomi, gak masalah. Itu fakta,” tukasnya.

Anton Tabah Digdoyo

Anton Tabah Digdoyo menambahkan, jika dikaitkan dengan pilkada, pemilu itu hakekatnya memilih pemimpin dari tingkat kabupaten, kota provinsi hingga presiden dan juga anggota legislatif.

“Di dalam agama Islam, semua telah diatur di kitab suci Al Quran dan Sunnah, karena risalah yang dibawa Nabi terakhir sangat komplit dan detil,” jelas Anton.

“Jangkankan memilih pemimpin, memilih teman karib juga diatur dalam Al Quran harus seiman (Qs.3/118), memilih pasangan diatur harus seiman (Qs.2/221), apalagi memilih pemimpin di mayoritas Muslim juga wajib seiman,” tambahnya.

Karena itulah Anton menilai bahwa larangan ceramah politik di masjid-masjid terkait masalah memilih pemimpin itu keliru.

“Memilih pemimpin harus seiman itu ibadah, bukan muamalat,” tegasnya.

(*)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.