Andika, Dari Petani Untuk Keluarga

Muh. Sudirman Al Bukhori (Wapempred Mamujupos.com)

Muh. Sudirman Al Bukhori (Wapempred Mamujupos.com)

Oleh : Muh. Sudirman Al Bukhori 

Mapos, KESADARAN  bahwa pendidikan begitu penting bagi anak-anaknya dan kewajiban menuntut ilmu menjadi penyemangat bagi Andika untuk memperjuangkan keinginan anaknya menjadi anak yang sukses kedepannya. Tak mengenal apa pekerjaan yang ia lakoni dan tak perduli berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk membiayai sekolah anaknya.

Sejak tahun 2016, anaknya mulai duduk dibangku perkuliahan. Bermodalkan hasil kebun yang didapatkannya ketika musim panen lalu, ia mampu memasok kebutuhan biaya yang harus dibayarnya. Mulai dari pembayaran DPP jurusan Komunikasi yang agak mahal, semua pembayaran dikampus hingga pembayaran uang kos.

Andika adalah seorang petani di sebuah desa yang terletak di kecamatan Rangas, kabupaten Mamuju. Umurnya yang sudah setengah abad tak mengahalangi niat baik anaknya untuk menuntut ilmu. Dia tak pernah bosan menjalankan rutinitas yang sudah lama ia lakoni sejak kecil. Mulai berangkat ke kekebun sebelum matahari terbit kemudian pulang untuk sholat dhuhur dan kembali lagi kekebun sampai sebelum matahari tenggelam.

“Begitulah rutinitas saya setiap hari, kami tak menyebutnya ke kebun melainkan ke kantor. Bukan hanya orang kota saja yang ke kantor. Petani seperti saya juga ke kantor, yakni kebun,” ucapnya dengan sedikit tawa.

Bapak beranak tiga ini tak ingin nasib anaknya berakhir seperti dirinya yang harus putus sekolah sejak Sekolah Dasar lantaran keterbatasan dana. Ia memang lahir dari keluarga miskin pasangan petani Herman (alm) dan Wati (alm). Semua pekerjaan ia lakoni untuk menutupi biaya hidupnya. Mulai menjadi petani, tukang ojek hingga menjadi panggilan buru lepas di desanya.

Jika petani lain akan kaya dengan hasil panennya ketika waktu panen tiba, tidak dengan petani yang satu ini. Pekerjaan yang dilakoninya sebagai panggilan buru lepas di desanya menuntutnya untuk berhutang demi menutupi pembayaran kebutuhan keluarganya. Dia harus rela bekerja keras demi kehidupan yang terbaik untuk anak dan istrinya. Motor Suzuki yang sudah tua yang kadang membantunya selain pekerjaan tersebut selaku buruh lepas. Ya motor itulah yang sering mengantarnya kemana tujuan hidupnya mencari nafkah. Akan tetapi, tak jarang juga ia tak bisa berbuat apa-apa jika sewaktu-waktu musim hujan.

Baginya, tak gampang menjadi seorang petani. Ia harus mampu memutar otak agar hasil panen bisa mencukupi semua kebutuhan hidup. Meskipun hasil panen jika dihitung kelihat banyak, tetapi sebenarnya keuntungan yang didapatkannya tak sebanding dengan modal yang digunakan untuk menanami kembali kebunnya dan perawatannya.

Akankah ada perhatian dari pemerintah kepadanya ???.

(*)