Aktivis Anti Kekerasan: Sulbar Tidak Butuh Oknum Polisi “Sok Jagoan”

Mamuju

Mapos, Mamuju – “Sulawesi Barat tentu tidak butuh oknum polisi yang bermental “barbar” dan “sok jagoan”, sebut Muh. Suprayanto, Aktivis Anti Kekerasan. Minggu (23/9/2018).

Ia mengatakan, ada perasaan miris bercampur marah yang nyaris tak tertahan ketika kita semua menyaksikan sebuah video aksi kekerasan terhadap mahasiswa organisasi FPPI Cabang Mamuju. Video tersebut sempat viral dan beredar luas di media sosial sejak kemarin (22/9/2018).

Dari tayangan video tersebut terekam seorang laki-laki dengan dengan berseragam polisi tampak menjambak, menendang dan memukuli mahasiswa yang sedang menggelar aksi damai menolak kedatangan IMF di Bali pada Oktober mendatang. Aksi itu digelar di Tugu Tani, simpang lima, jalan Ir. Juanda, Kabupaten Mamuju, Sulbar.

Oknum polisi menarik dan menjambak rambut salah seorang mahasiswa.

“Tentu tidak hanya saya, siapa pun yang melihat video ini pasti akan terpantik emosinya, kecuali bagi mereka yang telah menanggalkan rasa kemanusiaan,” ujarnya.

Sebagai warga negara yang taat hukum tentunya kita tidak mendukung dan membenarkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi berpangkat Brigadir yang semestinya menjadi contoh bagi masyarakat.

Apa yang dilakukan oleh oknum polisi tersebut tidak hanya mencoreng wajah kepolisian di negeri ini. Tetapi, juga menambah rentetan panjang arogansi oknum aparat penegak hukum terhadap rakyat yang seharusnya dilindungi dan diayomi. Sulawesi Barat tentu tidak butuh oknum polisi yang bermental “barbar” dan “sok jagoan” sehingga dengan kekuatan yang dimilikinya ia melakukan “penindasan” kepada masyarakat.

“Kita sepakat bahwa aksi penendangan, penjambakan rambut dan pemukulan oleh oknum polisi di Mamuju adalah tindakan melanggar hukum. Tentu akan menjadi aneh ketika di satu sisi pihak kepolisian menyerukan kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri, tetapi di sisi lain, justru oknum polisi pula yang mempraktikkan tindakan tersebut,” terangnya.

Oknum polisi menendang salah seorang mahasiswa.

Ironisnya lagi, lanjut Suprayanto, aksi main hakim sendiri yang melibatkan oknum polisi justru dipertontonkan didepan orang banyak yang berada di lokasi kejadian. Apakah ini menjadi penanda bahwa rasa keamanan telah sama sekali hilang dari benak sebagian aparat ? Jika benar, maka kondisi ini tentunya akan semakin memberi ruang kepada kekalnya kekerasan.

Ia berharap kepada Kapolda Sulbar Brigjen Pol Bajaruddin Djafar an Kapolres Metro Mamuju, AKBP Mohammad Rivai Arvan agar segera memberikan sanksi dan hukuman kepada oknum-oknum polisi yang telah melakukan kekerasan kepada para mahasiswa.

Oknum polisi memukul salah seorang mahasiswa.

“Semoga saja peristiwa ini adalah yang terakhir dan tidak lagi terulang di masa depan. Saya yakin, masih banyak polisi-polisi baik di negeri ini. Jangan sampai hanya karena kelakukan oknum “kurang berpendidikan” ini justru dapat menghilangkan simpati masyarakat terhadap penegak hukum,” kunci Suprayanto.

(toni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *